Unik, Ribuan Warga Thailand Lari Pagi demi Menggulingkan Pemerintah

Minggu, 12 Januari 2020 – 23:51 WIB
Ribuan warga Thailand mengikuti kegiatan lagi pagi di Bangkok dalam rangka memprotes pemerintah. Foto: Reuters

jpnn.com, BANGKOK - Ribuan warga Thailand mengikuti kegiatan lari pagi di Bangkok, Minggu (12/1). Uniknya, kegiatan ini bertujuan untuk memprotes pemerintahan Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha di Bangkok, Minggu (12/1).

Kegiatan itu bertajuk "Wing Lai Loong" yang berarti "Lari untuk Mengusir Paman", merujuk pada Prayuth yang mendapat nama julukan "Paman Tu".

BACA JUGA: Pemerintah Thailand Gelar Pertemuan Rahasia dengan Pemberontak Melayu

Pihak kepolisian memperkirakan sekitar 12.745 pelari serta pendukung aksi telah berkumpul di sebuah taman di Bangkok sebelum matahari terbit. Mereka mengenakan pakaian dan sepatu beragam warna.

Sebagian peserta lari itu meneriakkan slogan seperti "Turun, Prayuth!" atau "Panjang umur demokrasi!" selagi berlari sepanjang 2,6 kilometer di tengah pengawasan dari pihak pengamanan.

BACA JUGA: Junta Thailand Bentuk Pemerintah Sementara September

Sebagian lainnya juga mengacungkan salam tiga jari sebagai tanda perlawanan terhadap pemerintah. "Saya ingin banyak hal menjadi lebih baik. Saya ingin Prayuth mundur," kata seorang warga Bangkok, Waraporn Waralak, usai mencapai mencapai garis finish.

Pemerintahan Thailand di bawah Prayuth terpilih dalam pemilu pada Maret 2019, yang disebut pihak oposisi telah dimanipulasi untuk memenangkan partai pro-militer pengusungnya.

BACA JUGA: Thailand Kembali Bergolak, Pemimpin Oposisi Minta Pendukung Turun ke Jalan

"Ini adalah penggalangan massa terbesar setelah kudeta," ujar Dekan Fakultas Sosiologi dan Antropologi Universitas Thammasat Bangkok, yang menambahkan bahwa kegiatan lari itu mendorong partisipasi lebih besar daripada biasanya.

Kegiatan lari itu menyusul aksi unjuk rasa pada Desember 2019 yang diselenggarakan oleh Thanathorn Juangroongruangkit, pemimpin oposisi dari Partai Masa Depan yang kemudian ditahan pada Jumat (10/1) atas pelanggaran aksi demonstrasi tersebut.

Dalam kegiatan lari itu, penyelenggara juga melelang nomor dada yang terkait dengan politik di Thailand, misalnya nomor 2475 yang merupakan tahun kalender Budha saat revolusi mengakhiri sistem monarki absolut pada 1932.

Adapun nomor dada 0044, yang merujuk pada pasal 44 yang memberikan Prayuth kekuasaan eksekutif absolut, justru dirobek menjadi dua bagian di atas panggung.

Menanggapi kegiatan lari itu, juru bicara pemerintahan menyebutnya telah sesuai dengan hak warga negara dan tidak ada aturan hukum yang dilanggar.

Namun demikian, kegiatan tandingan bertajuk "Jalan untuk Mendukung Paman" juga digelar bersamaan di taman lain yang berjarak sekitar 14 kilometer. Ribuan orang turut dalam aksi itu untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Prayuth. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler