Tiga Penyebab Pasar Bisnis Digital Indonesia Tak Sebagus Korea

Jumat, 25 Agustus 2017 – 17:56 WIB
Ilustrasi. Foto: Pixabay

jpnn.com, JAKARTA - Data dari Kantar Worldpanel menunjukkan bisnis e-commerce di negara-negara Asia seperti Tiongkok, Taiwan dan Korea mengalami pertumbuhan lebih dari 30 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Menurut General Manager Kantar Worldpanel Indonesia Venu Madha, negara-negara tersebut memiliki proporsi pasar penjualan barang konsumen yang bergerak cepat (fast moving consumer goods/FMCG) lewat portal e-commerce yang lebih besar dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Eropa.

BACA JUGA: Kementan Makin Fokus Wujudkan Kedaulatan dan Kesejahteraan Petani

"Maka tak heran jika saat ini banyak merek online dan online marketplace baru semakin berkembang. Pasar tradisional di Asia juga mulai bertransformasi menjadi multi-channel retailer seperti di Thailand, Filipina, dan Indonesia," ujar Venu dalam pesan elektronik yang diterima, Jumat (25/8).

Selain di negara-negara tersebut, Indonesia juga diprediksi menjadi pasar e-commerce yang cukup potensial. Karena dari 250 juta penduduk yang ada setengahnya diprediksi berusia di bawah 30 tahun yang sangat fasih dengan dunia online.

BACA JUGA: Hadapi Serbuan Produk Tiongkok, ASEAN Wajib Lakukan Ini

"Hanya saja memang berdasarkan data Worldpanel 2016 lalu, tercatat baru 1,9 persen rumah tangga di daerah urban yang melakukan pembelian dan transaksi produk FMCG melalui e-commerce," ucapnya.

Venu mengakui, angka tersebu terbilang kecil. Namun pertumbuhan dari rumah tangga yang melakukan belanja FMCG melalui portal online terus meningkat dari tahun ke tahun.

BACA JUGA: DPR Sebut Importasi Gas Sangat Aneh

Antara lain dipicu promosi yang dinilai menguntungkan konsumen. Serta keinginan konsumen mendapatkan kenyaman serta kemudahan dalam berbelanja. Baik di lingkup lokal maupun global.

Sementara itu Direktur Komersial Kantar Worldpanel Indonesia Nadya Ardianti menyatakan, ada beberapa penyebab pertumbuhan pasar e-commerce di Indonesia tidak sebaik di negara Asia seperti di Tiongkok, Thailand dan Korea.

Antara lain, konsumen tidak merasa nyaman karena tidak dapat melihat produk secara langsung dan tidak bisa membayar secara tunai saat belanja online. Di Indonesia konsumen cenderung belanja di tempat yang terjangkau seperti warung atau minimarket daripada belanja online.

Hal lain, konsumen tidak mendapatkan kepastian tentang produk, mereka tidak bisa melihat tanggal kadaluwarsa secara langsung. Hal ini perlu menjadi perhatian terutama untuk produk makanan dan minuman. Selain itu mereka juga tidak yakin terhadap fisik produk.

"Tingkat harga yang ditawarkan dan seringnya promosi membuat konsumen merasa khawatir akan kualitas produk. Selain itu kebanyakan dari mereka melakukan belanja secara impulsif dan tak terencana, begitu pun saat membeli merek baru," pungkas Nadya.(gir/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Satgas Pangan Gencarkan Sosialisasi HET Beras


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler