Tren Rupiah Menguat

Tembus 10.705 di Pasar Spot

Sabtu, 26 Oktober 2013 – 05:05 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Fluktuasi nilai tukar Rupiah memang masih cukup tinggi. Tapi, sepanjang Oktober ini, Rupiah cukup nyaman berada dalam tren penguatan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, sepanjang pekan ini, Rupiah menjadi mata uang dengan performa terbaik dibanding 23 mata uang utama dunia lainnya. "Ini memang bagus," ujarnya, Jumat (25/10).

BACA JUGA: Pemutusan Kontrak NAA soal Inalum Tertunda

Penguatan Rupiah terlihat jelas di pasar spot. Data kompilasi Reuters menunjukkan, Rupiah kemarin berhasil ditutup di level 10.705 per USD, menguat 450 poin atau 4,0 persen dibanding penutupan Kamis (24/10) yang di posisi 11.155 per USD.

Ini merupakan posisi terkuat sejak 20 Agustus 2013 ketika Rupiah ada di level 10.685 per USD. Sepanjang Oktober, Rupiah juga sudah menguat signifikan hingga 875 poin atau 7,5 persen, dari posisi 11.580 per USD pada 30 September 2013.

BACA JUGA: 11 BUMN Dukung Bandung Juara

Sementara itu, data Bloomberg juga menunjukkan Rupiah sudah menguat namun masih di atas 11.000 per USD, tepatnya 11.015 per USD. Kemarin Rupiah menguat 135 poin atau 1,21 persen dari posisi penutupan Kamis yang di level 11.150 per USD. Penguatan Rupiah ini merupakan yang terbesar terhadap USD dibanding mata uang utama lainnya di kawasan Asia Pasifik.

Sedangkan data BI berdasar Jakarta Interbank Spot Dollar Offered Rate (Jisdor) menunjukkan Rupiah masih bertengger di posisi 11.142 per USD, menguat 126 poin dibanding penutupan Kamis (24/10) yang di level 11.268 per USD.

BACA JUGA: Panja Outsourcing Lahirkan 12 Butir Rekomendasi

Menurut Agus, level Rupiah saat ini sejalan dengan fundamental perekonomian Indonesia yang juga menunjukkan sinyal perbaikan. Misalnya, mulai surplusnya neraca dagang, landainya inflasi, serta cadangan devisa yang bertambah. "Kisaran (nilai tukar Rupiah) saat ini masih dalam range stabilitas," katanya.

Meski dalam tren penguatan, Agus mengatakan jika BI terus intens memantau perkembangan ekonomi global. Alasannya, risiko gejolak pasar keuangan akibat masih kuat. Ini terkait pengurangan atau tapering off stimulus quantitative easing oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang bisa saja dilakukan dalam beberapa waktu ke depan.

"Karena itu, saya melihat (penguatan Rupiah) ini bersifat sementara. Nanti, akan ada sebuah kondisi ketika Amerika Serikat mengurangi stimulusnya (melakukan tapering off, Red). Jadi, kita perlu mewaspadai dengan baik," jelasnya.

Menurut mantan direktur utama Bank Mandiri dan menteri keuangan ini, BI bersama pemerintah akan terus berupaya menjaga situasi pasar keuangan agar tetap kondusif. Dia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang terlihat sungguh-sungguh menarik investasi dengan memberi insentif pajak.

"Untuk BI, saat ini belum ada kebijakan baru, tapi kita akan terus fokus pada inisisatif memperkaya dan memperdalam pasar keuangan," ujarnya.

Ekonom yang juga Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika menilai, upaya BI dan pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah memang sangat berat. "Selain risiko eksternal dari isu tapering off stimulus The Fed, tantangan domestik juga berat," katanya.

Erani menyebut, investasi yang diharapkan masuk ke Indonesia untuk memperbanyak suplai USD, dipastikan tidak akan mudah. Alasannya, 2014 adalah tahun politik. Pada periode yang memungkinkan terjadinya pergeseran kekuasaan, investor cenderung akan wait and see (menunggu dan melihat) hasil pemilihan umum sebelum memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia. "Kuncinya di situ, kalau pemerintah bisa menjaga kepercayaan dunia internasional, investasi masih berpotensi masuk," ucapnya. (owi)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pelindo III Catat Peningkatan Arus Petikemas


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler