Tips agar Mata Anak Tetap Sehat meski Kerap Gunakan Gawai

Minggu, 16 Agustus 2020 – 11:01 WIB
Anak sedang menjalani PJJ di masa pandemi COVID-19. Foto: Sam/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Penggunaan gawai semisal smartphone atau laptop untuk keperluan pembelajaran jarak jauh alias PJJ di masa pandemi COVID-19 yang banyak dilakukan anak-anak saat ini tidak akan berdampak secara langsung pada mata (menjadi minus).

Namun, Dokter spesialis mata RSUI Anissa Nindhyatriayu Witjaksono mengingatkan perlunya pengaturan jarak penggunaannya karena near-work activity yang mempengaruhi perkembangan miopia, akibat adanya kecenderungan untuk melihat benda, termasuk gawai dalam jarak terlalu dekat.

BACA JUGA: Arumi Bachsin, Chicha Koeswoyo, dan Novi Cherrybelle Bicara tentang PJJ

“Penggunaan gadget tidak menjadi masalah sepanjang penggunaan tersebut tidak berlangsung lama. Namun jika terlalu lama akibatnya dapat membuat mata cenderung menjadi lelah. Hal ini dikarenakan biasanya anak-anak (dan juga orang dewasa) menatap gadget dalam membuat frekuensi berkedip berkurang," kata Anissa dalam siaran persnya, ditulis Minggu (16/8).

Anissa menjelaskan, pada keadaan normal mata manusia normalnya berkedip 15 kali per menit.

BACA JUGA: Soal PJJ, Gus AMI: Perlu Terobosan Cepat Mendikbud Libatkan Masjid, Gereja dan Tokoh Agama

Namun, cahaya gawai bisa menyebabkan orang hanya berkedip 5-7 kali per menit dan inilah yang menyebabkan mata menjadi lelah.

Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan, yakni melakukan metode 20-20-20 yakni 20 menit melihat gawai, lalu 20 detik istirahat melihat atap langit-langit atau benda jauh sekitar 6 meter (20 kaki).

BACA JUGA: Apa Beda Kedaluwarsa dan Masa Pakai Obat?

Pada anak, Anissa merekomendasikan penggunaan gawai hanya difokuskan untuk keperluan sekolah, sementara untuk aktivitas hiburan sebaiknya dialihkan dengan aktivitas lain.

Hal ini salah satunya demi menghindari terjadinya kelainan refraksi, atau kondisi di mana gambaran benda yang masuk ke dalam mata tidak dapat difokuskan dengan tepat di retina. Akibatnya, bayangan benda terlihat buram atau tidak tajam.

Kelainan refraksi dibagi menjadi tiga yaitu rabun jauh (miopi), rabun dekat (hiperopia) dan astigmatisma (mata silinder).

“Kelainan refraksi merupakan kelainan mata terbanyak di masyarakat, tak terkecuali dengan anak-anak. Ada beberapa gejala kelainan refraksi pada anak yang dapat menjadi acuan orang tua yaitu pandangan buram, mengernyitkan dahi saat melihat, mendekatkan mata saat membaca dan prestasi di sekolah menurun. Jika anak-anak mengalami salah satu gejala tersebut tentunya orangtua harus segera mewaspadai.” ujar Anissa.

Kelainan refraksi disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan atau kebiasaan. Pada faktor lingkungan, dipengaruhi oleh aktivitas luar, jarak baca dan pencahayaan saat membaca.

Hasil penelitian menunjukan, anak yang memiliki waktu 40 menit bermain di luar per hari dapat mengurangi risiko progresivitas miopia (rabun jauh). (antara/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler