Thomas Umbu: IKN Tidak Akan Jadi jika Mengacu kepada UU Pemda

Selasa, 07 Februari 2023 – 04:31 WIB
Beginilah penampakan Ibu kota Nusantara nantinya bila semua sudah selesai. (Foto: IKN)

jpnn.com - BALIKPAPAN - Undang-Undang (UU) Nomor 3/2022 tentang Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak mengacu kepada UU Nomor 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Demikian dikatakan Deputi Bidang Pengendalian Pembangunan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Thomas Umbu Pati Tena Bolodadi dalam "Forum Konsultasi Publik Undang-Undang Nomor 3/2022 tentang IKN" di Balikpapan, Senin (6/2).

BACA JUGA: Polisi Bekuk Pencuri Monitor Alat Berat Pembangunan IKN Nusantara

Thomas menegaskan bahwa UU IKN adalah UU yang bersifat khusus, atau biasa disebut lex specialis.

Dalam bahasa hukum secara lengkap disebut lex specialis derogat legi generalis.

BACA JUGA: Siti Nurbaya Sendirian Bertemu Presiden Jokowi, Simak Baik-baik Komentarnya

Sehingga bila ada hal-hal yang tidak berkesesuaian dengan undang-undang atau peraturan lainnya mengenai IKN, maka yang dipakai adalah ketentuan yang termuat dalam UU IKN.

"Kalau UU IKN mengacu ke UU 23/2014, maka tidak akan jadi itu IKN," tutur Thomas menegaskan.

BACA JUGA: Senin Malam, Ibu Negara Iriana Jokowi Kirim Pesan kepada Komandan, Widi Kaget

Penjelasan Thomas antara lain untuk menjawab pertanyaan mengenai status seorang kepala otorita IKN, dan bagaimana nantinya nasib Kecamatan Sepaku dan Semoi.

UU IKN juga perwujudan dari hal yang kerapkali disampaikan Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan, yaitu tentang cara berpikir dan bertindak yang baru.

"Jadi status sebagai menteri, misalnya, dan bersama jabatan menteri itu melekat standar layanan yang bisa diterimanya, maka semangat UU IKN ini tidak begitu. Saya, atau kami pejabat Otorita IKN tetap bekerja walaupun tidak ada ajudan ataupun harus melakukan banyak hal sendiri," jelas Thomas Umbu Pati.

Jabatan Kepala Otorita IKN diketahui setara dengan jabatan menteri dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Dalam Forum Konsultasi Publik tersebut, juga muncul sejumlah pertanyaan seperti bagaimana dengan nasib masyarakat asli setempat atau masyarakat adat yang mendiami Sepaku dan Semoi bahkan sebelum ada Republik Indonesia.

"Kami sudah berkorban banyak untuk IKN, bahkan sebelum IKN-nya berwujud dan ada," kata Sofyan yang mewakili masyarakat adat Paser.

Moderator Forum, Sugito, pun menegaskan bahwa semua pendapat dan masukan sudah didengar dan dicatat.

Selain penyampaian secara verbal dan langsung di forum tersebut, masyarakat juga bisa menyampaikan ide atau pemikirannya melalui laman ikn.go.id. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler