Terharu, Jaya Suprana Minta Jangan Sakit

Jumat, 12 April 2013 – 15:53 WIB
BAKAT LANGKA: Jenny Stephanie (kanan) dan guru olah vokalnya, Zhang Xiao Jia sebelum unjuk kebolehan di hadapan Jaya Suprana, bos MURI. Foto: Dian Putra/Jawa Pos
INDONESIA punya penyanyi opera berbakat yang masih belia. Dia adalah Jenny Stephanie, 18. Mahasiswi asal Surabaya itu bersiap mencatatkan diri sebagai penyanyi dengan tiga jenis suara sopran satu-satunya di negeri ini.
------------
BAYU PUTRA, Jakarta
------------
Ruang latihan Jaya Suprana School of Performing Arts di Mall of Indonesia Kelapa Gading, Jakarta Utara, mendadak berubah menjadi panggung pertunjukan opera 30 Maret lalu. Tentu bukan opera sabun, melainkan pertunjukan opera seperti di Eropa.

Saat itu seorang gadis, Jenny Stephanie, sedang menunjukkan kemampuannya dalam berolah vokal di hadapan bos Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) Jaya Suprana.

Siang itu Jaya memasuki ruang latihan dengan agak malas. Mengenakan sarung dan selendang khasnya, pria berkacamata tersebut duduk di sofa sembari menopang dagu setelah mempersilakan Jenny Stephanie menunjukkan kemampuannya. Diiringi seorang pianis menggunakan keyboard, perlahan Jenny maju ke tempatnya bernyanyi dan membuka penampilan dengan lagu Signore Ascolte karya G. Puccini.

Nuansa panggung opera langsung terasa lewat suara jernih Jenny yang kala itu tidak menggunakan mikrofon untuk mengeraskan suaranya. Lantunan lagu-lagu karya maestro klasik Eropa dinyanyikannya dengan "enteng". Mulai lagu dengan tipe sopran rendah hingga yang melengking.

Ekspresi wajah Jaya tampak berubah kala mendengar lantunan lagu tersebut. Pria kelahiran Denpasar, 64 tahun silam, itu mengangkat dagu yang semula ditopang dengan tangan kiri. Seusai melantunkan tiga lagu, Jenny ditantang Jaya untuk menyanyikan Quando Men Vo juga karya G. Puccini. Di pertunjukan aslinya, lagu tersebut berdurasi tiga menit.

Ekspresi sedikit kaget terlihat dari wajah gadis itu. Namun, dengan mantap dia mengangguk. Setelah mengatur kembali napasnya, Jenny memulai menyanyikan lagu pesanan tersebut. Ekspresi wajah Jaya makin cerah selama Jenny melantunkan lagu itu.

Jenny terlihat enjoy saat bernyanyi. Dia tak tampak ngotot. Di beberapa nada tinggi nan panjang, dia mampu melantunkannya dengan indah. Ruang yang cukup luas itu seakan berubah menjadi panggung opera.

Setelah Jenny tampil, keluarlah kata-kata pujian dari Jaya. "Saya surprised, saya terharu," ujarnya sembari tepuk tangan.

Menurut Jaya, lagu tersebut sebenarnya memiliki kesulitan tingkat tinggi bila dibandingkan dengan lagu-lagu opera lainnya. Bisa dikatakan, lagu itu merupakan puncak dari seluruh lagu opera bertipe sopran.

Karena itu, dia amat senang begitu tahu Jenny bisa menyanyikan lagu tersebut dengan indah. Saking senangnya, Jaya meminta Jenny mengulangi penampilannya di ruang lain yang dilengkapi piano klasik.

"Saya minta kamu jangan sakit waktu pertunjukan nanti. Jangan sakit," ucapnya berulang-ulang kepada Jenny.

Pertunjukan kecil itu merupakan langkah awal sebelum Jenny tampil untuk mencatatkan namanya di buku rekor Muri dengan suara indahnya. Rencananya 7 Mei mendatang Jenny tampil di hadapan publik untuk menunjukkan kemampuannya. Kemampuan yang jarang dimiliki penyanyi Indonesia.

Di usianya yang terbilang muda, 18 tahun, Jenny telah menguasai tiga tipe suara sopran, dari yang paling rendah hingga yang tertinggi. Yakni, mezzo soprano, lirico soprano, dan coloratura soprano. Mezzo soprano merupakan jenis suara yang selama ini diyakini banyak kalangan awam sebagai suara alto.

Jenny mengatakan, perempuan Indonesia, bahkan Asia, tidak memiliki suara alto. Suara yang mirip dengan suara laki-laki itu hanya ada di Eropa dan sebagian Amerika. "Suara terendah perempuan Indonesia itu mezzo soprano," tutur mahasiswi Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya tersebut.

Kemampuan itu tidak didapat Jenny secara alami. Dia berlatih selama tiga tahun sebelum akhirnya percaya diri untuk mencoba memecahkan rekor sebagai perempuan Indonesia termuda yang menguasai tiga jenis suara tersebut dalam bernyanyi.

Jenny menuturkan, sejak kecil dirinya suka bernyanyi. Apalagi, sang ayah dikenal sebagai pendeta sehingga Jenny jadi terbiasa dengan paduan suara gereja dan perlahan menyukai musik klasik. Gadis yang berulang tahun setiap tanggal 8 Juni itu mulai serius berlatih olah suara pada usia sepuluh tahun.

Meski begitu, dia sempat putus asa saat latihan. Pasalnya, beberapa tahun berlatih, dia hanya mampu bernyanyi dengan suara asli tanpa teknik. Alhasil, dia pun kesulitan saat harus menyanyi dengan suara tinggi. Suaranya jarang bisa keluar pada nada rendah. 

Saat berusia 16 tahun, Jenny diperkenalkan dengan seorang guru vokal asal Tiongkok bernama Zhang Xiao Jia. Zhang melihat potensi yang ada dalam pita suara Jenny. Dia pun melatihnya untuk menguasai tiga jenis suara itu.

Meski sama-sama berjenis suara sopran, ketiga jenis suara tersebut jelas berbeda. Telinga orang Indonesia yang lebih sering mendengar musik pop agak sulit membedakan yang mana mezzo soprano, lirico soprano, atau coloratura soprano. Perbedaan itu baru tampak saat si penyanyi melantunkan lagu klasik khas opera.

"Dari latihan itu saya sadar, selama ini saya kurang terarah dalam berlatih vokal. Sekarang suara saya menjadi lebih spesifik," lanjut putri pasangan Imanuel F. Daely dan Soteria Harefa tersebut.

Satu hal penting dipelajari Jenny, yakni bernyanyi bukan sekadar mengeluarkan suara. Namun, terkait juga dengan alur pikiran.

Latihan yang dilakoni Jenny juga cukup rumit. Sebab, Jenny yang asli Nias, Sumatera Utara, itu sama sekali tidak bisa berbahasa Mandarin. Sementara itu, vokal bahasa Indonesia sang guru masih patah-patah. Beberapa kali terjadi miskomunikasi. Namun, lama-kelamaan dia mulai terbiasa hingga akhirnya mampu menguasai tiga jenis suara sopran tersebut.

Jenny mengaku bingung bagaimana menjelaskan kemampuannya tersebut. "Kata Lau Tse (panggilan Jenny kepada Zhang, Red), pita suara saya itu nempel ke atas. Gimana ya menjelaskannya," ujarnya sembari tersipu.

Dampaknya pun luar biasa. Tahun lalu Jenny dibawa Zhang ke Wina, Austria, dan diikutsertakan dalam salah satu pertunjukan opera. Apresiasi penonton sangat bagus sehingga meski pertunjukan telah selesai, penonton belum mau beranjak dari tempat duduk.

Jenny dan grup vokal dari Indonesia yang juga dibawa Zhang mendapat pujian dari penyelenggara. "Rencananya tahun depan kami mau kembali untuk konser di sana," lanjut bungsu dua bersaudara itu.

Zhang yang mendampingi Jenny menambahkan, kemampuan vokal yang dimiliki muridnya tersebut tergolong langka di Indonesia. "Saat ini pesaingnya di Indonesia belum ada," terangnya. Bahkan, di Eropa penyanyi opera seusia Jenny tak banyak. Umumnya berusia di atas 25 tahun.

Zhang yakin banyak orang Indonesia yang memiliki potensi seperti Jenny. "Saudara kita di Indonesia Timur itu banyak yang punya suara mirip Jenny. Tapi, mereka tidak dilatih sehingga suaranya tidak keluar," tandas Zhang. (*/c10/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Sering Temukan Peluru dan Granat Asap

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler