Ternyata ini yang Membuat Tren Minum Kopi Terus Tumbuh

Minggu, 12 Desember 2021 – 22:23 WIB
Komunitas pecinta kopi 'Barista Indonesia' menggelar diskusi bertajuk 'Budaya Pecinta Kopi dan Gaya Hidup Urban di Kedai Kopi'. Foto: Ist for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Co Founder Barista Harry Setiadi mengatakan tren minum kopi di kedai kopi antara lain dipengaruhi harga yang makin terjangkau.

"Selain itu, juga dipengaruhi keberagaman rasa kopi yang ada," ujar Harry pada diskusi yang digelar Komunitas pecinta kopi, Barista Indonesia secara virtual, Minggu (12/12).

BACA JUGA: 3 Manfaat Rutin Minum Kopi Campur Telur Ayam Kampung dan Madu, Bikin Suami Makin Ganas di Atas Ranjang

Pandangan senada juga dikemukakan owner Notificoffee, Dwi Kurnia pada acara bertajuk 'Budaya Pecinta Kopi dan Gaya Hidup Urban di Kedai Kopi'.

Dia menilai tren minum kopi di kedai kopi juga dipengaruhi sudut pandang bahwa minum kopi sebagai pelepas lelah, sambil bertegur sapa dengan teman.

BACA JUGA: Vaksinasi di Sultra Belum Mencapai 50 Persen, Mendagri Ingatkan Ali Mazi

"Minum kopi tidak hanya melibatkan kebutuhan dosis kafein belaka, melainkan kegiatan psikis yang mengukuhkan identitas individu atau komunitas di dalamnya," katanya.

Dwi lebih lanjut mengatakan berkunjung ke kedai kopi sudah menjadi gaya hidup urban.

BACA JUGA: Kabar Baik Bagi Warga DKI Terkait Libur Nataru, Simak

Meski demikian, dalam hal ini perokok dan nonperokok cenderung berkumpul dalam satu ruangan.

Nonperokok terkesan dituntut menjadi lebih toleran, meski menyadari risiko dari asap rokok.

Menurut Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo, perokok dan nonperokok sebenarnya mengetahui dampak buruk rokok bagi kesehatan.

Namun, cenderung mengabaikan dan menyepelekan hal tersebut.

Penelitian Universitas Gajah Mada sebelumnya menunjukkan pengendalian perilaku merokok dan minum kopi di kedai kopi masih lemah.

"Oleh karena itu, sosialisasi harm reduction adalah program yang dirancang sebagai upaya edukasi terhadap masyarakat mengenai dampak dan bahaya merokok."

"Baik itu bagi diri sendiri serta lingkungan atau orang-orang terdekat yang terkena asapnya serta sosialisasi strategi atau cara untuk dapat mengontrol diri dengan pengurangan risiko bahaya yang bisa diaplikasikan oleh setiap perokok," kata Ariyo.

Contoh implementasi dari harm reduction atau pengurangan bahaya di antaranya penggunaan helm, eco-driving, energi yang terbarukan, plastik daur ulang dan produk tembakau alternatif.

“Penggunaan produk tembakau alternatif tidak sepenuhnya bebas risiko, tetapi produk ini mampu mengurangi risiko hingga 90 persen dan pengurangan bahaya asap bagi pengunjung kedai kopi yang tidak merokok," katanya.(gir/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler