Wong Cilik Menjadi Sumber Inspirasi Bung Karno

Sabtu, 19 Juni 2021 – 21:17 WIB
Dr. Retor A.W Kaligis, M.Si, Dosen Fikom Universitas Pancasila, dalam ‘Talkshow & Musik Bung Karno Series’ Episode ke-19 bertema "Bung Karno dan Wong Cilik" yang dipandu oleh Rizka, Sabtu (19/6). Foto: Istimewa.

jpnn.com, JAKARTA - Proklamator Kemerdekaan RI Bung Karno dikenal sebagai sosok yang sangat merakyat.

Gagasannya saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia banyak diilhami oleh kehidupan rakyat kecil yang tertindas kondisi sosial ekonomi atau yang biasa disebut sebagai wong cilik.

BACA JUGA: Diplomasi Gastronomi ala Bung Karno Berhasil Menunjukkan Citra Bangsa

Termasuk saat Bung Karno menjadikan wong cilik sebagai inspirasinya.

Sikap Bung Karno seperti ini sudah terbentuk sejak kecil.

BACA JUGA: Hasto: Jaring Pengaman Sosial Harus Pro Wong Cilik

Sebab, Bung Karno berasal dari kalangan wong cilik.

Pokok pikiran ini menjadi pembuka pembicaraan oleh Dr. Retor A.W Kaligis, M.Si, Dosen Fikom Universitas Pancasila, dalam ‘Talkshow & Musik Bung Karno Series’ Episode ke-19 bertema "Bung Karno dan Wong Cilik" yang dipandu oleh Rizka, Sabtu (19/6).

BACA JUGA: Putra Bung Karno Minta Presiden Menerapkan Ambeg Parama Arta, Begini Penjelasannya

“Kalau Bung Karno sendiri dari sejarah hidupnya merupakan bagian dari wong cilik. Sejak kecil dia diasuh dari kalangan wong cilik yang namanya Sarinah, perempuan desa yang sederhana,” jelas Retor.

Anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia itu menjelaskan Bung Karno sangat tahu betul bagaimana jiwa dan perasaan wong cilik.

Bung Karno, kata dia, tumbuh dalam didikan wong cilik.

Bung Karno diajarkan untuk saling mengasihi dan menyayangi di antara sesama dalam arti yang luas.

Perasaan dan sikap Bung Karno untuk selalu berpihak kepada sesamanya itu semua didapatkan di lingkungan wong cilik.

Retor menambahkan ketika Soekarno pergi ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi, meskipun pada ruang, waktu, dan tempat yang berbeda, perhatian Bung Karno tidak pernah terlepas dari wong cilik.

Jadi, kata dia, ketika Bung Karno kuliah di Bandung itu tidak hanya sekedar duduk di kampus untuk mempelajari ilmu-ilmu yang baru.

Namun, Bung Karno turut serta terjun dan bergaul dengan masyarakat sekitar.

“Ketika kuliah di bandung tak sekadar kuliah di kampus, beliau juga menyaksikan penderitaan wong cilik. Ketika itu Bung Karno bertemu dengan seorang petani yang bernama Marhaen,” jelas Retor.

Penulis buku Marhaen dan Wong Cilik itu menjelaskan ketika Bung Karno bersekolah di Technische Hoogeschool (THS), banyak menyaksikan pemandangan-pemandangan yang pahit.

Kemudian, menyaksikan langsung bagaimana rakyat Indonesia yang hidup dalam kemelaratan, kemiskinan dan serba kekurangan.

Kemelaratan dan kemiskinan rakyat tidak luput dari perhatiannya.

Sikap inilah yang menjadi energi penggerak bagi Bung Karno untuk memperjuangkan serta membela nasib rakyat miskin.

“Di nusantara ini subur, tetapi rakyatnya banyak yang miskin atau dimiskinkan. Itu karena penindasan baik dari feodalisme, kapitalisme, atau imperalisme. Rakyatnya mengalami kemiskinan di tengah alam yang subur,” lanjut Retor.

Sejak saat itu, kata dia, dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Bung Karno bertekad senantiasa memperjuangkan hak-hak dan keberpihakannya kepada wong cilik.

Rakyat Indonesia harus benar-benar makmur dan tercukupi kebutuhannya.

“Kemerdekaan bagi Bung Karno tidak sekadar kemerdekaan bangsa, tetapi pembebasan rakyat dari penindasan,” lanjut Retor.

Di sisi lain, kata dia, yang menjadi perhatian Bung Karno dari kemiskinan dan kemelaratan rakyat Indonesia adalah karena penindasan, dimiskinkan secara sistem. Padahal, lanjut dia, sejatinya wong cilik ini mempunyai alat produksi yang bisa mereka gunakan untuk bekerja.

Dalam sesi penutup diskusi, Retor menjelaskan terkait perbedaan proletar dan Marhaen.

“Marhaen itu berbeda dengan proletar. Orang proletar adalah mereka yang tidak mempunyai alat produksi, sedangkan marhaen itu punya alat produksi, dalam hal ini punya cangkul dan lain-lain tetapi miskin atau mengalami pemiskinan,” pungkas Retor. (boy/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler