Tuntut Perpanjangan SBMPTN, Demo di Uncen Panas

Selasa, 24 Mei 2016 – 05:30 WIB
Puluhan mahasiswa Uncen unjuk rasa meminta penambahan waktu SBMPTN. Foto: Gamel/Cenderawasih Pos

jpnn.com - JAYAPURA - Sekitar 50 mahasiswa Universitas Cenderawasih menggelar demo di depan kampusnya, Senin (23/5) kemarin. Setelah memalang pintu gerbang kampus atas, massa menyerbu gedung pasca sarjana dan memaksa Rektor Uncen, Onesimus Sahuleka menandatangani surat meminta perpanjangan waktu pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

SBMPTN sendiri telah ditutup secara nasional sejak 20 Mei lalu, dengan total pendaftar sebanyak 4.773 untuk Panlok 94 Universitas Cenderawasih.

BACA JUGA: Parah! Semua Anggota DPRD Serang Belum Serahkan LHKPN

Pedemo meminta perpanjangan waktu satu minggu dengan alasan kondisi geografis di Papua dan daerah yang tak semuanya memiliki jaringan internet. Dua pintu gerbang yang ditutup, memaksa aktivitas perkuliahan ribuan mahasiswa terganggu. 

Dalam orasinya, Wakil Ketua BEM FISIP Uncen, Fredy Walianggen menyampaikan bahwa pihaknya meminta ada perpanjangan waktu pendaftaran. Sebab mereka tak mau terjadi bentuk diskriminasi penerimaan siswa baru. "Ini daerah otonomi, jadi rektor memegang penuh kebijakan, jangan ada diskriminasi," katanya.

BACA JUGA: Bus Damri Bawa 23 Brimob Masuk Jurang, Ini Kata Bosnya

Situasi demo semakin tak mengenakkan setelah seluruh pedemo melepas baju dan mendesak rektor segera menandatangani surat tadi. Orator bahkan dengan nada tinggi menunjuk-nunjuk rektor dan rombongan yang saat itu hadir. Paksaan terhadap rektor ini membuat beberapa dosen dan staf kesal sehingga balik ikut meneriaki pedemo. 

Namun pedemo justru marah dan terlihat kocar kacir dan hendak menyerang barisan dosen dan staf yang saat itu berdiri di pintu utama. Untungnya pedemo yang terlihat hendak menyerang ini langsung diamankan oleh sesama pendemo lainnya sehingga situasi kembali normal. 

BACA JUGA: Hukuman 9 Tahun Untuk Pemerkosa 58 Anak Dianggap Terlalu Ringan

Ditemui usai menerima pengunjuk rasa, Rektor Onesimus Sahuleka tegas menyampaikan bahwa pihaknya tetap menolak menandatangani apa yang diminta. Ia merasa dipaksa dan bila ditandatangani dipastikan akan ada masalah baru.

"Tadi ada kesepakatan yang dibuat dan memaksakan kehendak pada saya sebagai rektor. Saya katakan bahwa untuk SMPTN dan SBMPTN adalah seleksi nasional yang semua waktunya ditentukan oleh pusat dan Uncen hanya menerima hasil bukan menentukan hasil, itu yang harus dipahami," ujar Onesimus, seperti dikutip dari Cenderawasih Pos, Selasa (24/5).

Menurutnya jika berbicara soal kondisi daerah yang sulit, sejatinya tak hanya Papua yang memiliki daerah sulit tetapi provinsi seperti NTB, NTT maupun Kalimantan. Bahkan Sulawesi ada juga masih menyimpan kesulitan. Di samping itu Uncen sendiri, lanjut Onesimus, telah melakukan sosialisasi yang cukup intens hingga ke daerah-daerah. 

Pak Rektor melihat tuntutan untuk memperpanjang waktu pendaftaran itu tidak rasional. Pasalnya selain sosialisasi, pihaknya juga membuka tempat pendaftaran di enam kabupaten yaitu Jayapura, Biak, Yapen, Nabire, Timika dan  Wamena sehingga untuk masyarakat yang berada di daerah pegunungan bisa mendaftar di  Wamena  ataupun Nabire dan Timika. Sedangkan Sarmi, Keerom dan Kabupaten Jayapura langsung di Jayapura. 

"Ini (buka cabang pendaftaran) hanya ada di Papua, tak ada di provinsi lain dan itu upaya kami. Jadi kalau dibilang kami tidak berpihak itu salah," tegasnya. 

Sementara dari pernyataan yang dibacakan mahasiswa tak sedikit yang curiga jika catatan tersebut bukan buatan mahasiswa melainkan ada pihak yang menitipkan. "Tidak mungkin mahasiswa membuat data tersistematis seperti itu, bahkan data LIPI juga mereka sampaikan. Itu seperti data titipan yang dibacakan mahasiswa," kata salah satu staf. (ade/tri/adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rem Blong, 23 Polisi Masuk Jurang, Ini Fotonya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler