UMKM Tahan Hadapi Naik Turun Rupiah

Kamis, 29 Agustus 2013 – 06:50 WIB

jpnn.com - SURABAYA-Naik turun nilai tukar rupiah terhadap dolar dinilai tidak berimbas signifikan bagi sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sebab, berkaca dari krisis 1998 lalu sektor tersebut jauh lebih survive dibandingkan dengan industri skala besar.

Wakil Ketua Umum Bidang UMKM Kadin Jatim M Rizal menganggap melemahnya rupiah merupakan bagian siklus tahunan yang harus dihadapi pelaku usaha dalam negeri, termasuk UMKM. "Tapi sektor UMKM relatif stabil, terlihat pada 1998 lalu ketika dolar mencapai Rp 16.000-18.000 mereka masih kuat. Apalagi sekarang yang nilai tukar rupiah terhadap dolar Rp 10.000-11.000," katanya.

BACA JUGA: Produk Mentah Wajib Diolah

Sektor UMKM terbilang aman karena tidak terlalu bergantung pada komoditas impor yang saat ini harganya melonjak signifikan. Menurutnya, hingga kini sektor tersebut masih mencatat pertumbuhan yang bagus. Dia mengutip, berdasar data BPS, jumlah UMKM di Jatim sebanyak 4,8 juta. "Kontribusi UMKM terhadap perekonomian daerah juga besar, dari uang yang berputar sebanyak 54 persen di antaranya berasal dari sektor UMKM," jelas dia.

Tapi, menurut ia, sektor UMKM tidak dapat dibilang serta merta bisa mengambil keuntungan dengan mengekspor produk miliknya di saat rupiah melemah. Sebab, selama ini belum banyak yang memperhatikan mengenai pengemasan. Dikatakan, sektor UMKM mampu untuk menembus pasar internasional asal bisa mengemas produk yang dimiliki.

BACA JUGA: Hatta Rajasa Borong Produk Lokal

"Kemasan menjadi faktor utama, apalagi dengan produk Jatim yang mengandalkan produk makanan olahan. Selain itu, kita masih lemah dalam hal deal-deal bisnis, karena masih menggunakan trader ketika memasarkan produk," katanya.

Lebih lanjut Rizal menuturkan, menghadapi kondisi seperti sekarang ini UMKM perlu mendapat dukungan terutama dari akses kredit perbankan. Saat ini, di Jatim sudah ada kredit khusus untuk UMKM yang feasible namun tidak bankable, sehingga bisa tetap mendapatkan kucuran kredit. Kemudian, terkait upah buruh yang terus meningkat. "Sebenarnya tidak masalah upah mahal asal sesuai dengan kualitas," kata dia.

BACA JUGA: IHSG Terbenam di Bawah 4.000

Sedangkan untuk mendorong UMKM di pasar domestik, pihaknya memfasilitasi pelaku usaha dengan mengadakan program kunjungan antarprovinsi. Seperti dengan pelaku usaha di Kalimantan, NTT dan NTB. Dengan demikian, dapat membantu UMKM memasarkan produknya sekaligus meningkatkan kinerja perdagangan antarpulau. (res)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tambah Impor 534 Ribu Ton Kedelai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler