Tolak Cinta Kasek, Gagal Ikut Unas

Sabtu, 21 April 2012 – 08:46 WIB
Wina Nidaul Gina. Foto: Radar Sukabumi/JPNN

BEKASI - Banyak hal yang bisa membuat siswa gagal mengikuti ujian nasional (unas). Nah, yang terjadi pada Wina Nidaul Gina ini lain daripada yang lain. Siswa SMA Darul Abror Kota Bekasi, Jabar, itu gagal mengikuti unas pada Senin lalu (16/4) karena masalah asmara dengan kepala sekolah (Kasek). Diduga, Wina menolak cinta Mujahid Solahudin, sang Kasek.
 
Wina sejatinya sempat mengerjakan soal bahasa Indonesia pada hari pertama unas. Tapi, siapa sangka, setelah itu Mujahid datang dan menyerahkan surat pengeluaran Wina. "Saya sempat mengerjakan unas bahasa Indonesia. Setelah itu, tiba-tiba diberikan surat DO (dropout)," kata Wina, 17, ketika ditemui Radar Sukabumi (Jawa Pos Group) di rumahnya di Kampung Baru, Kebonjati, Cikole, Sukabumi, Jabar, kemarin (19/4).
 
Dalam surat yang ditandatangani Mujahid itu, disebutkan tiga pelanggaran yang dilakukan Wina sehingga harus dikeluarkan dari sekolah. Pertama, dia dituduh merusak rumah tangga Kasek. Lainnya, Wina dianggap menghina dengan perkataan kasar dan kurang wajar serta mencemarkan nama baik Kasek di jejaring sosial Facebook. "Tidak ada satu pun dari tiga tudingan itu yang saya lakukan," bantah Wina.
 
Wina mengaku sering mendapatkan perhatian dari Mujahid. Namun, sebagai siswa, semua perhatian Mujahid dianggap Wina layaknya perhatian seorang guru kepada murid. Konon, Wina juga sempat dibelikan handphone (HP) oleh Kasek dengan tujuan untuk memperlancar komunikasi.
 
Tapi, Wina tidak menanggapi pemberian itu. Dia memberikan HP tersebut kepada kakaknya. Selain itu, Wina mengaku sering diajak makan oleh Mujahid. Tidak berdua, tapi dengan beberapa temannya. "Saya tidak pernah makan berdua sama Pak Mujahid karena memang tidak ada hubungan spesial," katanya.
 
Meski Wina membantah ada hubungan asmara dengan Kasek, teman-temannya meyakini, ada yang spesial. Wina pun dikucilkan. Dia dituding memelet Mujahid. "Saya sempat dirukyah untuk memastikan bahwa saya tidak pakai guna-guna dan memang terbukti tidak ada apa-apa," ungkapnya. "Kepala sekolah yang sering mengirim SMS dengan tulisan "Bapak Sayang Kamu, Kamu Sayang Tidak?". Saya abaikan saja SMS-nya," sambung Wina.
 
Ibu Wina, Yati, berharap anak keempatnya tersebut mendapatkan keadilan. "Saya berharap anak saya ikut unas dan lulus SMA. Wina itu anak pintar di sekolah, bahkan selalu masuk tiga besar," katanya.
 
Di sisi lain, Mujahid membantah semua klaim Wina. Menurut dia, keputusan mengeluarkan Wina diambil untuk menjaga nama baik sekolah dan dirinya. Sekolah sesungguhnya tidak berniat mengeluarkan Wina, terlebih saat menghadapi unas. Asal Wina mau meminta maaf. "Sayangnya, dia malah menantang dan menjelek-jelekkan sekolah. Terpaksa kami melakukan tindakan tegas," terangnya kepada Radar Bekasi (Jawa Pos Group).
 
Mujahid mengungkapkan, sejak tiga tahun lalu Wina menjadi salah seorang anak asuhnya. Karena itu, siswa jurusan IPA tersebut tinggal bersama keluarga Mujahid. "Dia sudah saya anggap seperti anak kandung sendiri. Bahkan, yang memberi nama Wina itu istri saya," kata Mujahid. "Saya tidak membedakan Wina dengan anak asuh saya lainnya," ucap laki-laki yang memiliki 8 anak asuh (3 perempuan dan 5 laki-laki) tersebut.
 
Perilaku Wina berubah dalam dua tahun terakhir. Dia jadi emosional dan gampang marah. Tiga bulan lalu Wina tepergok melakukan perbuatan yang tidak terpuji di sekolah bersama teman laki-lakinya. "Dua orang guru mendapati dia sedang berduaan di ruang kelas sekitar pukul enam sore. Ketika ditanya, dia mengelak," beber Mujahid.
 
Ketika dinasihati, bukannya mereda, Wina malah emosional. Dia menjelek-jelekkan sekolah maupun gurunya lewat Facebook. Mujahid pun kaget kalau Wina ternyata memiliki rasa sayang kepadanya.
 
"Selama ini saya menganggap biasa saja. Kepada temannya, Wina bercerita suka kepada saya kalau saya mengenakan baju kemeja," katanya. Mujahid mengungkapkan bahwa Wina selalu menanyakannya kalau sedang pergi melalui pesan singkat.
 
Karena dianggap sudah mencoreng nama baik sekolah, Wina pun dikeluarkan lewat surat pada 22 Maret lalu. Sejak itu dia tidak masuk sekolah dan pulang ke Sukabumi. Nah, pada hari pertama Unas 16 April lalu, Wina tiba-tiba muncul. "Pengawas menanyakan, kamu harus mengambil kartu ujian dulu, baru bisa ikut unas. Namun, dia malah menjawab suka-suka saya dong," papar Mujahid.
 
Kasek yang merintis Yayasan Darul Abror sejak 1960 itu mengatakan, permasalahan tersebut sudah dirinya selesaikan dengan Dinas Pendidikan Kota Bekasi. Hasilnya, Wina diperbolehkan mengikuti ujian susulan. "Yang membuat saya kecewa, dia membuat pernyataan yang tidak benar. Itu semua fitnah," tegas Mujahid. (fkr/nal/jpnn/c9/ca)
 
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kelulusan Siswa Nakal Dipasrahkan Sekolah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler