Padukan Keajaiban Alam dengan Kengerian dan Keramahan

Kamis, 14 Juli 2016 – 00:08 WIB
Berselfie ria dengan latar belakang Merapi dan Merbabu di Lokasi Wisata Ketep, Magelang, Jateng, Rabu (13/7). Foto: Soetomo Samsu/JPNN.com

jpnn.com - LOKASI wisata Ketep, Magelang, Jateng, tak hanya memamerkan keindahan alam. Ketep juga menjual kengerian letusan Gunung Merapi, Oktober 2010. Dipadu keramahan, Ketep dikunjungi banyak wisatawan, termasuk para bule. 

Soetomo Samsu – Magelang

BACA JUGA: Inilah Sosok di Balik Logo HUT Ke-71 RI...Keren!

JALAN meliuk, melewati hutan asri yang masih hijau. Jarak tempuh 35 KM dari arah Boyolali, Jateng, terasa tidak membosankan. Hutan rindang, ceciutan burung di alam, dan kebun-kebun warga yang ditanami tembakau yang tumbuh subur, enak dipandang mata. 

Dari bawah, saat saat di jalan, lokasi Ketep Pass, terlihat jelas. Lokasinya di bukit Sawangan, 35 km dari Magelang, Jawa Tengah. Dalam bahasa Jawa, Sawangan kata dasarnya Sawang (melihat). 

BACA JUGA: Mistis! Bergelimpangan, Kesurupan di Lereng Merapi

Ya, dari Ketep Pass, pengunjung bisa menikmati gagahnya dua gunung, Merbabu di sebelah kiri, Merapi di kanan. Pengin lebih jelas, di sana sejumlah pemuda tempatan menyewakan teropong. Murah, hanya Rp 5 ribu, sepuasnya, tidak dibatasi berapa jam pemakaian.

Mereka, para penyewa teropong, juga tidak terburu-buru minta uang sewa, begitu teropong diserahkan ke pengunjung. “Pakai dulu aja Pak,” ucapnya kepada JPNN saat mengunjungi lokasi yang ramai wisatawan itu, Rabu (13/7). 

BACA JUGA: Asyik, Saat Liburan Warga Kunjungi Ekowisata Mangrove

Ongkos parkir mobil Rp 5 ribu. Tidak ada preman yang sok jadi penjaga mobil dengan pasang tarif seenaknya sambil melotot.

Puas berselfie ria, dengan latar belakang dua gunung diselimuti kabut tipis, para pengunjung bisa menikmati “Ketep Volcano Theatre.” 

Dengan harga tiket masuk Rp 7 ribu per orang, para pengunjung bisa melihat tontonan berupa kengerian letusan besar Merapi yang terjadi Oktober 2010. 

Film dokumenter berdurasi 22 menit itu bisa membuat penonton terkesima, memancing anak-anak mengajukan sejumlah tanya mengenai fenomena alam yang mematikan, sekaligus berdampak pada kesejahteraan warga sekitar. 

Narasi di film menjelaskan dahsyatnya Wedus Gembel, asap tebal panas bergulung-gulung dari erupsi Merapi. Juga menjelaskan bongkahan batu dan pasir yang menutupi sungai-sungai sekitar, yang menjadi berkah bagi warga setempat. 

Truk berderet di pinggir sungai, mengeruk dan mengangkut pasir tatkala Merapi tidur, juga disuguhkan dalam tontotan sebagai penyeimbang kengerian.

Begitu keluar dari gedung theatre, pengunjung bisa mengamati batu-batu asli dari puncak Merapi, yang dibingkai kaca di ruang Museum Panca Arga. Juga foto-foto manusia dan hewan yang bergelimpangan akibat diterjang Wedus Gembel.

“Di sini selalu ramai. Hari biasa, bukan hari libur, juga ramai. Biasanya rombongan anak sekolah, ada yang dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, bahkan dari Lampung,” ujar Tina, 39, karyawan lokasi wisata yang diresmikan Megawati Soekarnoputri pada 17 Oktober 2002 itu.

“Begitu jalan dari Magelang mulus, pengunjung memang ramai terus,” ujar perempuan berhijab itu, seakan ingin mengatakan bahwa jalan mulus yang mengakses ke lokasi wisata, sangatlah menentukan.

Lokasi wisata yang jika dilihat dari bawah itu tampak megah, lahannya dulu dibeli oleh Pemkab Magelang. Sementara, biaya pembangunan kawasan disediakan dari APBD Jateng.

Warga sekitar cukup menikmati keberadaan lokasi wisata itu. Termasuk Tina, yang juga warga dekat lokasi. 

Juga warung-warung makan ada sekitar 50-an, semuanya milik warga sekitar. Di sepanjang jalan masuk, penjual jagung bakar berjejer. Belum lagi pedagang makanan khas yang menjadi oleh-oleh pengunjung. Termasuk hasil kebun para petani sekitar, dijual di dekat kawasan tersebut.

“Saya sudah 13 tahun jualan di sini. Tiap hari memang ramai,” ujar Anah, 37, pemilik warung yang berada di area wisata itu. Dia cerita, semua warga yang jualan di sana, terorganisasi secara baik, di bawah bendera Karang Taruna.

“Kami sering berkumpul, dibekali cara bagaimana menyajikan makanan yang baik. Juga diajari bagaimana menjadi penjual makanan yang ramah, menjaga kebersihan,” kata Anah. 

Memang, lokasi wisata itu tampak bersih. Di beberapa sudut tersedia tempat sampah, terpilah sampah organik dan nonorganik. ***

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mampirlah ke Desa Wisata di Lereng Merapi, Adem


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler