Target 20 Juta Wisatawan Asing, Menteri Pariwisata Punya Pasukan Khusus

Sabtu, 07 November 2015 – 23:48 WIB
Menteri Pariwisata Arief Yahya. Foto: Jawa Pos

jpnn.com - NEW YORK – Ambisi Menteri Pariwisata Arief Yahya mengejar target 20 wistawan asing pada 2019 kini semakin menyala. Hal itu tak lepas dari keberadaan pasukan khusus.

Mereka ialah para duta besar dan diplomat yang ditugaskan pemerintah bekerja di negara tetangga. Arief sempat berdialog dengan para duta besar dan konsulat di markas PTRI Perutusan Tetap Republik Indonesia pada Perserikatan Bangsa Bangsa, di 325 East 38th  Street, New York.

BACA JUGA: Kabar Gembira! Jazzercise Hadir di Indonesia

“Sisihkan waktu dan perhatian untuk mempromosikan Wonderful Indonesia. Kasih space yang cukup untuk didedikasikan buat membesarkan pariwisata nasional menuju target double 20 juta wisman pada 2019. Saatnya membangun negeri, menggenjot wisman, menciptakan ekosistem yang kondusif di luar negeri, ujungnya menaikkan income dan devisa dari sektor pariwisata,” ujar Arief.

Sebenarnya tidak ada garis komando antara Menpar dengan para duta besar dan diplomat. Tetapi, jika dilakukan, hal itu akan menciptakan semangat

BACA JUGA: Pemerintah Dorong Pengembangan Industri Lampu LED

Indonesia Incorporated.

“Kami senang, ini semacam pencerahan bagi kami dan para diplomat-diplomat muda yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Kami membutuhkan updating seperti ini sebagai bahan referensi untuk berdiskusi ke banyak negara di dunia, yang memiliki perwakilan di PBB. Saat ini ada 193 negara di PBB,” ujar Desra Percaya, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

BACA JUGA: Piaggio Makin Menggurita di Indonesia

Muhamad Anshor, Dubes/Deputi Wakil Tetap RI untuk PBB pun sepakat dengan semangat yang diusung kementerian pariwisata.

“Objek wisata kita seperti Pulau Lombok, itu luar biasa. Lengkap dan bisa dikemas menjadi kelas dunia. Kami setuju juga dengan kerja bersama, karena sector pariwisata memang harus dikeroyok bareng-bareng, tidak mungkin berdiri sendiri. Infrastruktur, kebersihan dan kesehatan, keamanan, transportasi, fasilitas publik, dan promosi harus kompak bersama-sama,” jelas Anshor.

Arief menggambarkan peta Indonesia di kawasan ASEAN yang masih di bawah beberapa negara tetangga tahun lalu. Di antaranya ialah Malaysia yang meraup 27 wisman, Thailand (25 juta) serta Singapura (15 juta). Sedangkan Indonesia baru 9,4 juta.

“Terlalu jauh dibandingkan dengan potensi yang dimiliki. Malu saya, dengan capaian itu. Harus diakui, kami belum berhasil, itulah yang memaksa kita harus melompat dengan target double,” tambah Arief.

 

 

 

 

 

 

Mantan Dirut PT Telkom dan Komisaris Utama PT Telkomsel itu mengaku lebih baik kehilangan muka sekarang, di tengah para pejabat sendiri, daripada dipermalukan ketika performance dan capaian targetnya semakin jauh dari proyeksi.

“Malaysia punya apa? Berapa banyak destinasi? Seberapa cantik pantai dan lautnya? Bandingkan dengan punya kita? Jauh, bumi langit, kita lebih eksotis, lebih cantik, lebih nature, lebih ramah, lebih alami. Faktanya, kita masih kalah,” jelas pengarang buku bertema marketing dan manajemen Paradox  Marketing dan Great Spirit Grand Strategy itu.

Hal yang sama juga terjadi pada Thailand. Menurut Arief, negara berjuluk Gajah Putih itu sebenarnya tak memiliki destinasi wisata seindah Indonesia.

“Alam kita lebih jago. Kota Bangkok sendiri saja, dalam setahun 16 juta wisman. Bali yang sudah paling top dan hebat itu baru 4 juta lho. Potensinya bisa 10 juta, sampai 2016, dengan cara membuka destinasi terintegrasi di Bali Utara,” kata Arief.

Singapura juga dianggap masih kalah jauh dengan Indonesia. Pasalnya, obyek wisata di Singapura merupakan hand made alias ciptaan manusia.

“Kita punya Batam Bintan, yang dekat secara jarak maupun kebudayaanya. Kita memancing di kolam yang banyak ikannya. Kita berpromosi di Singapore untuk Indonesia,” tutur Arief. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Seperti Ini Perjuangan Menjual Sawit ke Pasar Eropa


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler