Tika Bisono Sarankan Orang Tua Paham Gadget

Jumat, 24 Maret 2017 – 16:55 WIB
Ilustrasi. Foto: AFP

jpnn.com, JAKARTA - Anak-anak harus dilindungi dari berbagai pengaruh negatif, terutama propaganda radikalisme dan terorisme.

Untuk itu, peran keluarga, lingkungan dan pemerintah harus lebih diintesifkan. Keluarga dalam urusan pola asuh, sementara pemerintah wajib melindungi anak dari sistem pendidikan dan perundangan.

BACA JUGA: Generasi Muda Diajak Lawan Radikalisme di Dunia Maya

"Sebenarnya saya sudah sering bicara tentang ini yang ke mana-mana. Tapi itu bermula dari pola asuh yang menjadi sumber agar anak tidak berpikir radikal, juga kognitif atau kemampuan anak menyerap ilmu pengetahuan. Itulah yang menjadi cikal bakal radikalisme di kalangan anak-anak," ujar psikolog Tika Bisono di Jakarta, Jumat (24/3).

Intinya, rumah (keluarga) adalah faktor utama untuk mencegah dan melindungi anak dari virus radikalisme serta paham negatif lainnya.

BACA JUGA: Mantan Teroris: Deradikalisasi Harus Ditingkatkan

Menurutnya, langkah paling baik adalah pola asuh demokratis, di mana anak diberi kebebasan untuk mengemukakan ide dan pendapatnya.

Sayang, tidak banyak keluarga yang menerapkan pola demokratis itu.

BACA JUGA: Deradikalisasi Manjur Tekan Terorisme di Indonesia

"Kalau dihitung berapa juta atau berapa miliar rumah yang menerapkan pola ini. Inginnya, sih, di atas 50 persen. Tapi ternyata nggak, kan. Pola asuh ini adalah pola  yang paling mendasar," imbuh yang mantan penyanyi pop era 1980-an ini.

Selama ini, banyak orang tua gagal dalam proses mendidik anak.

Hal itu karena orang tua itu hasil dari kegagalan pendidikan dari orang tua sebelumnya.

Intinya proses memilih itu harus berdasarkan atas asas-asas misalnya  knowledge (pengetahuan),  demokratis, saling menghargai, saling menerima, ikhlas, bekerja sama, dan lain-lain.

Kalau ada orang tua gagal dalam pola asuh yang menerapkan asas-asas ini, tentunya akan keterusan ke anaknya.

Setelah itu,  pengaruh anak sangat besar datang dari lingkungannya, juga nilai-nilai dari luar.

Namun dari faktor-faktor itu yang akhirnya membuat anak bisa memilih dengan baik itu adalah dari rumah.

Bila dari sejak dari rumah, anak sudah mendapatkan kekebalan, tentu akan lebih mudah meredam pengaruh lingkungan dan dari luar.

Terkait radikalisasi anak-anak melalui dunia maya, Tika berpendapat bahwa orang tua harus terjun ke filosofi gadget.

Artinya orang tua tidak boleh gaptek (gagap teknologi), tapi orang tua juga harus paham fitur-figur, gadget, internet, serta konten-kontennya.

Dari paham itu, orang tua bisa tahu dampak dari fitur dan internet tersebut karena anak tidak mungkin belajar dampak dari gadget karena dia hanya pengguna. Ironisnya banyak orang tua yang justru gaptek.

Tika menilai, gadget, internet, dan media sosial yang tengah populer seiring perkembangan teknologi komunikasi yang makin canggih bisa menjadi celah bagi pengaruh luar masuk ke pikiran penggunanya sampai ke hati nuraninya.

Dalam hal ini keluarga juga harus mengikuti perkembangan zaman, meski faktanya banyak orang tua yang gaptek.

"Kalau yang memagari nggak ada gara-gara faktor intelektualitasnya nggak sampai, lebih baik nggak usah ber-gadget ria. Untuk hal ini saya harus menyalahkan keluarga," tukas Tika .

Di samping itu, lanjut Tika, kebijakan negara dan pemerintah juga sangat besar.

Apalagi beberapa waktu lalu ada beberapa anak Indonesia yang ikut dideportasi bersama orang tuanya dari Turki.

Mereka dideportasi karena akan menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok radikal ISIS.

Untuk yang satu ini, Tika menilai harus ada penanganan khusus buat anak-anak yang deportasi itu.

Dia yakin kepergian mereka ke Suriah bukan kemauan mereka, tapi orang tuanya.

"Harus ada pendampingan psychosocial untuk mengembalikan cara pandang agar mereka bisa kembali berpikir rasional," jelas Tika.

Beberapa waktu lalu, 75 WNI dideportasi dari Turki karena akan bergabung dengan ISIS.

Sebagian dari mereka adalah anak-anak. Mereka kini berada dalam penanganan Departemen Sosial dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk dilakukan deradikalisasi. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menyedihkan, Anak Muda Kok Kesengsem ISIS


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler