Tokoh Pemuda Lintas Agama Bergerak Cepat Merespons Wabah Virus Corona

Keuskupan Agung Palembang Bentuk Crisis Center Covid-19.

Selasa, 24 Maret 2020 – 01:52 WIB
Sejumlah Tokoh pemuda lintas agama di Provinsi Sumatera Selatan membahas penanganan wabah covid-19 di Palembang, Sabtu (21/3). Foto: Humas Pemuda Katolik Sumsel

jpnn.com, PALEMBANG - Wabah virus corona atau Covid-19 yang melanda sejumlah daerah di Indonesia saat ini butuh perhatian dari berbagai elemen masyarakat.

Tokoh pemuda lintas agama yakni Pemuda Katolik Sumsel, Pemuda Katolik Palembang, GP Ansor, Perwakilan Yayasan Pendidikan Katolik dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Palembang, pada Sabtu (21/3/2020) malam menggelar pertemuan untuk membahas  penanganan wabah covid-19 yang sudah menyebar cukup luas di Indonesia.

BACA JUGA: Cegah Penyebaran Virus Corona, Begini Imbauan Nono Sampono

Berdasarkan instruksi Presiden RI, Joko widodo yang mengharuskan untuk sementara waktu melakukan semua kegiatan di rumah dan menghindari keramaian demi mencegah penyebaran covid-19.

Martinus Endro selaku Ketua Pemuda Katolik Sumsel mengajak seluruh masyarakat untuk sama-sama mengikuti instruksi dari pemerintah. Seperti halnya di Gereja Katolik, menurut Endro seluruh kegiatan yang ada di Gereja Katolik Sumsel saat ini dihentikan sementara.

BACA JUGA: Rapid Test Corona Khusus Anggota DPR dan Keluarganya Sebaiknya Dibatalkan

“Kami di gereja Katolik saat ini menghentikan seluruh kegiatan yang ada di gereja, semua ibadah ditiadakan. Hal ini tentunya untuk menghindari kerumunan massa,” kata Endro, Sabtu (21/3/2020).

Menurut Endro, sejumlah Gereja Katolik sendiri diadakan penyemprotan cairan desinfektan baik sebelum ibadah dan sesudah ibadah. Saat ini juga untuk ibadah sendiri dilakukan secara online atau streaming demi mencegah penyebaran virus covid-19.

BACA JUGA: Sejauh Mana Efektivitas Menghadapi Lonjakan Covid-19?

"Dengan adanya imbauan terkait covid-19 ini kami melakukan ibadah secara online atau streaming seperti misa online setiap Sabtu dan Minggu," kata Endro.

Selain itu, Endro juga menyamoaikan tentang kesulitan mendapatkan masker serta alat perlindungan diri (APD). Padahal alat seperti ini sangat dibutuhkan terutama untuk tenaga medis yang bekerja di garda terdepan dalam melawan wabah covid-19 ini.

Ia mengimbau kepada pemerintah untuk tidak diam dan melakukan sidak untuk mengontrol harga serta mengurangi kelangkaan alat pelindung diri ini.

Dia berharap kepada pemerintah untuk dapat menyediakan alat perlindungan diri ke seluruh rumah sakit yang ada secara merata.

"Kami berharap pemerintah untuk menyediakan, khususnya rumah sakit yang didatangi pasien. Ini seharusnya di drop ke seluruh rumah sakit yang didatangi pasien bukan hanya di rumah sakit umum saja," lanjutnya.

Dia pun saat ini sudah membentuk crisis center dalam membantu pemerintah untuk menangani covid-19 ini.

Hal ini dilakukan sendiri yakni dengan menghimpun dana serta menerima sumbangan dalam bentuk barang yang nantinya akan didistribusikan ke rumah sakit yang ada di Sumatera Selatan.

Ia juga mengimbau masyarakat agar menahan diri terlebih dahulu dan mengikuti instruksi dari pemerintah untuk berdiam diri dirumah.

"Masih banyak orang yang berkumpul, seharusnya kita ini social distancing, mengarantina diri terlebih dahulu. Tolonglah agar menahan diri terlebih dahulu hingga benar-benar aman," lanjutnya.

Sedangkan RD Gading Johannes Sianipar, Direktur Badan Pelaksana Harian Yayasan Xaverius Palembang, mengatakan menyikapi penyebaran covid-19 yang sedang melanda dunia dan masyarakat Indonesia, semua masyarakat harus taat dan disiplin mengikuti arahan pemerintah.

"Presiden Jokowi telah meminta 'distancing social', kita belajar, bekerja dan beribadah dari rumah. Menteri pendidikan juga sudah menginstruksikan pembelajaran dari rumah bagi semua peserta didik, terlebih di kota kota yang beresiko tinggi dalam penularan virus corona" ungkap Romo Gading.

Dia juga menegaskan bahwa Sekolah-sekolah Xaverius telah memberlakukan sistem pembelajaran secara daring (dalam jaringan/ online) bagi semua Peserta Didik sejak tanggal 17 Maret yang lalu dan disusul pendampingan guru dari rumah," tegas Gading.

Ia juga menambahkan perlu kerja sama semua elemen masyarakat, terlebih para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memastikan tidak mengadakan kegiatan yang mengumpulkan orang dalam kapasitas besar. Secara khusus, juga perlu sikap tegas para pimpinan agama untuk sementara waktu meniadakan kegiatan keagamaan di setiap rumah ibadah.

Sementara itu, Bonaventura, Bendahara Pemuda Katolik Komisariat Daerah Sumatera Selatan menilai kesadaran masyarakat khususnya Palembang terhadap wabah Covid-19 masih rendah. Hal tersebut terlihat masih ada masyarakat yang mengadakan kegiatan sehingga menimbulkan keramaian.

"Masyarakat khususnya Palembang, belum menyadari tentang bahaya wabah Covid-19 dan belum menaati Surat Edaran Pemerintah setempat maupun Pemerintah Pusat. Masih terlihat adanya kegiatan yang diadakan baik perseorangan maupun kelompok," katanya.

Ia juga menyayangkan ketersediaan alat kesehatan sudah mulai langka. Dia mengimbau kepada masyarakat agar mendukung tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan covid-19.

“Kita bantu petugas medis dan masyarakat dengan menyumbang serta bergotong royong menyediakan alat kesehatan dan APD tersebut," kata Bona.

Ia juga menambahkan Keuskupan Agung Palembang juga telah membuat Crisis Center sebagai langkah pencegahan dan penanganan Covid 19, dan Pemuda Katolik bersama ormas katolik lainnya sebagai Humasnya.

Pada kesempatan itu, Momon selaku GP Ansor Palembang, menilai sejak virus corona (covid-19) mulai mini kebutuhan pokok semakin langka.

"Kami khawatir kalau pemerintah fokus ke virus nanti bisa jadi kebutuhan pokok ikut langka.

Oleh karena itu, kami berharap ketersediaan barang-barang kebituhan pokok,” kata Momon.

Momon juga meminta pemerintah lebih serius menyosialisasikan hal ini. Ia melihat bahwa di kota palembang ini belum terlalu serius dalam menyikapi hal hal seperti ini.

"Kita pengen keseriusan dari pemerintah, kalau di pusat sudah menerapkan, kita berharap petugas medis juga di perhatikan, jangan sampai petugas medis menjadi korban," kata Momon.

Sementara itu, Febri Anastasya mewakili PMKRI Cabang Palembang mengajak kaum muda untuk bersama-sama mengedukasi banyak orang terutama orang tua tentang pencegahan covid-19.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler