Waduh! Es Batu pun Diberi Formalin

Kamis, 25 Juni 2015 – 06:00 WIB
MASIH SEGAR: Pedagang Pasar Pabean membawa ikan yang akan dijual. Masyarakat diminta hati-hati dengan makanan dan minuman berformalin. Salah satunya pada es batu. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

jpnn.com - SURABAYA –  Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur mencurigai adanya zat formalin dalam es batu yang digunakan untuk mengawetkan ikan.

 

Temuan itu berawal dari hasil uji makanan olahan warga binaan dinas tersebut. Setiap mengadakan bazar, mereka selalu menguji makanan yang dipamerkan. Petugas pun terkejut. Ternyata, sebagian camilan hasil olahan ikan mengandung formalin.

BACA JUGA: Pernikahan Itu Sakral, Jangan Cerai Gara-gara Ekonomi

’’Kami temukan saat bazar di sini (Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim, Red) 8 Mei lalu,’’ ujar Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim Heru Tjahjono Rabu (24/6).

BACA JUGA: Ingat ya! 28 Juni Pasang Bendera Setengah Tiang

Saat itu, para pelaku UKM membantah telah mencampur formalin pada makanan yang mereka olah. Para pengusaha tersebut juga merasa dirugikan oleh penemuan itu. Akhirnya, beberapa pengusaha melakukan penelitian.

Heru lantas menyebut seorang pengusaha camilan udang yang membeli bahan langsung dari tambak. Kemudian, dia membagi dua udang yang dibelinya. Satu diberi es batu dan satu lagi langsung diolah.

BACA JUGA: Hendak Membegal, Dua Geng Motor Tewas setelah Hantam Trotoar

Rupanya, udang yang diberi es batu terlebih dahulu positif mengandung formalin. ’’Dia beli es batu dari penjual di dekat tambak. Sayang, es batunya tidak dibawa untuk kami uji coba,’’ ungkap Heru.

Meski demikian, Heru belum berani menetapkan bahwa es batu itu benar-benar dicampur formalin. Untuk memastikannya, perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Khususnya, balok es yang digunakan untuk mengawetkan ikan.

Berdasar temuan itu, Heru akan melakukan beberapa langkah antisipatif. Yaitu, mengecek ikan-ikan yang masuk ke pelabuhan. Apabila ada es batu di sana, petugas akan melakukan pengecekan formalin. ’’Lebih mudah lagi kalau nelayan tahu tempat pembuatan es baloknya di mana karena es balok ini sulit dilacak siapa pembuatnya,’’ tuturnya.

Ketika ditanya tentang es batu berformalin, pedagang ikan di Pabean mengaku tidak mengetahuinya. Mereka biasanya membeli es balok dari koperasi di pasar. ’’Kalau pakai es, ikannya bisa awet empat hari. Kalau tidak, ya dua hari saja sudah busuk,’’ ujar Sukiman, salah seorang penjual ikan.

Sementara itu, petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya bertindak cepat dengan mengamankan produk yang positif mengandung bahan berbahaya. ’’Ada yang langsung dimusnahkan dan ada pula yang diambil petugas,” terang Kepala BBPOM di Surabaya I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa.

Dia berharap masyarakat jeli memilih bahan makanan yang aman untuk dikonsumsi. Misalnya, ikan segar. Ciri ikan segar yang baik adalah bentuknya tidak lunak, matanya jernih, dan insangnya masih merah. ”Ikan yang tidak dihinggapi lalat sama sekali malah berbahaya. Karena bisa jadi mengandung formalin,” kata Bagus.

Formalin biasanya juga terdapat dalam tahu dan mi basah. Untuk mi, cirinya tidak lengket dan lebih mengkilat. Sementara itu, tahu berformalin tidak mudah hancur. ”Formalin digunakan agar makanan awet. Biasanya, lebih dari satu hari,” ucapnya. Bahaya formalin adalah bisa merusak organ dalam, kanker, bahkan mengakibatkan kematian.

Selain formalin, bahan kimia lain yang sering digunakan adalah boraks. Biasanya, boraks dicampur dalam mi basah, bakso, lontong, cilok, otak-otak, dan rambak. Tujuannya, makanan menjadi kenyal dan kerupuk lebih renyah. ”Bahayanya boraks sama dengan formalin. Bisa menyebabkan kematian,” bebernya. (ant/lyn/c6/ai)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Berkas Dukungan Kurang, Diberi Waktu Sepekan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler