Tingkatkan Nilai Tambah Hilirisasi, Inilah Progres Smelter Grup MIND ID SGAR Mempawah

Rabu, 17 Januari 2024 – 20:45 WIB
MIND ID menargetkan pembangunan proyek SGAR di Mempawah, Kalimantan Barat bisa segera rampung dan ditargetkan beroperasi pada Oktober 2024. Foto: Dokumentasi MIND ID

jpnn.com, MEMPAWAH - BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID atau Mining Industry Indonesia mendukung komitmen pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan sumber daya alam (SDA) dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Hal tersebut terutama dalam rangka pembukaan lapangan pekerjaan, peningkatan penerimaan devisa, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

BACA JUGA: Berkat Program Pendampingan, Sejumlah UMK Binaan Grup MIND ID Ikuti Pameran Nasional

Salah satu langkahnya, yaitu dengan mempercepat industri pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit hingga menjadi aluminium.

Hal ini lantaran terdapat nilai tambah apabila bauksit dijual dalam bentuk alumina hingga menjadi aluminium.

BACA JUGA: Tak Hanya Kawasan Tambang, Grup MIND ID Dukung Perkembangan Kota

Untuk diketahui, bauksit merupakan bahan mentah yang diolah menjadi Smelter Grade Alumina (SGA) dan selanjutnya menghasilkan aluminium ingot.

Aktivitas pengolahan bernilai tambah ini bermuara pada industri antara dan hilir seperti kabel, pipa, alat rumah tangga, konstruksi, furnitur, alat olah raga, otomotif dan bahkan memasok industri aviasi alias penerbangan.

Selain itu, bauksit dapat diolah menjadi chemical grade alumina yang dimanfaatkan untuk pemurnian air, kosmetika, farmasi, keramik dan plastic filler sehingga industri ini menggerakkan industri lain yang menyerap tenaga kerja,

BACA JUGA: MIND ID Pasang Target, SGAR Mempawah Rampung 2024

Selain itu, memberikan pendapatan bagi karyawan dan masyarakat sekitar, menggerakkan ekonomi daerah dan pendapatan devisa.

Karena itu, MIND ID menargetkan pembangunan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat bisa rampung dan segera bisa uji coba produksi atau commissioning pada semester pertama 2024.

Proyek SGAR dimiliki dua anggota Grup MIND ID, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) dengan pelaksana proyek dilakukan oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).

Sekretaris Perusahaan MIND ID Heri Yusuf mengatakan proyek dengan nilai investasi mencapai USD 1,7 miliar tersebut bisa segera commissioning pada semester pertama 2024, dan pada September atau Oktober 2024 bisa mulai beroperasi.

"MIND ID menargetkan SGAR bisa mulai beroperasi dan first delivery itu pada September atau Oktober 2024. Kami optimistis bisa mengejar target ini," ujar Heri dalam keterangannya yang diterima, Rabu (17/1).

Terkini, kata Heri, progres pembangunan SGAR pada 2023 sudah melebihi target yang semula ditetapkan yakni sebesar 80 persen.

Per 31 Desember 2023, progres pembangunan SGAR sudah mencapai 83,2 persen.

"Makanya SGAR ini bisa rampung pada Juni 2024 nanti sehingga September atau Oktober sudah bisa first delivery," katanya.

Heri menjelaskan anggota Grup MIND ID, pada 2024, PT Inalum akan melakukan Final Investment Decision (FID) atau Keputusan Final Investasi untuk dua proyek meliputi proyek ekspansi smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara dan proyek SGAR fase 2 di Mempawah, Kalimantan Barat.

Pengembangan smelter aluminium di Kuala Tanjung tersebut berkapasitas 600 ribu ton.

Sementara untuk proyek SGAR fase 2 tersebut akan meningkatkan kapasitas produksi alumina menjadi 3 juta ton dari yang hanya 1 juta ton per tahun dengan estimasi bahan bagi bauksit sebanyak 3,3 juta ton per tahun.

"Kalau semuanya berjalan sesuai rencana dan tidak ada hambatan maka akan mulai proses konstruksi pada 2025 untuk SGAR fase dua," terangnya.

Heri menegaskan kehadiran SGAR ini merupakan wujud dari mandat hilirisasi yang ditetapkan pemerintah kepada MIND ID.

"Melalui SGAR ini, MIND ID bisa mengolah bauksit menjadi aluminium tanpa harus mengekspor bahan mentah ke luar negeri dulu, karena SGAR merupakan smelter pelebur bauksit menjadi alumina," katanya.

Selain itu, SGAR bisa membuat adanya peningkatan nilai tambah program hilirisasi.

Di mana, bauksit kini diproses menjadi alumina di dalam negeri tanpa harus mengirim bahan baku bauksit ke luar negeri.

Hal ini tentunya akan memangkas biaya operasional.

Dari alumina ini akan menghasilkan aluminium ingot, seperti alloy, bollet, bar yang selanjutnya bisa menghasilkan produk aluminium kawat dan batang.

"Aplikasi dari hasil produk tersebut di antaranya untuk komponen pesawat terbang, kemasan makanan, refraktori, abrasif, dan yang lainnya," jelas Heri. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler