Tokoh Adat Dayak Diajak Komitmen Hentikan Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

Sabtu, 27 April 2019 – 11:17 WIB
Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa saat memberikan sambutan usai mengikuti perayaan Ekaristi Syukur dalam rangka Naik Dango digelar di rumah Radakng Aya' Ngabang pada Jumat sore (26/4/2019). Foto: Ist

jpnn.com, LANDAK - Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa mengajak tokoh adat berkomitmen menyerukan penghentian kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Hal itu disampaikan Karolin saat memberikan sambutan usai mengikuti perayaan ekaristi syukur dalam rangka Naik Dango digelar di rumah Radakng Aya' Ngabang pada Jumat sore (26/4/2019).

BACA JUGA: Pesan Bupati Karolin Terkait Perayaan Hari Raya Paskah

“Dalam acara naik dango kali ini melalui Bahaum Dewan Adat Dayak saya ingin mengajak nantinya seluruh pengurus di setiap kabupaten bersama-sama menandatangani komitmen untuk menyerukan penghentian kekerasan terhadap anak,” ujar Karolin.

Dalam kesempatan itu juga Karolin ingin tokoh adat ikut berperan dalam mengatasi kekerasan terhadap anak di Kalimantan Barat. Melihat masih terjadi 95 kasus kasus kekerasan terhadap anak di Kalimantan Barat (Data Dinas PP&PA Kalimantan Barat,2018).

BACA JUGA: Bupati Landak: Pertama Kali, Seluruh SMP di Landak Siap Laksanakan UNBK

“Pada acara Bahaum saya ingin membangkitkan kesadaran bersama, dan saya ingin ada satu tema yang diangkat khusus dalam pertemuan Dewan Adat dayak kali ini yaitu mengenai kekerasan orang tua terhadap anak-anak juga terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Karolin.

Bupati Landak itu ingin kegiatan Naik Dango selain dijadikan kegiatan rutinitas juga dijadikan momen untuk membahas isu-isu baru yang dianggap bertentangan dengan adat istiadat.

BACA JUGA: Landak Belum Terima Kekurangan Ribuan Surat Suara, Begini Respons Bupati Karolin

“Saya ingin kegiatan Naik Dango selain dijadikan kegiatan rutinitas juga bisa kita manfaatkan untuk membahas isu-isu yang dianggap bertentangan dengan adat istiadat,” ujar karolin.

“Sehingga kegiatan Naik Dango ini bukan hanya sekedar bertemu, tetapi ada manfaat yang diperoleh dari pertemuan ini,” sambungnya.

Karolin berharap perangkat adat bersama Pemerintah daerah dapat bekerjasama membentuk suatu peraturan untuk merespon masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Bicarakan masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam perspektif adat kita akan membakukan bagaimana susunan tata adat kita, sistem adat kita dalam peraturan daerah,” ujar Karolin

Selanjutnya Karolin berharap pertemuan seluruh Dewan Adat Dayak dari tiga kabupaten yang hadir yaitu Kabupaten Landak, Kabupaten Mempawah, dan Kabupaten Kubu Raya ini menghasilan suatu kesepakan bersama untuk menuntaskan masalah dengan perspektif adat. Mengingat pentingnya suatu daerah mempersiapkan generasi yang lebih baik dimasa depan.

“Bicara masalah sistem tata adat masih banyak yang harus kita benahi, tetapi dalam acara naik dango ini kita bukan hanya berbicara mengenai keberlangsungan dari sawah dan padi yang kita tanam, tetapi juga keberlangsungan generasi yang dimasa yang akan datang,” tukas Karolin.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Program Peremajaan Sawit Rakyat Harus Digarap Serius


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler