Terungkap, Trump Paksa Pengacaranya Bohongi Kongres

Senin, 21 Januari 2019 – 02:43 WIB
Bekas pengacara Donald Trump, Michael Cohen. Foto: AP

jpnn.com, WASHINGTON - Sebagai presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump punya banyak masalah. Namun, tidak ada masalah yang lebih pelik dari Michael Cohen. Kini isu yang melanda penguasa Gedung Putih itu bukan sekadar soal politik atau SARA, melainkan kriminal.

Trump pernah melontarkan ancaman terhadap Pemimpin Tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong-un. Dia juga pernah melecehkan negara-negara di Benua Afrika dengan istilah shithole (lubang kakus).

BACA JUGA: Trump Pesta Hamburger, Bush Sumbang Pizza untuk Pegawai Terimbas Shutdown

Dalam sebuah kesempatan, dia keceplosan soal hobi melecehkan perempuan. Bukan hanya itu. Dia juga membuat AS mengalami shutdown parsial terlama sepanjang sejarah.

Namun, semua itu tidak membuat Trump berubah. Kecuali, Cohen. Mantan pengacara pribadi suami Melania tersebut membuat Trump kelabakan dengan mengakui semua dakwaan pada akhir tahun lalu. Dia bahkan telah dijatuhi vonis tiga tahun penjara karena terlibat dalam kolusi tim kampanye Trump dan Rusia dalam merekayasa Pilpres 2016.

BACA JUGA: Ngambek, Trump Jegal Lawatan Kongres AS ke Luar Negeri

BACA JUGA: Ngambek, Trump Jegal Lawatan Kongres AS ke Luar Negeri

Selain itu, Cohen mengaku telah memberikan kesaksian palsu. Itu pula yang kini sedang menjadi buah bibir publik AS. BuzzFeed News melaporkan bahwa Cohen memberikan keterangan yang tidak benar di hadapan Kongres AS tentang proyek realestat Trump di Moskow, Rusia.

BACA JUGA: Dungu

Kamis malam (17/1) media itu menyebut Trump sebagai individu yang memerintah Cohen berbohong di depan Kongres AS.

Jumat malam (18/1) jaksa khusus Robert Mueller membantah keras klaim tersebut. "Laporan BuzzFeed tentang kesaksian Michael Cohen di hadapan Kongres AS tidaklah akurat," ungkap Peter Carr, juru bicara Mueller, sebagaimana dilansir The Guardian. Itu merupakan sanggahan resmi perdana Mueller sejak penyelidikan kasus dugaan kecurangan Pilpres 2016 bergulir sejak 2017.

Menanggapi bantahan itu, Pemimpin Reaksi BuzzFeed News Ben Smith bergeming. "Kami tetap berpegang teguh pada laporan kami dan para sumber yang menginformasikan semua itu. Karena itu, kami mendesak jaksa khusus (Mueller) memerinci bantahannya," cuitnya di Twitter.

Bagi Trump, Cohen adalah duri dalam daging. Mantan orang kepercayaannya itu kini menjadi justice collaborator FBI dalam investigasi skandal Pilpres 2016.

Beberapa kali dia mengutarakan kesaksian kontroversial tentang Trump. "Saya menyesal sudah setia kepada orang yang tidak pantas mendapatkannya," tegas Cohen tentang Trump sebagaimana dilansir Associated Press.

Sampai saat ini, sudah ada lima orang dalam Trump yang berada di tangan Mueller. Mereka adalah George Papadopoulos, Paul Manafort, Rick Gates, Michael Flynn, dan Cohen. Namun, yang disebut terakhir itulah yang paling banyak buka suara tentang Trump.

"Tuduhan bahwa seorang presiden menyuruh saksi memberikan keterangan palsu di hadapan komite sama seriusnya dengan upaya menghalangi penyelidikan," ujar Ketua Komite Dewan Perwakilan AS Adam Schiff.

Dia pun langsung memerintahkan investigasi mendalam soal dugaan itu. Sanggahan Mueller terkait kebohongan Cohen tersebut tidak lantas membuat rencana penyelidikan batal.

Laporan BuzzFeed News merupakan laporan kedua di awal tahun. Laporan pertama berkaitan dengan suap terhadap perusahaan teknologi untuk meretas data.

Perusahaan itu adalah RedFinch Solutions LLC. Perusahaan milik John Gauger tersebut diminta mengutak-atik dua polling online agar menjadikan Trump pemenang dalam survei. Namun, upaya tersebut gagal. "Semua upaya itu benar-benar atas perintah dan untuk keuntungan Trump," ungkap Cohen sebagaimana diberitakan BuzzFeed News.

Jika Trump terbukti memerintah Cohen berbohong, Partai Demokrat bisa mengajukan pemakzulan. Memang, konstitusi mencegah presiden aktif menjalani pemeriksaan kriminal. Kecuali, ada bukti kuat bahwa presiden memang punya niat jahat dan melakukan tindak kriminal.

"Skenario Trump dalam kasus Trump Tower di Moskow ini sudah jelas-jelas upaya untuk menghambat hukum. Perlu diketahui, pasal pertama pemakzulan Richard Nixon adalah menghalangi proses hukum," ujar Ted Lieu, legislator asal California. (bil/c10/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... FBI Curiga Donald Trump Antek Rusia


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler