Warga Riau: Ini Bukan Asap Tapi Azab

Kamis, 13 Maret 2014 – 10:56 WIB
Indikator udara di Pekanbaru menunjukan bahwa udara di Ibukota Provinsi Riau itu berbahaya untuk dihirup akibat polusi asap. Kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan, memaksa sekolah diliburkan dan bandara ditutup. FOTO: Afni/jpnn.com

jpnn.com - PEKANBARU - Meski pemerintah mengklaim sudah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi bencana kabut asap yang sudah sebulan lebih melanda Riau, namun sepertinya tidak terlihat perkembangan berarti. Bahkan kondisi kabut asap dari hari ke hari, bukannya berkurang tapi justru bertambah parah.

Seperti pantauan JPNN, Kamis (13/3), kabut asap menyelimuti hampir seluruh kota Pekanbaru. Ketebalannya bahkan lebih parah dari hari sebelumnya. Jarak pandang normal hanya sekitar 100 meter bahkan kurang. Karenanya hampir semua kendaraan harus menyalakan lampu kendaraan mereka agar terhindar dari kecelakaan.

BACA JUGA: Tentara Sudah Dirikan Pos Pengungsi

Kondisi yang parah terlihat merata, mulai dari wilayah Rumbai, Pekanbaru kota hingga wilayah Kulim. Masyarakat pun memilih bertahan di rumah masing-masing. Kalaupun beraktifitas, semuanya memilih menggunakan masker. Sekolah kembali diliburkan, sedangkan penerbangan untuk kesekian kalinya juga dibatalkan.

Papan pengumuman yang menunjukan indikator kualitas udara, pagi ini masih menampilkan tulisan 'Sangat Berbahaya'. Menandakan bahwa warga kota Pekanbaru dan sekitarnya, kembali dipaksa menghirup racun dari asap dan tidak akan mendapatkan udara segar.

BACA JUGA: Banyumas Fokus Amankan Tujuh Desa di Lereng Slamet

"Sudah hampir sebulan lamanya, kami tak melihat langit biru ataupun cahaya matahari karena tertutup asap. Ini sudah bukan lagi bencana asap, tapi azab," ujar Zulfikar, seorang warga pada JPNN.

Ia berkeluh kesah soal lambannya penanganan yang dilakukan pemerintah, dalam menanggulangi dampak kebakaran hutan dan lahan, yang mengakibatkan kabut asap dalam jumlah sangat besar.

BACA JUGA: Rakor Gunung Slamet, Sejumlah Pejabat Absen

"Mau sampai kapan kami warga Riau menghirup racun begini? Kasihan anak-anak kami. Mereka harus berdiam di rumah saja, itupun asap sudah sepekan ini masuk juga ke rumah.Kami tak bisa kemana-mana karena dimana-mana cuma ada asap. Siang, sore, malam, pagi, asap tak pernah pergi. Terlalu lama penanganannya, korban sudah banyak," kata Zulfikar.

Masyarakat pun sempat dibuat resah dengan beredarnya pesan berantai, mengatasnamakan RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, yang menginformasikan bahwa kualitas udara yang buruk di Riau, membuat Riau tak lagi layak huni untuk 6 juta penduduknya. Karena itu disarankan masyarakat harus segera diungsikan.

Broadcast ini masih belum dapat diinformasikan kebenarannya dari pihak terkait. Namun bagi Zulfikar, bila melihat kondisi yang terjadi sekarang ini, Riau khususnya Pekanbaru, memang bukan kota layak huni.

"Bagaimana bisa hidup sehat kalau tiap hari yang dihirup racun asap bukan oksigen. Tapi repot juga, mau mengungsi kemana? Semua daerah terdekat seperti Sumbar dan Jambi juga kena asap. Belum lagi bandara yang tiap hari ditutup. Ini sudah azab.Karena itu yang dibutuhkan bukan sholat minta hujan saja, tapi juga sholat taubat biar azab asapnya segera diakhiri," kata Zulfikar dengan nada tinggi.

Dilaporkan saat ini, warga yang terkena ISPA mencapai 41.589 jiwa. Diantaranya 1.544 jiwa menderita asma, 1.385 jiwa menderita iritasi mata, 2.084 jiwa terkena iritasi kulit dan 862 jiwa terkena pneumonia. (afz/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Slamet Semburkan Asap Hitam, Warga Masih Santai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler