Wakil Ketua MPR Tekankan Pentingnya Meluruskan Sejarah dari Mitos

Jumat, 05 November 2021 – 20:51 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat saat saat menjadi pembicara kunci dalam acara 'Monolog dan Diskusi Buku: Kepak Cinta Pengawal Langit-Pentingnya Keberanian Bangsa Melawan Sebuah Dusta dan Kebohongan' di Fort Amsterdam, Leihitu, Maluku, Jumat (5/11). Foto: Humas MPR RI

jpnn.com, AMBON - Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan upaya meluruskan sejarah merupakan wujud penghargaan terhadap para pahlawan yang telah berkorban merebut kemerdekaan.

Hal itu dia sampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam acara 'Monolog dan Diskusi Buku: Kepak Cinta Pengawal Langit-Pentingnya Keberanian Bangsa Melawan Sebuah Dusta dan Kebohongan' di Fort Amsterdam, Leihitu, Maluku, Jumat (5/11).

BACA JUGA: Sujiwo Tejo Turut Diminta Memopulerkan Sosok Ratu Kalinyamat

"Fort Amsterdam ini bukti dari gigihnya perlawanan masyarakat Hitu di Ambon dalam melawan penjajah Belanda," sebut Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat dalam acara tersebut.

Dia menceritakan Kerajaan Hitu juga pernah bersama Ratu Kalinyamat dari Jepara melawan Portugis saat berusaha menguasai nusantara.

BACA JUGA: Nilai Kepahlawanan Ratu Kalinyamat Harus Jadi Teladan Anak Bangsa

Namun, Ratu Kalinyamat dari Jepara selama ini justru masih dianggap sebagai legenda dan ratusan tahun diberi image negatif oleh publik dengan selalu mengedepankan Ratu Kalinyamat sebagai pendendam dan ratu yang menghalalkan segala cara dalam memerangi musuhnya.

Padahal pada penelitian dua tahun terakhir yang dilakukan Pusat Kajian Ratu Kalinyamat pimpinan Prof Ratno Lukito telah ditemukan bukti-bukti primer yang menguatkan fakta justru Ratu Kalinyamat merupakan penggagas konsep poros maritim di nusantara.

BACA JUGA: Ratu Kalinyamat Gagas Poros Maritim Abad XVI

Konsep poros maritim itu dilakukan Ratu Kalinyamat melalui pembentukan aliansi dengan sejumlah kerajaan dari Aceh sampai Hitu di Ambon dalam melawan penjajah Portugis.

"Fakta-fakta sejarah yang ditemukan tersebut harus menjadi pengetahuan masyarakat luas agar sejarah bangsa ini dapat dipahami dengan baik sekaligus meluruskan sejumlah fakta yang terdistorsi oleh legenda dan mitos yang berkembang selama ini," papar Rerie.

Dalam sambutannya, Gubernur Maluku Murad Ismail menegaskan Fort Amsterdam di Leihitu adalah tempat bersejarah yang harus dipahami generasi muda, sekaligus bukti kemerdekaan negeri ini diperjuangkan secara bersama-sama oleh kerajaan-kerajaan di nusantara pada masa lalu.

Karena itu, Gubernur Murad berharap di masa kemerdekaan ini para generasi muda juga harus secara bersama-sama membangun negeri.

Guru Besar Universitas Pattimura Ambon Aholiab Watloly berpendapat buku Kepak Cinta Pengawal Langit-Pentingnya Keberanian Bangsa Melawan Sebuah Dusta karya Dr Connie Rahakundini Bakrie ini mengajak pembacanya untuk mengenal nusantara ini dengan cinta.

Menurut Aholiab, buku ini juga mengungkapkan bahwa di nusantara ini banyak memiliki pejuang perempuan yang ikut ambil bagian dalam merebut kemerdekaan, karena cintanya terhadap tanah air.

"Dalam buku ini pembaca diberi pesan bahwa cinta itu harus diperjuangkan, tanpa perjuangan cinta hanya isapan jempol belaka," ujarnya.

Dosen Universitas Paramadhina Luthfi Assyaukanie berpendapat buku ini berbicara tentang cinta, para pejuang perempuan dan sejarah nusantara di masa lalu.

Vice President Oic Youth Diskah Resha Putra menilai buku karya Connie ini banyak memuat catatan sejarah dan sepak terjang pejuang perempuan yang belum banyak diketahui masyarakat, seperti Raru Shima dan Ratu Kalinyamat.

Menurut Diskah, buku ini juga mengulas masalah-masalah pertahanan negara yang sangat penting untuk diketahui generasi muda.

Karena itu, Diskah menegaskan sebagai anak muda harus memahami besarnya pengorbanan para pejuang di masa lalu.

"Tanpa andil para pejuang, kami sebagai generasi muda tidak ada di sini," tegasnya. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler