Tiongkok Merajalela, Produsen Baja Indonesia Ogah Ekspor ke Vietnam

Jumat, 26 Agustus 2016 – 09:11 WIB
Ilustrasi. Foto: AFP

jpnn.com - SURABAYA – Vietnam memang sudah menghapus bea masuk 23,3 persen komoditas itu dari Indonesia. Namun, salah satu produsen baja PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDS) belum berniat memperluas ekspor ke Vietnam.

GDS menilai pasar baja Vietnam saat ini dibanjiri produk Tiongkok dengan harga jauh lebih rendah.

BACA JUGA: Perum Perhutani Punya Dirut Baru

Direktur PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk Hadi Sutjipto menyatakan, kedekatan jarak antara Vietnam dan Tiongkok lebih mempermudah perdagangan antarmereka.

’’Vietnam bisa mengambil baja dari Tiongkok melalui jalur darat. Kalau impor dari Indonesia, jalurnya lebih jauh,” katanya di Surabaya kemarin (25/8). Dia menambahkan, produk baja dari Indonesia saat ini sulit meningkatkan kapasitas ekspor ke negara lain.

BACA JUGA: Rupiah Makin Melemah, BI Anggap tak Ada Masalah

Kontribusi penjualan ekspor GDS hanya mencapai 6–7 persen di antara total penjualan. Padahal, pada awal tahun, Hadi mencanangkan untuk meningkatkan kontribusi ekspor pada angka 20 persen.

’’Beberapa negara tujuan ekspor seperti Meksiko, Taiwan, Australia, India, maupun Thailand memberlakukan antidumping. Ditambah gempuran baja dari Tiongkok,” imbuhnya.

BACA JUGA: Penjelasan Bu Ani soal Pemotongan Anggaran, Tunjangan Profesi Guru?

Berdasar data Badan Pusat Statistik yang diolah Kemendag, nilai ekspor baja Indonesia ke Vietnam pada 2015 mencapai USD 216 ribu dengan volume 133 ton. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya USD 42 ribu atau 16 ton.

Kemendag mencatat, kontribusi impor produk baja ke Vietnam dari Indonesia masih berada di bawah tiga persen di antara total volume impor baja Vietnam.

Penjualan terbesar GDS saat ini berasal dari sektor konstruksi 45 persen dan galangan kapal mencapai 15 persen.

’’Tetapi, secara margin, memang ada perbaikan meski secara volume penjualan masih stagnan. Sejak akhir tahun 2015 hingga saat ini, harga baja di Indonesia naik 15 persen,” tambahnya.

Dia menjelaskan, kenaikan harga baja di Indonesia terdorong dengan pulihnya harga baja dunia. ’’Kami optimistis ada kenaikan konsumsi baja dalam beberapa tahun ke depan. Tahun ini konsumsi baja diperkirakan di angka 13 juta ton,” terangnya.

Pada 2019, konsumsi baja di Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 25 juta ton. Kenaikan konsumsi baja cukup signifikan tersebut terdorong oleh maraknya infrastruktur yang dibangun pemerintah, terutama di luar Jawa. (vir/c5/sof/jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sri Mulyani Jamin Gaji Aparatur Negara tak Dipangkas


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler