Teknologi Ini Bisa Bangunkan Lahan Tidur di Indonesia

Selasa, 13 Maret 2018 – 23:44 WIB
Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Budi Indra Setiawan dan Ani Andayani selaku Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur. Foto: Fathan/jpnn

jpnn.com, JAWA BARAT - Impian Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membangunkan lahan tidur di Indonesia sudah di depan mata.

Ini setelah ditemukannya teknologi asal Jepang, Sheet Pipe System yang selama ini dicari oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Budi Indra Setiawan.

BACA JUGA: Kementan Uji Coba Teknologi Pemacu Produktivitas Lahan Rawa

Sheet Pipe System merupakan pipa polietilena yang ditanam dalam tanah untuk mengendalikan kadar air pada suatu lahan pertanian. Teknologi ini berguna untuk mengoptimalisasi lahan kering dan rawa.

Jam menunjukkan pukul 10.00. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kementan di Subang, Jawa Barat tampak sibuk. Mereka hendak melakukan uji coba teknologi Sheet Pipe System, yang diprediksi bakal membangunkan raksasa tidur di Indonesia.

BACA JUGA: Garap Lahan Rawa, Kementan Uji Teknologi asal Jepang

Sejumlah elite Kementan, akademisi dan pelaku usaha pertanian berkumpul di sana. Ada juga dua perusahaan Jepang yang berkontribusi terhadap teknologi Sheet Pipe System yaitu KwouWa dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Mereka semua berkumpul untuk melihat bagaimana instalasi dan cara teknologi itu bekerja.

Sheet Pipe System adalah pipa polypropylene yang ditanam di kedalaman 40 centimeter. Pipa memiliki pori-pori untuk menyerap dan mengeluarkan air.

BACA JUGA: Mentan Amran Depak Importir Nakal

Pemasangan pipa menggunakan alat pembentuk pipa (paper) yang kemudian ditarik dari dalam tanah secara horizontal oleh traktor. Pada ujung lubang drainase dipasang tutup pengatur air dan ujung lainnya dipasang pipa yang menjulang ke atas, berfungsi sebagai lubang ventilasi.

Pipa ini didesain khusus untuk tahan di segala cuaca dan benturan dalam tanah. Ketahanan asam dan alkali sangat baik sehingga tidak perlu khawatir dipengaruhi korosi dan pupuk umum dalam tanah. Tingkat penyerapan air pun mencapai 91 persen. Bukan hanya itu, pipa diprediksi bisa bertahan selama 20 tahun lebih.

Mereka yang melihat pemasangan instalasi pipa itu tercengang. Sebab, instalasi pipa tidak harus mengeruk tanah dengan alat berat.

Instalasi Sheet Pipe System. Foto: Fathan/jpnn

Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Budi Indra Setiawan menuturkan telah mencari teknologi ini tiga tahun lamanya. Budi mengaku awalnya mencari teknologi untuk mengentaskan masalah lahan di Indonesia ini dengan susah payah.

"Saya khusus ditugaskan Pak Amran untuk menemukan teknologi yang bisa membangunkan lahan rawa. Kita, Indonesia diperkirakan memiliki lahan rawa sekitar 20 juta hektare. Target kami membangunkan empat juta hektare dengan teknologi ini," kata Budi di sela-sela uji coba teknologi itu.

Guru Besar Pertanian di Institut Pertanian Bogor ini menilai, teknologi termutakhir di sektor pertanian ini sangat mudah diaplikasikan. Untuk setiap seratus meter pengerjaan pipa bisa diselesaikan dalam satu menit. "Kalau barang ini ada di Indonesia, pasti produktivitas naik," kata dia meyakinkan.

Yang jadi kendala adalah menghadirkan traktor pemasang pipa, Mole Drainer SP30 itu. Sebab, traktor itu didesain khusus oleh Jepang dengan teknologi tinggi yang bahkan mengalahkan teknologi di mobil BMW.

Mole Drainer dapat bekerja meski di tanah yang sangat lunak. Badan traktor yang lebarnya 2,98 meter itu dilengkapi dengan kamera belakang sehingga instalasi pipa dapat dicocokkan ukurannya.

"Dalam traktor itu ada sensor dan kamera di setiap sudut sehingga presisi setiap pipa teratur dan lurus," jelasnya. Memang, suara mesin traktor itu terdengar sangat halus, sehingga ramah lingkungan.

Namun, pria yang meraih gelar profesor di Universitas Tokyo ini optimistis traktor itu bisa diadakan di Indonesia. Dia mengatakan, Kementan bisa menggandeng perusahaan tertentu untuk bekerja sama. "Tinggal diatur berapa harga pemasangan per meter," tambahnya.

Masalah teknologi ini sebenarnya sudah klir. Namun, pihak Kementan masih melakukan studi kelayakan selama tiga tahun sebelum dinyatakan pantas untuk digunakan. Teknologi ini harus dijamin bisa berproduksi di lahan kering dan rawa lalu berfungsi di musim hujan dan kemarau.

"Di samping lahan simulasi ini ada juga lahan tradisional di sampingnya. Nanti kami lihat mana yang lebih produktif," kata dia.

Namun dia meyakini teknologi ini bisa menunjang ekonomi petani. Waktu kerja, tenaga, pengaturan air bahkan petani sejak dini bisa mengatur waktu panen dan tanam tanpa tergantung sepenuhnya dengan iklim. Mesin-mesin pertanian seperti traktor pun bisa masuk di lahan pertanian tanpa takut tanahnya ambles.

"Ini adalah bagian dari sejarah, masa depan kita sudah terbayang bagaimana memperbaiki infrastruktur lahan," kata dia.

Sementara itu Ani Andayani selaku Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur menambahkan, teknologi ini tergolong baru. Sejauh ini baru Jepang dan Vietnam yang menggunakannya. Karena itu, untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, negara tidak boleh menunda menggunakan teknologi ini.

"Baru pada eranya Pak Amran ini dibangunkan lahan-lahan seperti itu. Dulu bagaimana IP saja dan optimalisasi lahan. Kalau cetak sawah sulit, lahan rawa dan kering suatu target yang diprioritaskan. Sekaramg sudah dibangunkan sama Kemendes itu 1,4 juta hektare. Jadi kami menuju empat juta hektare," tutup Ani. (tan)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mentan Sebut Sukses Presiden Jokowi Jadi Keberhasilan UGM


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler