Wahai Bunda, Inilah Perbedaan Baby Blues & Depresi Seusai Melahirkan

Senin, 15 Juli 2024 – 07:16 WIB
Ilustrasi bayi menyusu ibunya. Foto: ANTARA/Pexels-Jonathan Borba

jpnn.com - JAKARTA – Bunda perlu mengetahui bahwa baby blues dan depresi seusai melahirkan merupakan dua kondisi yang berbeda.

Psikolog klinis dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana Hadiwidjojo S.Psi, M.Psi mengatakan, perbedaan baby blues dan depresi seusai melahirkan bisa dilihat dari durasinya.

BACA JUGA: Atasi Depresi dengan Mengonsumsi 5 Makanan Ini

"Dua kondisi tersebut merupakan hal yang berbeda, ini dapat dilihat tergantung dari durasinya," kata Vera saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Minggu (14/7).

Vera menjelaskan, baby blues merupakan masalah psikologis yang bisa menimbulkan perasaan sedih, marah, dan cemas pada perempuan yang baru melahirkan.

BACA JUGA: Chelsea Olivia Mengalami Baby Blues, Glenn Alinskie jadi Suami Siaga

Perasaan sedih, marah, dan cemas tersebut biasanya berlangsung selama satu hari sampai dua minggu.

Sedangkan perasaan sedih yang terjadi akibat depresi sehabis melahirkan, kata Vera, dapat berlangsung hingga beberapa bulan.

BACA JUGA: Baby Blues Bisa Jadi Tanda Depresi Pascamelahirkan

Ibu yang mengalami baby blues bisa mengalami perubahan emosi seperti menjadi mudah marah, gampang menangis, mudah cemas, dan cepat kelelahan.

Adapun ibu yang mengalami depresi sehabis melahirkan, gejala-gejala perubahan emosinya lebih intensif.

"Gejala depresi setelah melahirkan itu dapat termasuk perasaan sedih yang berkepanjangan, kehilangan minat, kesulitan tidur, dan kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari," kata Vera.

Lebih lanjut dikatakan, kondisi baby blues juga dapat berkembang menjadi depresi perinatal yang memerlukan penanganan profesional seperti terapi psikologis dan obat-obatan.

Vera menyampaikan bahwa kondisi baby blues maupun depresi pada perempuan selepas melahirkan bisa berdampak buruk pada kesejahteraan ibu maupun bayi.

Ibu yang mengalami masalah psikologis tersebut bisa kecapekan karena susah tidur sehingga kondisinya secara keseluruhan menurun. Dalam kondisi yang demikian, ibu akan kesusahan merawat bayinya.

Vera mengatakan bahwa pemberian ASI eksklusif maupun pembangunan ikatan antara ibu dan bayi pun dapat terganggu kalau ibu mengalami baby blues atau depresi sesudah melahirkan.

"Ini dapat mempengaruhi hubungan antara ibu dan bayi, termasuk kesulitan dalam berinteraksi dan mengembangkan keterampilan bayi.”

“Bayi yang ibunya mengalami baby blues berkepanjangan mungkin mengalami perkembangan yang terhambat," kata Vera. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler