Waspada Ibu-ibu! Denpasar Kini Dikepung Spa Plus-plus

Jumat, 19 Februari 2016 – 06:45 WIB
Terapis dijaring razia. Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - DENPASAR--Layaknya Jakarta, diduga kuat, kasus perdagangan manusia di Bali berlangsung liar dan cenderung masif.

Bila di ibu kota ada spa Hotel Akoya (dekat Istana Presiden) yang mempekerjakan remaja 14 tahun berinisial A dan 12 perempuan lainnya sebagai terapis merangkap pekerja seks komersial, di Bali hal serupa juga terjadi.

BACA JUGA: Pendaki Tuna Daksa akan Taklukkan Gunung di Argentina bareng TNI

Selain lokalisasi di wilayah Sanur, Kuta, Nusa Dua, dan beberapa titik di Kota Denpasar yang konon “dipelihara” hingga sulit diberangus, kini Denpasar juga diserbu layanan spa plus-plus.

 Informasi yang berhasil dihimpun baliexpressnews.com, (Jawa Pos Group) keberadaan spa esek-esek ini bukan sekadar isapan jempol. Bahkan, Rabu, 20 Januari 2016 lalu, I Gede Didit Prasetya, 39, bos Spa Refresh Jalan Tukad Batanghari, Denpasar dicebloskan ke sel.

BACA JUGA: Menyedihkan, di Bali Ada yang Hidup 60 tahun Tanpa Listrik

 Pria kelahiran Singaraja itu diketahui telah memudahkan perbuatan cabul antara seorang terapis bernama Mardiana alias Yeyen dengan Ketut Partika pada 14 Agustus 2015 sekitar pukul 14.30 bertempat di Spa Refresh.

Saat itu Partika memilih pijat sensasi spider massage seharga Rp 600 ribu. Pada jenis pijat tersebut tamu tidak memakai sehelai benang pun. Sedangkan , sang terapis hanya memakai pakaian dalam. Layanan ini ada tambahan aktivitas lainnya alias plus-plus.

BACA JUGA: Wakil Bupati Ganteng, Pernah Hidup Susah Jarang Makan Nasi, Hanya Singkong

Terdakwa I Gede Didit Prasetya memiliki 14 orang terapis dan menawarkan 5 jenis massage sensasi. Hasil pelayanan pijat tersebut dikumpulkan oleh akunting  Ida Ayu Wulandari sebelum disetor kepada terdakwa. Terdakwa diancam pidana 296 KUHP dan pasal subsider pasal 506 KUHP.

Mirisnya, sanksi pidana I Gede Didit Prasetya tak membuat pelaku prostitusi lainnya jera. Pengelola bisnis lendir, khususnya spa esek-esek di Bali masih aman-aman saja.

Salah satu bisnis spa plus-plus yang terpantau koran ini berlokasi di pusat Kota Denpasar. Spa berinisial TS itu beroperasi setiap hari mulai pukul 09.30-21.30.

Untuk paket Rp 250 ribu, tamu mendapat service pijat full plus-plus tapi terapis tetap berpakaian. Untuk paket Rp 350 ribu service yang diberikan adalah pijat full, sensasi,  plus-plus. Namun terapis hanya memakai bikini.  Sementara itu, untuk service paket Rp 450 ribu mencakup pijat full, sensasi, plus-plus dan terapis hanya pakai celana dalam tanpa melepasnya. Semua paket ini berdurasi satu jam. TS juga menyediakan servis melebihi satu jam. Ada paket yang lebih mahal lagi, di mana pelanggan mendapatkan full service.

Menyikapi fenomena tersebut, Kabidhumas Polda Bali Kombes Hery Wiyanto menegaskan bahwa masalah prostitusi sangat pelik dan sudah menjadi masalah sosial bersama. Pemberantasannya mengharuskan adanya sinergi antara pemerintah daerah, DPR, tokoh masyarakat, dan pihak keamanan, baik Polri maupun TNI.

Disinggung dugaan adanya anggota polisi yang membekingi bisnis lendir tersebut, Kombes Hery tegas melarangnya.

 “Anggota Polri dilarang masuk dan memungut upeti di tempat prostitusi seperti itu,” tegasnya.

Menurutnya, anggota Polri yang terbukti melakukan pelanggaran seperti demikian wajib ditindak tegas sesuai prosedur hukum yang berlaku oleh Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Propram).  (*/surya kencana/mus/flo/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hari Ini Baduy Dalam Ditutup untuk Wisatawan, Kenapa ya?


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler