Wirdjo, sang Pembunuh Belasan Orang, Sungguh Mengerikan!

Minggu, 13 Agustus 2017 – 13:14 WIB
Sutedjo menunjukkan makam alm Wirdjo di Lingkungan Watubuncul, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Foto: NIKLAAS ANDRIES/RADAR BANYUWANGI

jpnn.com - Tragedi pembunuhan belasan orang dan melukai puluhan orang oleh pelaku tunggal Wirdjo pada April 1987 silam, jadi salah satu lembaran hitam sejarah Banyuwangi, Jatim.

Tidak banyak referensi peristiwa kelam 30 tahun silam itu. Kini, pihak keluarga Wirdjo lebih terbuka menceritakan sosok dan sisi lain lakon tragedi menakutkan itu.

BACA JUGA: Jelang Pilgub Jatim, Sekjen PDIP Sebut Bupati Banyuwangi Sudah Jadi Bakal Cagub

NIKLAAS ANDRIES, Banyuwangi

LINGKUNGAN Watu Buncul, di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi memang asri. Di tengah himpitan perkembangan permukiman, kampung ini masih menyimpan potensi alam yang asli.

BACA JUGA: Coming Soon! Banyuwangi Punya Kereta Gantung di Kawah Ijen

Aliran air di sungai tampak jernih. Pematang sawah sejauh mata memandang cukup mampu menyejukkan mata.

Di tengah keelokan alam yang dimilikinya itu, daerah ini menyimpan cerita kelam di tahun 1987. Persisnya pada medio April 30 tahun lalu.

BACA JUGA: Bupati Anas Berbagi Pengalaman soal Smart Kampung di Forum Wali Kota Malaysia

Tragedi berdarah yang cukup menghebohkan masyarakat Banyuwangi dimulai dari tempat ini. Puluhan orang menjadi korban pembacokan, belasan orang di antaranya pun harus meregang nyawa.

Sosok fenomenal kala itu tertuju pada sosok pemuda kampung yang kemudian terkenal seantero Banyuwangi. Wirdjo namanya. Usianya saat itu masih sekitar 35 tahun.

Sepak terjang pria ini, membuat ribuan warga yang tersebar di Desa Olehsari (Kecamatan Glagah), Desa Kemiren (Kecamatan Glagah), Desa Boyolangu (Kecamatan Giri), hingga Desa Kelir (Kecamatan Kalipuro) diliputi ketakutan yang teramat sangat. “Banyak yang nggak enak makan dan tenang saat itu,” kenang Sutedjo, paman Wirdjo.

Sutedjo, 65, yang tinggal tidak jauh dari kediaman Wirdjo, merupakan saksi mata atas insiden berdarah itu.

Usianya kala itu tidak terpaut jauh dengan keponakannya tersebut. Lewat penuturannya, kepingan puzzle yang tercecer dalam sejarah kasus berdarah itu mulai tersingkap.

Wirdjo sendiri merupakan pemuda asli kampung Watu Buncul. Dia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dari buah pernikahan pasangan Soenar dan Mak Jas.

Meski anak desa, Wirdjo sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar semasa kecilnya. Di kampungnya, dia dikenal sebagai sosok yang keras, temperamental, dan terkadang sering berperilaku nyeleneh.

Sikap keras dan temperamental Wirdjo ini pun tampak tergambar jelas saat bersama sang istri. Dia pun tidak segan naik darah, saat ada orang yang memandang istrinya. Sumbu pendek Wirdjo yang mudah meledak ini pula, yang rupanya dimaklumi oleh istrinya.

Saat berjalan dengan sang suami, dia hanya bisa menunduk dan berjalan di belakang Wirdjo tanpa banyak bicara.

“Papasan lihat istrinya saja, dia bisa marah. Istrinya juga sudah tahu, makanya dia tidak berani jalan di sampingnya. Dia biasanya jalan di belakangnya,” beber Darmi, istri Sutedjo.

Wirdjo juga pernah menjadi bagian dari kejayaan PT Kertas Basuki Rahmat. Dia bekerja di sana sebagai sopir forklift. Cukup lama dia bekerja di pabrik kertas.

Namun perjalanan karirnya di pabrik harus berakhir dengan pemecatan dari pihak manajemen perusahaan.

Ulahnya menabrakkan forklif ke tembok, membuat dia diberhentikan dari pekerjaan di pabrik. Sejak itulah, dia kemudian beralih profesi sebagai petani. Sawah sang kakak yang cukup luas menjadi jujukan kelanjutan roda perekonomian keluarganya.

Sikap nyeleneh Wirdjo rupanya tidak hanya terjadi di tempat kerja. Sutedjo masih ingat benar perilaku Wirdjo semasa hidupnya yang dinilainya tidak seperti pemuda kebanyakan.

Keponakannya itu pernah membuat dirinya heran, saat membuat rujak kecut dari dua buah pepaya. Rujak yang dibuatnya dalam ukuran tidak wajar yakni satu ember.

Yang membuat Sutedjo geleng-geleng kepala adalah campuran cabai yang digunakan Wirdjo untuk rujak kecut itu. Dia membuat rujak kecut dengan cabai sebanyak dua Kilogram.

“Dia sampai teler karena habis setengahnya. Saya cuma ngomel, perutnya bisa terbakar gara-gara cabai segitu,” ujarnya.

Melihat keponakannya itu kelengar, Sutedjo sempat meminta istri Wirdjo, Ndara, untuk membelikan es. Lagi-lagi, Wirdjo menunjukkan sikap nyeleneh.

Rasa pedas yang dirasakannya justru dinetralisirnya mempergunakan 50 butir telur pindang. Sutedjo pun kembali dibuat geleng-geleng keheranan.

Cerita nyeleneh Wirdjo pun terus berlanjut. Kali ini, dia memotong sapi yang digunakannya untuk membajak sawah. Alasannya sederhana, sapi yang digunakan kurang gesit dan tidak kuat untuk dipakai nyingkal. Dia kemudian memberi makan ternak itu dengan ular luwuk.

“Sapinya akhirnya teler diberi makan ular luwuk. Lah ularnya sendiri beracun. Pas sapinya sekarat karena efek diberi makan ular itu, baru dipotong sama dia sapinya,” katanya.

Belum cukup, Wirdjo juga dikenal sebagai pemanjat pohon kelapa yang ulung. Tapi caranya memang di luar orang pada umumnya.

Saat akan memetik buah kelapa, Wirdjo membawa kasur miliknya hingga ke bawah pohon. Ketika sudah berada di atas, buah kelapa kemudian dijatuhkan persis di atas kasur yang dibawanya.

Sutedjo dan istrinya, Darmi pun sempat keheranan saat Wirdjo memanggul kasur dari kamarnya. Meski tidak wajar caranya, alasannya cukup masuk akal.

Bila kelapa sampai pecah maka tidak laku dijual di pasaran. Kasur berfungsi untuk meminimalkan benturan buah kelapa dengan tanah. Kelapa yang jatuh ke kasur pun utuh, dan kemudian layak untuk dijual.

Selain sering bertingkah nyeleneh, Wirdjo juga dikenal dengan selera makan yang luar biasa. Masih ingat dalam benak Sutedjo, bagaimana keponakannya itu menanak nasi dari lima kilogram (5 Kg) beras. Bermodal satu botol minyak goreng, dia kemudian memasak nasi goreng dari hasil menanak nasi 5 Kg itu.

Ajaib, nasi goreng segunung itu pun habis disantap Wirdjo. Meski akhirnya, kebanyakan makan membuat Wirdjo tidak bisa jalan karena kekenyangan.

“Saya bilang harus berendam di air sungai biar kenyangnya hilang,” ujarnya.

Bahkan, dalam sebuah kesempatan, selera makan yang meledak-ledak ini nyaris membuat pemilik warung di sekitaran Perliman (simpang Lima) saat itu takut nasinya tidak terbayar.

Wirdjo yang makan bersama sang paman mampu menghabiskan hingga lima bungkus nasi dalam waktu cepat.

Bahkan satu piring makanan dedeh (darah sapi beku yang dimasak) juga disukainya. Rasanya yang empuk, rupanya juga mengundang selera makannya.

Sutedjo pun hanya bisa mengelus dada kala itu, saat melihat proses makan Wirdjo. “Dia orangnya keras tapi ada nyelenehnya. Saya kalau ingat itu suka ketawa sampai sekarang,” kenangnya.

Sementara itu, alat yang digunakan Wirdjo untuk membabat puluhan orang di berbagai kampung pada hari naas itu ternyata bukan celurit. Masyarakat Suku Osing, khususnya di Kampung Watu Buncul menyebut senjata itu jombret.

Bentuknya menyerupai parang. Bedanya alat ini lebih tipis dan memanjang. Di bagian ujungnya, ada bagian yang melengkung sedikit. Di kalangan petani, jambret sering digunakan untuk memotong rumput.

Alat inilah yang digunakan Wirdjo saat kalap dan melukai puluhan orang tahun 1987 silam. Sutedjo hanya mengingat kejadian yang melibatkan keponakannya itu terjadi sekitar bulan April 1987.

Tanggal pastinya dia lupa. Namun petunjuk atas insiden berdarah itu kemudian ada di makam Wirdjo yang letaknya ada di makan keluarga.

Di batu nisan yang tertulis tanggal wafat Wirdjo pada tanggal 16 April 1987. “Yang pasti sebelum tanggal itu. Sebab setelah ditemukan gantung diri, dia sempat diinapkan di kamar mayat rumah sakit (RSUD Blambangan) selama semalam,” beber Sutedjo.

Lewat keterangan Sutedjo ini pula, penyebab muntabnya Wirdjo mulai terkuak. Sinyal akan datangnya tragedi berdarah itu muncul saat Wirdjo mengasah jombret miliknya. Banyak orang, termasuk Sutedjo yang bertanya apa alasan Wirdjo mengasah alat pemotong rumput.

Jawaban yang keluar dari mulut Wirdjo ternyata cukup singkat. Wirdjo mengaku mengasah jombret sebagai upaya menjaga diri.

Alat itu baru akan digunakan, saat ada orang yang mengganggu dirinya. “Dua hari sebelum kejadian itu, dia mengasah jombret di rumahnya,” beber Sutedjo.

Dan, munculnya insiden berdarah itu pun bermula kemarahan Wirdjo terhadap istrinya. Darmi menceritakan, saat itu istri Wirdjo sedang mencangkul di sawah.

Wirdjo kemudian datang dengan menuntun sapi. Wirdjo saat itu meminta sang istri untuk bergeser agar tidak tertabrak oleh ternak yang dibawanya.

Namun sang istri jawaban atas permintaan itu membuat suaminya muntab. “Istrinya bilang nggak bakalan ditabrak. Masih ada ruang sela,” kenang Darmi.

Wirdjo pun marah sejadi-jadinya. Tongkat pecut yang digunakan untuk memukul sapi, justru diarahkan kepada istrinya. Pukulan bertubi-tubi itu rupanya membuat perempuan itu langsung kabur ke rumah orang tuanya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.

Melihat istrinya pergi, Wirdjo segera mencari istrinya ke rumahnya. Karena tidak ketemu di rumah, dia kemudian berjalan menuju rumah mertuanya. Di sana, dia mengamuk dan mencari istrinya.

“Wirdjo ngamuk di sana karena cari istrinya. Hansip sampai tidak berani menenangkan,” ujar Sutedjo.

Dia pun kemudian pulang ke rumah. Bermodal jombret inilah, Wirdjo memulai kisah horor dengan aksi sadisnya kala itu. Dia tidak pilih-pilih korban. Bahkan, beberapa korban masih berstatus familinya sendiri. Dia menjalankan aksinya dengan dingin. “

Ada korbannya perempuan tua yang sering ngantar makanan Wirdjo saat di sawah. Dipanggil ke rumahnya langsung dibacok,” ujarnya.

Dengan berjalan kaki, Wirdjo mampu melukai 37 orang di desa yang dilaluinya. Dari puluhan korban itu, 17 orang di antaranya harus merenggang nyawa.

Usai berkelana sehari mencari korban, Wirdjo sore harinya terlihat di dekat sebuah sungai masuk daerah Dusun Delik dan Gerangan di Desa Kemiren, Glagah. Lokasinya kurang lebih berada tidak jauh dari sungai dekat bagian timur Wisata Osing saat ini.

Keberadaannya sempat diketahui seorang pemanjat kelapa. Wirdjo masuk ke saluran air di sungai yang banyak ditumbuhi tanaman liar. “Saya sempat diberi tahu dan datang ke lokasi itu. Tapi saya biarkan dulu di sana,” ujar Sutedjo.

Keesokan harinya, Sutedjo dibantu polisi dan tentara menyisir daerah itu. Di sanalah, kemudian keponakannya itu sudah ditemukan tidak bernyawa dengan posisi gantung diri. Dia mengenakan celana pendek tanpa baju dan kakinya terendam di aliran sungai.

Sejak kejadian itu pula, istri Wirdjo juga tidak jelas keberadaannya. “Sejak kejadian itu istrinya tidak lagi ada di sana,” katanya. (bay/bersambung)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kuala Lumpur Minta Bupati Banyuwangi Berbagi Pengalaman soal Inovasi Daerah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler