Unikama Membara, Saling Tembak Sampai Sobek Bendera

Selasa, 11 November 2014 – 10:37 WIB

jpnn.com - MALANG - Dahsyatnya peristiwa 10 November di Surabaya dipentaskan dengan apik oleh mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Jawa Timur,  Senin (10/11). Adegan tewasnya pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, Jenderal Mallaby dan penyobekan Bendera Belanda di atas Hotel Yamato menjadi puncak perjuangan para mahasiswa yang berperan sebagai pejuang. Pekik merdeka dan lagu Sorak Sorak Bergembira pun menggema di halaman gedung rektorat Unikama yang disulap menjadi Hotel Oranye.

Adegan demi adegan seolah menguras emosi penonton. Seperti ketika para pejuang tak gentar menghadang peluru dan meriam yang ditembakkan penjajah. Warga yang panik sembari melemparkan sayur mayuran seperti kubis dan wortel membuat suasana makin menegangkan.

BACA JUGA: Tolak Pasok Listrik ke PLN, Ribuan Karyawan PT Inalum Demo

Sementara di sisi lain, pasukan penjajah dengan congkaknya mengendarai jeep terbuka sembari terus memberondongkan peluru. Adegan yang disaksikan oleh para pimpinan kampus itu membuat salah satu pejuang Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) yang juga salah satu pendiri Unikama, H Soenarto Djojodihardjo menitikkan air mata.

”Peristiwanya lebih dahsyat dari apa yang diperankan mahasiswa, tapi karena mereka sangat menjiwai peran ini sehingga saya teringat pada masa perjuangan dulu,” ungkap Soenarto.

BACA JUGA: MenPAN-RB Usut Kasus Pelantikan 200 Pejabat Gorut

Suasana halaman rektorat yang disulap menjadi medan pertempuran itu tak hanya menguras emosi penonton, tapi juga pemainnya. Seperti diungkapkan Ari Wibowo, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unikama. Ia yang melakoni peran sebagai pejuang rakyat juga terlihat emosional ketika rekannya menaiki tangga rektorat dan menyobek bendera merah-putih-biru yang berkibar di atasnya.

”Saya sangat emosional dan rasanya dada saya sesak karena gembira saat bendera Belanda bisa disobek, merdekaaaaa,” pekiknya.

BACA JUGA: Lahan Wisata Anyer Terancam Hilang

Drama 10 November tersebut ditampilkan oleh mahasiswa, dosen dan karyawan Unikama setelah sebelumnya menggelar upacara bendera. Teater dimainkan oleh sekitar 234 mahasiswa dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Menurut Sutradara, Darmanto ”Dengkek”, persembahan tersebut sengaja disuguhkan untuk memperingati hari pahlawan. Walaupun menurutnya kisah yang disajikan bukan murni mengisahkan peristiwa berdarah di Surabaya. ”Latihan untuk pentas ini dilakukan sekitar satu minggu saja, dan saya bangga karena anak-anak bisa menjiwai peran mereka,” ujarnya.

Putra dari salah satu pejuang TRIPAbdul Rajab ini mengakui, suasana heroik sangat kental saat teater disuguhkan. Itu karena seluruh pemain sangat menjiwai peran mereka. Tak hanya mahasiswa saja, bahkan para dosen dan pejabat juga terlibat.

”Dosen dan ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia tadi berperan membeli burung di pasar, ada juga Kabag Kemahasiswaan Pak Erik yang menjadi supir Jendral Mallaby. Dan saya sendiri jadi pengawal Mallaby,” ujarnya sambil terkekeh.

Sutradara yang pernah mendapat penghargaan sebagai seniman terbaik Jatim ini mengaku sedikit mengubah jalan cerita dalam pementasan tersebut. Seharusnya peristiwa penyobekan bendera lebih dulu terjadi sebelum Mallaby tewas. Namun agar suasana heroik bisa muncul maka peristiwanya diubah.

”Suasananya terasa lebih heroik ketika di akhir perjuangan bisa merobek bendera Belanda,” tukasnya.

Sementara itu jajaran pimpinan kampus yang melihat teater tersebut juga memberikan acungan jempol. Seperti diungkapkan Rektor Unikama Dr Pieter Sahertian M.Si. Menurutnya kegiatan ini sangat penting untuk menumbuhkan semangat kepahlawanan pada generasi muda. (oci/han)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... 600 Taksi di Batam Tak Layak Dioperasikan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler