Tinggalkan Warisan Race & Care untuk Surabaya

Jumat, 15 Juli 2016 – 20:10 WIB
Martin Brenner. FOTO : dok Shangri-La

jpnn.com - Waktu perpisahan itu datang juga. Setelah empat tahun bertugas di Surabaya, Martin Brenner, General Manager Shangri-La Hotel Surabaya harus pindah tempat kerja. Dia mendapat mandat untuk pindah tugas menjadi GM di grup hotel yang sama di Dalian, Tiongkok.

Nama Brenner sangat familiar bagi publik Kota Pahlawan. Itu tidak lepas dari pribadinya yang hangat dan bersahabat. Bagi Brenner, perpindahannya ke Surabaya empat tahun silam awalnya hanya menjadi bagian dari resiko tugas.

BACA JUGA: Terbongkar! Sudah Setahun Seranjang, Ternyata sama-sama Perempuan

Karena itu, meski awal mengaku tidak begitu paham tentang Surabaya, Martin yang saat itu tengah bertugas sebagai Hotel Manager di Shangri-La Bangkok, Thailand mengiyakan keputusan promosinya sebagai General Manager di Metropolis tersebut. Toh, semua tempat pasti memiliki daya tariknya masing-masing, begitu pikir Martin kala itu.

Jadilah, setelah menerima mandat perpindahan tersebut, dengan memboyong istrinya yang warga negara Jepang serta dua putri mereka, Martin mantap berlabuh di Surabaya pada Juli 2012. ”Awalnya hanya kata, wow,” jawab Martin saat ditanya kesannya tentang Surabaya.

BACA JUGA: Kisah Hebat di Balik Gelar Ganda Paduan Suara Anak Indonesia di Italia

Kota ini, menurutnya sangat unik. Di satu sisi nuansa kota bisnis terbesar kedua setelah Jakarta sangat terasa. Namun di sisi lain, nuansa tradisional yang mengedepankan kerja sama dan semangat saling menolong dari masyarakatnya juga kental. ”D isini penataan kotanya juga masih jauh lebih baik. Gedung-gedung pencakar langit belum terlalu banyak,” jelas dia.

Tidak perlu beradaptasi begitu lama, hanya sebulan tinggal di Surabaya saja sudah membuat pria asal Austria itu betah. Apalagi, hal tersebut juga dirasakan oleh istri dan kedua anaknya yang saat itu menempuh pendidikan di Surabaya European School.

BACA JUGA: Padukan Keajaiban Alam dengan Kengerian dan Keramahan

Tinggal di kawasan CitraLand, Surabaya Barat, Martin selalu memulai paginya dengan exercise ringan. Bersepeda dan jogging menjadi pilihan idealnya.

Bahkan, di akhir pekan, kegiatan bersepeda Martin bisa gila-gilaan. Tak hanya memutari kompleks perumahan, pria bertinggi badan 186 cm itu bisa melakukan touring antar kota. Start pukul 05.00 pagi, dia menggenjot sepedanya hingga ke Gresik. Sesekali ke Malang.

Dengan bersepeda itu pula, rasa cintanya kepada Surabaya semakin tinggi. Tak jarang, dia menyisipi kegiatan lain saat gowes. Seperti berbelanja di pasar tradisional hingga mencicipi kuliner di warung-warung pinggir jalan.

”Berinteraksi dengan masyarakat sini sungguh luar biasa menyenangkan. Makanan yang ditawarkan di jalan-jalan pun juga lezat sekali. Saya suka soto ayam, rawon, sop buntut, dan nasi goreng,” katanya.

Saking cintanya kepada Surabaya, pria yang selama 11 tahun karirnya malang melintang di Asia itu, mengaku betah jika harus stay lama bertugas di kota ini. Dengan jenaka, bahkan Martin mengatakan sekarang ingin selalu ngumpet.

”Jadi ketika manajemen melakukan perombakan, saya tidak terlihat. Bisa terus bertugas di sini,” ujarnya sembari menutupkan wajah, tanda orang sedang bersembunyi.

Martin wajar khawatir, sebab, biasanya perusahaan tempatnya bekerja selalu melakukan rolling rutin tiap dua tahun sekali. Lantas, saat ditanya, jika bisa memilih berapa tahun ingin tinggal di Surabaya, pria murah senyum itu mengaku ingin dalam jangka waktu lama. 10 Tahun? ”Wah, sangat luar biasa kalau bisa terwujud,” katanya berharap. Namun meski tidak terwujud, pria yang ikut serta dalam event olahraga yang dihelat Jawa Pos seperti Audax itu sudah berbahagia bisa empat tahun tinggal di kota ini.

Bagi Surabaya yang begitu dicintainya, Martin telah meninggalkan “warisan”. Warisan itu berbentuk sebuah even olahraga bergengsi. Ya, sebagai pribadi yang maniak sport, September lalu Martin menggagas acara bernama Race and Care. Lewat acara yang dibesutnya itu, Martin mengajak publik Surabaya untuk mencintai olahraga sembari beramal.

Konsep yang dia gunakan kala itu adalah melakukan gerakan lari masal sejauh 5 dan 10 km. Masing-masing peserta dipungut biaya, yang kemudian dari uang tersebut disumbangkan ke beberapa yayasan serta dipergunakan untuk membelikan kaki dan tangan palsu kepada penyandang cacat yang tidak mampu.

Setiap tahunnya acara tersebut bisa dibilang sukses. Ribuan orang ikut serta. ”Pasti ada beberapa kekurangan. Namun, saya yakin acara tahunan ini akan mencapai sukses besar suatu saat nanti. Karena misinya cukup mulia, menyehatkan badan sekaligus berbagi,” jelasnya.

Bahkan, tidak sekadar lari, jika keadaannya memungkinkan, Martin akan membentuk acara triathlon (olahraga yang memadukan lari, renang dan bersepeda).

”Kondisi dan topografi kota ini memungkinkan. Jika dikemas dengan baik, pasti banyak juga peserta dari luar negeri yang datang. Akhir-akhirnya apa kalau bukan dunia pariwisata Surabaya yang akan semakin hidup,” harap dia. (JP/JPNN/pda)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Inilah Sosok di Balik Logo HUT Ke-71 RI...Keren!


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler