Waduh, Ukraina Bersumpah Tidak Akan Maafkan Rusia sampai Seabad

Senin, 27 Februari 2023 – 17:07 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana mengunjungi rumah sakit yang berada di pusat kota Kyiv, Ukraina, Rabu (29/6). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

jpnn.com, KIEV - Warga Ukraina butuh waktu sangat lama untuk melupakan invasi Rusia yang telah membuat negara mereka berantakan. Bahkan, jika aksi militer Rusia berhenti hari ini, masih dibutuhkan seratus tahun lagi sampai mereka bisa memaafkan negara tetangganya itu.

Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal mengatakan bahwa rekonsiliasi antara Moskow dan Kiev tidak mungkin terjadi dalam satu abad mendatang.

BACA JUGA: Ukraina Berharap Invasi Rusia Selesai dalam Hitungan Bulan

“Rekonsiliasi, kerja sama--Tidak, tidak dalam seratus tahun mendatang. Rusia pertama-tama harus berubah melalui demokratisasi, demiliterisasi, dan denuklirisasi,” kata Shmyhal dalam sebuah wawancara dengan surat kabar mingguan Jerman Focus, Minggu (26/2).

Ketika ditanya tentang bagaimana Rusia harus dilucuti, Shmyhal menyebutkan tentang sanksi lanjutan, penolakan untuk bekerja sama dengan Rusia, penyitaan aset Rusia, dan bantuan militer lebih lanjut ke Ukraina.

BACA JUGA: 141 Negara Dukung Resolusi Desak Rusia Tinggalkan Ukraina, Bagaimana Sikap Indonesia?

Shmyhal juga mengatakan bahwa pembekuan konflik antara Moskow dan Kiev untuk menghentikan pertumpahan darah lebih lanjut tidak dapat diterima oleh Ukraina, karena tanpa disadari hanya akan menguntungkan Rusia dan menyebabkan perang besar lainnya.

Dia pun membantah kemungkinan Ukraina menyerahkan salah satu wilayahnya ke Rusia.

BACA JUGA: 1 Tahun Invasi Rusia ke Ukraina: Menguak Hipokrisi Amerika

"Masyarakat tidak akan mengizinkan ini. Ribuan orang terbaik kami mati bukan untuk kami berkompromi dengan teroris berdarah dan agresor yang memeras seluruh dunia," kata Shmyhal.

“Satu-satunya kompromi adalah penarikan penuh pasukan Rusia dari Ukraina dalam batas tahun 1991. Rusia harus berhenti menembak, menghentikan agresi, dan meninggalkan wilayah kami. Saya percaya bahwa mengubah perbatasan akan menjadi kompromi yang tidak dapat diterima untuk Eropa juga,” tutur dia. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler