Teror di Kota Paris Berakhir

Penyerbuan Serentak Tewaskan Seluruh Teroris

Sabtu, 10 Januari 2015 – 06:16 WIB
Polisi khusus antiteror Prancis menyudahi aksi teroris di Paris. Foto: istimewa

jpnn.com - PARIS - Polisi khusus antiteror Prancis akhirnya menyudahi penyanderaan yang dilakukan teroris di Paris. Aksi penyerbuan serentak ke dua lokasi penyenderaan teroris berbeda meraih sukses besar. Seluruh teroris yang menjadi target tewas. Namun kondisi sandera sampai berita ini diturunkan pukul 24.00 belum bisa dikonfirmasi.

Penyerbuan pertama menewaskan dua bersaudara yang diburu karena membunuh 12 orang dalam serangan ke kantor majalah satir Charlie Hebdo Rabu (7/1). Pasukan khusus antiteror itu menyerbu setelah melakukan pengepungan di sebuah pabrik sejak pagi.

BACA JUGA: Dua Bersaudara Penyerang Charlie Hebdo Tewas Ditembak Polisi

Tersangka kakak beradik Cherif Kouachi, 32, dan kakaknya, Said, 34, bersembunyi di sebuah gudang pabrik percetakan di Kota Dammartin-en-Goele dan menyekap seorang sandera. Suara tembakan dan ledakan terdengar dari gudang tersebut ketika polisi antiteror mulai menyerbu. Sandera berhasil dibebaskan, namun sampai berita ini diturunkan, belum disebutkan bagaimana kondisinya.

Di tempat lain, dalam waktu yang hampir bersamaan, polisi juga melumpuhkan teroris bersenjata lain yang menyekap sedikitnya lima orang. Tersangka yang diketahui bernama Amedy Coulibaly, 32, tewas dalam penyerbuan. Sementara itu, hingga tadi malam, pukul 24.00, empat sandera dikabarkan tewas.

BACA JUGA: Tiga Teror Cekam Kota Paris

Teror memang mencengkeram ibu kota Prancis itu dalam tiga hari terakhir. Salah satu megapolitan di Eropa itu berada dalam situasi mencekam setelah tiga tersangka teroris menyekap para sandera di dua tempat terpisah di dalam dan pinggir kota Jumat (9/1).

Teror tersebut adalah lanjutan drama pembunuhan 12 orang di kantor redaksi majalah satir Charlie Hebdo Rabu (7/1) dan pembunuhan seorang polwan Kamis (8/1) yang dilakukan orang-orang berbeda. Dua tersangka penyerangan kantor Charlie Hebdo, yaitu Cherif Kouachi, 32, dan kakaknya, Said Kouachi, 34, sebelum tewas terkepung di sebuah gudang pabrik percetakan di Kota Dammartin-en-Goele, pinggiran Paris.

BACA JUGA: Rentetan Insiden Charlie Hebdo, Masjid di Prancis Dilempar Granat

Saat terpojok, dua pria bersenjata tersebut menyandera seorang staf percetakan.”Tim juru runding kepolisian sempat berbincang dengan pelaku melalui telepon. Kepada kami, para pelaku menegaskan bahwa mereka ingin mati sebagai martir,” kata salah seorang pejabat pemerintah yang merahasiakan namanya.

Selama negosiasi berlangsung, situasi di kawasan industri yang lokasinya tidak jauh dari Bandara Charles de Gaulle itu berubah sangat cepat. Para penembak jitu terlihat mengambil posisi siaga di atap-atap bangunan. Polisi dengan pakaian antihuru-hara dilengkapi tameng dan senjata berjaga di sekitar lokasi penyanderaan. Sejumlah helikopter pun terus berpatroli di dekat percetakan.

Dalam hitungan menit, Dammartin-en-Goele yang biasanya ramai oleh suara mesin pabrik dan aktivitas warga menjadi senyap. Kawasan berpenduduk sekitar 8.000 orang itu tak ubahnya medan perang. ”Kota kami terkepung. Kami terpenjara di dalam rumah masing-masing dan hanya bisa mendengar suara bising baling-baling helikopter,” kata Michel Carn, penduduk setempat.

Adalah Didier, salah seorang salesman pada percetakan yang dikenal sebagai CTD Printing itu, yang kali pertama mengenali Kouachi bersaudara. Saat itu dia sedang menggelar pertemuan bisnis dengan kliennya, Michel. ”Saya kaget melihat dua pria bersenjata Kalashnikov masuk ruangan. Mereka berdiri di sebelah klien saya. Saya pikir mereka polisi,” ujarnya.

Tak lama kemudian, Michel menyuruh Didier meninggalkan ruangan. Dua pria bersenjata itu juga menyuruh Didier pergi. Awalnya dia tidak curiga terhadap dua pria tersebut. Tapi, saat salah seorang pria mengatakan bahwa mereka tidak membunuh warga sipil, Didier baru sadar ada yang salah. ”Setelah berhasil keluar dari gedung itu, saya segera menelepon polisi. Saya rasa Michel telah menjadi sandera,” ungkapnya.

Polisi pun berdatangan ke lokasi. Setelah memastikan dua pelaku penyanderaan itu Kouachi bersaudara, aparat mengerahkan ambulans dan pemadam kebakaran.

Sementara itu, penyanderaan di Kosher dilakukan sendirian oleh Amedy Coulibaly. Di awal aksinya, pria berkulit hitam tersebut melepaskan tembakan dan berkata, ”Kalian semua tahu siapa saya?”

Polisi mengerahkan tim SWAT untuk mengepung pelaku di kawasan Porte de Vincennes tersebut. Selain Coulibaly, aparat berfokus pada seorang perempuan bernama Hayat Boumeddiene yang diduga kuat sebagai komplotan pelaku. Kepada aparat, Coulibaly mengklaim kenal dengan Kouachi bersaudara dan mengancam membunuh para sandera jika polisi menyerbu dan meringkus Kouachi bersaudara.

Meski sebagian besar aparat berfokus pada penyanderaan, investigasi terhadap Kouachi bersaudara tetap berjalan. Belakangan diketahui, Cherif dan Said sama-sama berada dalam daftar individu yang tidak boleh masuk AS. Selama bertahun-tahun, kiprah kriminal mereka juga telah menjadi perhatian intelijen. Bahkan, Cherif pernah mendekam di penjara karena terbukti terlibat terorisme.

Sejauh ini aparat telah mengamankan sembilan orang yang diduga berkomplot dengan Kouachi bersaudara. Mereka tertangkap di beberapa wilayah berbeda. Selain itu, polisi telah menginterogasi sedikitnya 90 orang terkait aksi teror di kantor redaksi Charlie Hebdo. (hep/c9/kim/jawapos.com/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Naik Lift Harus Bayar, Bocah-bocah SD Menangis


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler