Virus Corona Merontokkan Harga Minyak Dunia

Sabtu, 01 Februari 2020 – 13:38 WIB
Kilang minyak. Foto: Reuters

jpnn.com - Harga minyak jatuh pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), ini berlanjut dalam empat minggu berturut-turut, disebabkan meningkatnya kekhawatiran tentang kerusakan ekonomi dari virus corona.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret merosot 0,13 dolar AS, menjadi menetap pada 58,16 dolar AS per barel, dan turun sekitar empat persen selama minggu ini.

BACA JUGA: Mulai Hari Ini, Pertamina Turunkan Harga Pertamax

Harga sempat mendapat dukungan setelah Menteri Energi Rusia Alexander Novak, mengatakan Rusia siap untuk memajukan jadwal pertemuan OPEC dan sekutunya ke Februari, dari sebelumnya Maret.

Novak mengatakan dia sedang dalam diskusi dengan pemimpin OPEC Arab Saudi, dan bahwa negara-negara penghasil minyak akan membutuhkan beberapa hari lagi untuk menilai dampak dan memutuskan tanggal pertemuan.

BACA JUGA: Buat Emak-Emak! Pasar Tradisional DKI Jakarta Diharamkan Pakai Kantong Plastik

“Kartel siap untuk bertindak lagi jika perlu tetapi dapat menerima kerugian jangka pendek untuk saat ini dengan harapan bahwa konsekuensi ekonomi tidak akan seburuk yang ditakuti orang dan (harga) akan bangkit kembali ke tingkat yang lebih dapat diterima dengan sendirinya,” kata analis pasar senior di OANDA, Craig Erlam.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret ditutup 0,58 dolar AS, lebih rendah menjadi 51,56 dolar per barel dan turun 4,8 persen minggu ini.

BACA JUGA: Harga Minyak Turun Seiring Peningkatan Penyebaran Virus Corona

Selama sesi, WTI sempat merosot ke level 50,97 dolar AS per barel, terendah sejak awal Agustus.

Kedua harga acuan minyak telah meningkat lebih dari satu dolar AS per barel di awal sesi perdagangan.

Pasar ekuitas global siap untuk kerugian bulanan pertama mereka sejak Agustus dan indeks-indeks utama Wall Street anjlok lebih dari satu persen pada Jumat (31/1), karena laba beberapa perusahaan bervariasi ditambah kekhawatiran atas dampak virus corona.

Gangguan dalam rantai pasokan dan pembatasan perjalanan mendorong para ekonom untuk mengekang ekspektasi pertumbuhan China, ekonomi terbesar kedua di dunia.

Goldman Sachs mengatakan wabah itu kemungkinan akan mengurangi 0,4 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi China pada 2020 dan juga dapat menyeret ekonomi AS lebih rendah.

Wabah ini dapat mengurangi permintaan minyak China lebih dari 250.000 barel per hari (bph) pada kuartal pertama, kata para analis.

"Jika virus corona memiliki efek yang sebanding dengan SARS, itu dapat mengurangi permintaan minyak China sekitar 400.000 barel per hari," kata analis Capital Economics dalam sebuah catatan.

Banyak perusahaan di China berencana untuk kembali bekerja pada Jumat (31/1/2020) setelah perayaan liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu, tetapi pihak berwenang memerintahkan bisnis di banyak wilayah untuk tutup lebih lama guna menahan penyakit ini.

Pertumbuhan aktivitas pabrik China tersendat pada Januari. Indeks Pembelian Manajer (PMI) turun menjadi 50,0 dari 50,2 pada Desember, kata Biro Statistik Nasional (NBS) China. Tanda 50 poin memisahkan pertumbuhan dari konstraksi.

Sebuah jajak pendapat Reuters pada Jumat (31/1), menunjukkan harga minyak tahun ini akan tetap didukung di dekat level saat ini karena risiko politik dan pembatasan produksi yang dipimpin OPEC mengimbangi meningkatnya pasokan.

Produksi minyak OPEC anjlok pada Januari ke level terendah multi-tahun karena eksportir utama Arab Saudi dan anggota Teluk lainnya kelebihan pengiriman berdasarkan perjanjian pembatasan produksi baru dan pasokan Libya turun karena blokade pelabuhan dan ladang minyak, sebuah survei Reuters menemukan.

Namun, pasokan global tetap berlimpah. Produksi minyak mentah AS naik 203.000 barel per hari ke rekor 12,9 juta barel per hari pada November, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan dalam laporan bulanan. (antara/jpnn)

VIDEO: Luna Maya Ke Rusia, Ada Apa?


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler