Ternyata Sampah Plastik Low-Value Malah Menguntungkan Pemulung 

Senin, 26 Juni 2023 – 19:56 WIB
Vice Chairwoman IPR Amelia Mara, Ketum IPI Pris Polly, dan Circular Economy Sr. Specialist Chandra Asri Nicko Setyabudi menjadi i narasumber diskusi bertajuk Kontribusi Industri Daur Ulang terhadap Plastik Low-Value di Indonesia, Senin (26/6). Foto Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Industri daur ulang menjadi salah satu solusi mengatasi permasalahan sampah plastik, khususnya plastik low-value.

Ekosistem industri daur ulang tidak terlepas dari pekerja-pekerja di sektor informal yang setidaknya melibatkan tiga pemain utama, yaitu produsen, konsumen, dan sektor industrinya.

BACA JUGA: Berkomitmen Peduli Lingkungan, Pegadaian Luncurkan Aplikasi Digital Bank Sampah

Vice Chairwoman Indonesian Plastics Recyclers (IPR) Amelia Maran mengatakan banyak stigma negatif beredar di masyarakat terkait plastic-low value yang tidak bisa didaur ulang dan tidak berharga. Namun, ternyata bagi para pemulung, plastik jenis ini menjadi sumber pendapatan dan memberikan kesejahteraan bagi mereka.

"Pengangguran dan pendatang dengan pendidikan rendah mencari penghasilan menjadi pengumpul sampah plastik," kata Amelia dalam diskusi bertajuk Kontribusi Industri Daur Ulang terhadap Plastik Low-Value di Indonesia, Senin (26/6).

BACA JUGA: Kebutuhan PPPK Guru 601.174, Usulan Formasi 2023 Cuma 278.102, Nunuk Sentil Pemda

Data Kemenperin menyebutkan industri daur ulang telah menyerap tenaga kerja mulai dari pemulung yang populasinya mencapai lebih dari 3 juta orang, sekitar 160 ribu pengepul, 100 ribu orang di sektor pemasok, dan lebih dari 60 ribu tenaga kerja di sektor pengolah skrap plastik. 

Dia menambahkan banyak terjadi kesalahan informasi terkait plastik low value. Sebab, jika dikelola dengan baik akan mendatangkan penghasilan ekosistem daur ulang.

BACA JUGA: Ditelepon Ganjar soal Keluhan Warga Jakarta, Heru Budi Justru Sedang Melakukan Ini

Kehadiran industri daur ulang plastik juga berperan dalam mengalihkan sampah plastik low value di TPA serta mendukung target Indonesia untuk mengurangi 70 persen sampah plastik di laut pada 2025. 

Di Indonesia, sampah plastik juga sudah menjadi komoditas bisnis dan sudah terbentuk komunitas yang mampu memberikan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.

Pada kesempatan sama, Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Pris Polly menambahkan peran dari pemulung di TPST Bantargebang mampu mengurangi sampah plastik low value sebanyak /- 1.600 ton per hari.

Selain plastik low value mudah didapat, volumenya juga cukup besar dan lebih singkat proses pemilahannya walaupun harganya rendah, tetapi bisa mendatangkan keuntungan bagi pemulung sampah.

Dia berharap dari kegiatan ini, pemulung bisa diakui menjadi salah satu pahlawan lingkungan. "Dengan begitu, kami bisa mendapatkan fasilitas jaminan sosial, seperti pekerja formal, seperti jaminan sosial, peningkatan usaha berbasis KUP dan KIP serta kerja sama berkelanjutan untuk kesejateraan pemulung di Indonesia,” ujar Pris Polly.

Di tempat yang sama, Circular Economy Sr. Specialist PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (Chandra Asri) Nicko Setyabudi mengapresiasi peran industri daur ulang di Indonesia terutama pemulung yang menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah di Indonesia. 

Dia percaya bahwa industri daur ulang kini bisa dilakukan dengan kolaborasi, seperti Chandra Asri yang berkolaborasi menciptakan fasilitas pengelolaan sampah yang terintegrasi bersama dengan masyarakat.

Di Cilegon, Chandra Asri membina fasilitas industri daur ulang untuk menjalankan program berkelanjutan berbasis ekonomi sirkuler, yaitu Industri Pengelolaan Sampah Terpadu-Atasi Sampah, Kelola Mandiri (IPST ASARI).

Terhitung hingga akhir tahun 2022, fasilitas IPST ASARI telah mengelola 21.024 kg sampah plastik dan menghasilkan 8.204 liter bahan bakar minyak (PLUSRI). 

Di Anyar, Chandra Asri juga membina program SAGARA yang mengedukasi nelayan, masyarakat wilayah pesisir, dan lingkungan sekitarnya mengenai pentingnya pemilahan sampah dari sumber guna mencegah sampah bocor ke laut. 

Melalui SAGARA, sampah plastik bernilai ekonomi tinggi serta kertas, logam/besi, dan beling dikumpulkan dan dikonversi menjadi tabungan senilai rupiah. 

"Sampah plastik bernilai ekonomi rendah, seperti sampah kantong keresek, disalurkan dan diolah oleh IPST ASARI menjadi bahan bakar minyak, untuk kemudian didistribusikan kembali untuk keperluan masyarakat dan UMKM di Desa Anyar," tutur Nicko Setyabudi. (esy/jpnn)


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler