Terima Gelar Adat dari Kasepuhan Majan, Muhadjir Effendy Bergelar Raden Pangeran Anom

Sabtu, 30 September 2023 – 13:39 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dianugerahi gelar Raden Pangeran Anom (R.P.A.) dari Kasepuhan Majan, Tulungagung. Foto: dok Kemenko PMK

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dianugerahi gelar Raden Pangeran Anom (R.P.A.) dari Kasepuhan Majan di Serambi Masjid Kasepuhan Majan Tulungagung Jawa Timur, pada Jumat (29/9).

Gelar disematkan secara langsung oleh Ketua dan Dewan Sesepuh Adat Kasepuhan Majan.

BACA JUGA: Peringatan Maulid Nabi, Menko Muhadjir: Tak Sekadar Perayaan

Adapun gelar itu merupakan bentuk penghargaan kepada keturunan keluarga Sentono Dalem Majan yang telah berjasa kepada negara serta dinilai memiliki jiwa penuh semangat serta amanah pada tanggung jawab yang diemban.

Muhadjir Effendy mengaku merasa terhormat dapat menerima gelar yang diberikan oleh Kasepuhan Majan.

BACA JUGA: Menko Muhadjir Apresiasi BPJS Ketenagakerjaan Lindungi Seluruh Pekerja ITBM Polman

Gelar itu dapat menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus memberikan tindakan pelayanan yang terbaik bagi seluruh masyarakat.

“Saya senang sekali dengan penghormatan yang diberikan ini. Marilah kita terus nguri-nguri, melestarikan, dan memajukan apa yang telah dirintis oleh pendahulu kita,” ujar Muhadjir sesaat setelah mengikuti prosesi penganugerahan gelar adat.

Muhadjir diketahui merupakan bagian dari keluarga besar Dzuriyah Kyai Ageng Basyariyah Sewulan atau Raden Bagus Harun. Nenek moyang Muhadjir yang bernama Raden Qosim (menantu Kiai Ageng Basyariyah) menikah dengan Nyai Lidah Hitam atau Siti Fatimah Binti K.A. Basyariyah. Keduanya merupakan pendiri dari Perdikan dan Ponpes Tawangsari Tulungagung.

Dalam kesempatan itu, Muhadjir mengajak para pemangku adat dan raja-raja sultan se-Nusantara untuk terus berperan peran aktif dalam memajukan kebudayaan dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Dia berharap pemangkut adat berperan memelihara budaya dan identitas lokal, menguatkan pendidikan, dan kesadaran sejarah, serta mendukung pembangunan lokal melalui sumber daya yang dimiliki.

Muhadjir menilai pusat-pusat perdikan, kerajaan, hingga pondok pesantren sejak dahulu telah menjadi sumber tatanan hidup untuk membangun nilai-nilai adat, tata krama, sopan santun, dan istiadat dalam masyarakat.

Dia meyakini kemajuan bangsa dapat dimulai dari memperkokoh dan memperkuat tradisi yang dimiliki.

“Salah satu yang telah dikembangkan di Perdikan Majan ini bentuk dari upaya untuk membangun nilai-nilai yang adiluhung yang tetap bersandar kepada nilai-nilai lokal di Tulungagung,” ucap Muhadjir.

Prosesi penganugerahan itu nampak disaksikan oleh Pj. Bupati Tulungagung Heru Suseno, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Fauzan, keluarga besar Kasepuhan Sentono Dalem Perdikan Majan, para anggota Forkopimda Kabupaten Tulungagung, serta para ketua lembaga adat setempat.

Selepas prosesi penyematan gelar adat, Muhadjir turut berziarah ke Makam Sentono Dalem yang masih berada di area lokasi kompleks Masjid Kasepuhan Majan untuk melakukan doa bersama dan prosesi tabur bunga di makam para leluhur keluarga Sentono Dalem.(mcr10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler