Uni Puan Maharani: Revolusi Mental Belum Selesai

Rabu, 23 September 2020 – 13:21 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani. Foto Humas DPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Ketua DPR Puan Maharani bicara soal gerakan Revolusi Mental yang diketahui menjadi jargon Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat kampanye Pilpres 2014.

Menurut Uni Puan, gerakan revolusi mental dinilai sangat penting khususnya bagi generasi muda. Sekaligus sebagai syarat agar bangsa ini mencapai kemajuan dan mampu menghadapi berbagai tantangan.

BACA JUGA: Mengenakan Gamis dan High Heels di Sidang Perdana, Jaksa Pinangki: Ahamdulillah...

"Saya tegaskan bahwa revolusi mental masih terus berjalan. Revolusi mental belum selesai," kata Puan saat berbicara di pembukaan Gebyar Milenial Revolusi Mental 2020 yang berlangsung di Manado, Rabu (23/9).

Namun, Puan mengikuti acara yang bersamaan dengan perayaan HUT ke-56 Provinsi Sulawesi Utara itu secara daring dari Jakarta.

BACA JUGA: Kacau, Dana BOS Madrasah Masih Dipotong Rp 100 Ribu per Siswa, Yandri Marah

Puan menjelaskan bahwa konsep revolusi mental diperkenalkan oleh Presiden Pertama RI Soekarno kepada bangsa ini pada tahun 1957.

Masa itu, Bung Karno -panggilan Soekarno, menyebut revolusi mental sebagai gerakan hidup baru untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali dan berjiwa api.

Gerakan ini kemudian kembali digaungkan 57 tahun kemudian atau pada 2014 lalu.

BACA JUGA: Berpidato di Sidang PBB, Jokowi Singgung Negara Pengganggu Kedaulatan dan Suka Konflik

"Pada tahun 2014, Indonesia diingatkan kembali tentang pentingnya konsep revolusi mental untuk diterapkan secara nyata," lanjut Puan.

Perempuan pertama yang menjadi ketua DPR ini menilai revolusi mental sebagai gerakan nasional yang menitikberatkan pada tiga nilai utama, yakni integritas, etos kerja dan gotong royong.

Dijelaskan Puan, dengan menjalankan revolusi mental tersebut sejatinya bangsa ini sedang mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian.

Puan juga mengatakan bahwa Indonesia butuh revolusi mental untuk menghadapi tantangan globalisasi budaya, informasi tidak terkendali atau hoaks, tergerusnya nilai-nilai luhur, ancaman terhadap keutuhan NKRI, hingga menghadapi pandemi Covid-19.

Dalam pidatonya, Puan juga mengapresiasi langkah penerusnya Menko PMK Muhadjir Effendy yang melanjutkan program revolusi mental tersebut.

Bagi Puan, usia gerakan revolusi mental tidak boleh terbatas umur jabatan satu pemerintahan, tetapi harus dijalankan oleh segenap komponen bangsa secara berkelanjutan.

"Gerakan revolusi mental harus dilaksanakan dari diri sendiri, keluarga dan meluas ke lingkungan sekitar," tegas Puan.(ant/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler