Waspadai Silent Killer, Begini Gejala Tersembunyi Kanker Ovarium...

Minggu, 30 Mei 2021 – 10:17 WIB
Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr Pungky Mulawardhana, Sp.OG (K) mengatakan gejala tersebut harus diwaspadai agar bisa didiagnosis secara dini. Foto: Antara

jpnn.com, JAKARTA - Gejala awal dari kangker ovarium dinilai sulit terdeteksi.

Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr Pungky Mulawardhana, Sp.OG (K) mengatakan gejala tersebut harus diwaspadai agar bisa didiagnosis secara dini.

BACA JUGA: Ladies, Ini 4 Makanan Sehat untuk Penderita Kanker Payudara

"Kanker ovarium adalah silent killer karena pada stadium awal umumnya tidak terdeteksi," kata Pungky dalam webinar kesehatan, Sabtu (29/5).

Menurutnya sebanyak 70-80 persen kanker ovarium didiagonosis pada stadium lanjut di mana angka ketahanan hidupnya rendah.

BACA JUGA: Petenis Peringkat 6 Dunia Sembuh dari Kanker, Tancap Gas Ikut French Open

Padahal, Pungky menyebut bila penyakit itu diketahui sejak awal dan dilakukan terapi sedini mungkin, tingkat kesembuhan pun lebih tinggi.

"Ketahanan hidup lebih baik," katanya.

BACA JUGA: Sembuh dari Kanker, Carla Suarez Bergairah Menyambut Roland Garros

Dia memerinci gejala-gejala awal kanker ovarium tidak spesifik, tapi tetap harus diwaspadai, seperti perut terasa kembung, perut terasa sering penuh ketika makan, sering buang air kecil dan nyeri panggul kronis.

Ciri-ciri yang tidak spesifik itu kerap membuat pasien baru memeriksakan diri ketika gejala lainnya terasa pada stadium lanjut.

Ketika kanker sudah melewati stadium awal, gejala yang mungkin dirasakan adalah sakit punggung, kebiasaan buang air besar yang berubah serta rasa sakit ketika berhubungan intim.

“Kanker ovarium jarang ditemukan pada stadium awal karena berkembang secara tersembunyi dan hampir tidak bergejala. Bila timbul gejala klinis, umumnya merupakan akibat dari pertumbuhan, perkembangan, serta komplikasi yang sering timbul pada tingkat stadium lanjut," jelas dia.

Pungky menuturkan ketika keadaan sudah pada stadium yang lanjut, kanker akan sulit untuk disembuhkan.

Operasi dan kemoterapi adalah penanganan yang umum dilakukan untuk kanker ovarium. Setelah diobati, 80 persen pasien dengan kanker stadium 2-4 rentan mengalami kekambuhan atau rekurensi sebagian besar pada dua tahun pertama.

Setelah lima tahun monitoring berkala, bila tidak ada keluhan pasien tak perlu memeriksakan diri lagi.

Maka, fokus saat ini adalah deteksi, diagnosis, serta terapi dini.

"Pada kanker ovarium stadium awal, di mana penyakit ini masih terbatas di ovarium, penanganan dan pengobatan memiliki kemungkinan besar untuk berhasil," ungkapnya.

Sayangnya, lanjut Pungky, operasi masih jadi momok untuk sebagian masyarakat sehingga orang-orang enggan memeriksakan diri karena khawatir harus melewati pengobatan tersebut.
Ada kecenderungan orang-orang baru pergi ke dokter bila keluhan yang dirasakan betul-betul terasa nyeri.

"Kalau tidak nyeri hebat, tendensinya tidak ke dokter," kata dia.

Pungky menyarankan untuk perempuan yang sudah aktif secara seksual, pemeriksaan bisa dilakukan dengan USG transvaginal, pencitraan menggunakan gelombang suara yang dipancarkan lewat vagina untuk memeriksa organ reproduksi.

Pada USG transvaginal, karena dekat dengan organ kandungan, gambaran yang didapatkan lebih akurat.

"Bagi yang belum berhubungan seks, deteksi kanker ovarium bisa dilakukan dengan USG perut. Namun akurasinya tidak setinggi USG transvaginal. Meski demikian, nantinya dokter yang bisa memutuskan metode terbaik untuk setiap individu," bebernya.

Pungky membeberkan ada beberapa faktor yang membuat seseorang rentan terkena kanker ovarium, yakni angka paritas yang rendah, usia yang bertambah, gaya hidup buruk seperti merokok dan stres, endometriosis dan ada riwayat keluarga kanker ovarium atau payudara serta mutasi genetik (BRCA).

Dokter menyarankan masyarakat untuk berhubungan seks secara aman, tidak merokok, menjalani vaksinasi HPV, memeriksa kandungan secara rutin dengan USG, pap semar dan deteksi dini kanker mulut rahim.

"Juga memeriksakan diri ke tenaga medis bila ada keluhan," ujar Pungky. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler