Warga Pekanbaru Eksodus

Minggu, 16 Maret 2014 – 03:53 WIB

jpnn.com - PEKANBARU - Terjebak di kota yang penuh asap selama berhari-hari membuat warga Kota Pekanbaru, Riau, mulai tidak betah. Sejak kemarin (15/3) mereka beramai-ramai melakukan eksodus ke beberapa kota di luar daerah yang udaranya masih segar karena tidak terjangkau kepulan asap dari lahan-lahan yang dibakar. 

Berdasar pantauan Riau Pos (Jawa Pos Group), kota yang menerima limpahan eksodus paling banyak adalah Batam dan Tanjung Balai Karimun Dua kota itu didatangi warga Pekanbaru melalui dermaga Pelabuhan Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit.

Kepala UPTD Pelabuhan Mengkapan Dishub dan Infokom Siak Qomaruddin mengungkapkan, sejak dua hari lalu jumlah penumpang kapal jurusan Siak-Batam -yang biasanya berangkat sekali dalam sehari- bertambah banyak. "Pada Jumat lalu (14/3) empat angkutan kapal diberangkatkan ke Batam dengan kapasitas masing-masing kapal 500 penum­pang," ujar Qomaruddin di Siak kemarin. 

Lonjakan penumpang disebabkan bandara di Pekanbaru lumpuh total. Maka, alternatif lainnya adalah menggunakan kapal menuju Batam. Dari Batam, baru perjalanan dilanjutkan dengan pesawat udara. "Total dua hari ini saja, sudah dua ribu penumpang yang diberangkatkan dari dermaga ini," sebutnya.

Nasib malang warga Riau yang dirundung asap betul-betul mengusik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tak hanya memerintah dari kejauhan, mulai kemarin presiden juga mewujudkan janjinya untuk datang ke Riau guna memimpin penanganan bencana asap secara langsung. Akibatnya, beberapa agenda dari kunjungan kerja ke Solo, Jawa Tengah, dibatalkan 

Namun, perjalanan Presiden SBY ke Riau tidak berjalan mulus. Semula rombongan presiden direncanakan berangkat dari Lanud Adi Soemarmo, Solo, menuju Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Namun, di tengah perjalanan, kabut asap kian tebal. Tujuan akhirnya dialihkan dan pesawat mendarat sementara di Bandara Hang Nadim, Batam. Rombongan SBY berada di Batam sekitar 30 menit. Rombongan kemudian melanjutkan penerbangan ke Pekanbaru dan tiba dengan selamat kemarin sore. 

Tak banyak membuang waktu, SBY langsung melakukan koordinasi di Lanud Roesmin Nurjadin. Presiden meminta satuan tugas penanggulangan asap bekerja lebih maksimal. Dia berharap penanganan selesai dalam tiga pekan ke depan. Hadir dalam pertemuan itu petugas penanggulangan asap dari TNI, BNPB, petugas pemadaman dari perusahaan PT RAPP, dan relawan dari masyarakat. "Yang penting, dalam tiga minggu ini kita selesaikan tugas kita. Karena banyak warga saudara-saudara kita yang tidak berdosa menderita akibat ulah pelaku, yakni orang yang tidak bertanggung jawab (pembakar lahan)," tegas presiden.

Menurut SBY, untuk menanggulangi kebakaran lahan dengan cepat, perlu ditingkatkan penanganan secara darurat terpadu. "Saya yakin dalam tiga pekan ini asap akan teratasi. Apa kalian sanggup?" tanya SBY. "Sanggup," teriak semua petugas. "Bagus! Untuk itu, saat ini kita bekerja," tegas SBY mengakhiri instruksinya.

Sementara itu, permintaan SBY untuk mengirim satu brigade pasukan TNI ke Riau langsung direspons. Kemarin 1.800 pasukan TNI diterbangkan ke Riau untuk menambah jumlah personel yang telah disiagakan sebelumnya di sana. Pasukan tersebut diterjunkan untuk ikut memadamkan kebakaran.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko memimpin langsung apel pemberangkatan pasukan itu dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Mereka terdiri atas 900 personel TNI-AD, 450 personel Marinir TNI-AL, dan 450 personel Paskhas TNI-AU. Mereka dikomando Staf Ahli Panglima TNI Mayjen Iskandar. "Melihat kondisi saat ini, TNI memandang perlu menambah kekuatan dalam rangka mempercepat proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan," ujar Moeldoko. Mereka akan melengkapi 925 personel TNI yang dari awal sudah berjibaku dengan kebakaran di Riau.

Moeldoko menjelaskan, tugas para prajurit dalam operasi pengendalian kebakaran lahan dan hutan di Riau dibagi menjadi tiga. Pertama, tentu saja memadamkan kebakaran dari darat maupun udara. Kedua, membantu aparat kepolisian memburu pembakar hutan. Ketiga, memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat setempat. Menurut Moeldoko, layanan kesehatan terhadap masyarakat Riau saat ini sangat mendesak. "Ada sekitar 53.000 orang yang sakit akibat kebakaran tersebut," tutur doktor ilmu administrasi dari Universitas Indonesia itu. 

Selain mengirim pasukan, lanjut Moeldoko, pihaknya mengerahkan sepuluh pesawat militer. Terdiri atas sembilan pesawat Hercules C-130 dan satu CN-295. Jumlah tersebut masih ditambah dengan beberapa helikopter TNI-AD, AL, dan AU. 

Kendaraan-kendaraan itu akan memadamkan kebakaran dari udara dengan teknik water bombing. Juga digunakan untuk pe­ninjauan udara dan kendaraan SAR. Untuk pemadaman dari darat, sejumlah truk dan mobil damkar juga diperbantukan.

Moeldoko menambahkan, keberadaan prajuritnya di Riau diyakini banyak membantu proses pemadaman kebakaran. "Dengan kekuatan yang sebelumnya 925 personel, TNI berhasil memadamkan 140 titik api seluas 2.871 hektare," ungkapnya. Dengan begitu, bencana asap di Riau diharapkan bisa cepat diakhiri.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memantau perkembangan bencana asap di Riau. Direktur Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama menerangkan, sejak kemarin kondisi asap di Riau mengalami perkembangan positif.

Tjandra membeberkan sejumlah indikasi membaiknya musibah bencana asap di Riau. Di antaranya, jarak pandang yang sebelumnya rata-rata 500 meter kini mulai agak membaik menjadi 1.500 meter atau 1,5 kilometer. (ken/byu/wan/jpnn/c9/kim) 

BACA JUGA: Tak Naik Kelas, 8 Bulan Pamit Sekolah

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mantan Sekda Dituntut 7 Tahun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler