Kabar Terbaru Nasib 17 Pendukung Anies Baswedan yang Ditangkap Teman Sendiri

Selasa, 14 Januari 2020 – 23:36 WIB
Kabar Terbaru Nasib 17 Pendukung Anies Baswedan yang Ditangkap Teman Sendiri - JPNN.COM
Salah satu massa aksi pendukung Anies Baswedan, Roni (kiri) dan orator massa pendukung Anies Baswedan, Lukman Abidin (kedua kiri) menerangkan mengenai 17 orang diamankan di Balai Kota Jakarta. Foto: Antara/Ricky Prayoga

jpnn.com, JAKARTA - Di tengah aksi massa di Balai Kota DKI Jakarta siang tadi, para pendukung Gubernur Anies Baswedan menyerahkan 17 orang yang diduga penyusup ke polisi. Orang-orang tersebut kemudian dibawa meninggalkan Balai Kota oleh aparat kepolisian.

Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Tahan Marpaung mengatakan, 17 orang itu telah dipulangkan ke rumah masing-masing. Pasalnya, mereka adalah pendukung Anies dan bukan penyusup seperti yang dituduhkan.

"Tidak ada yang dibawa ke kantor polisi, kan tadi ustadznya (Lukman Abidin) yang minta mereka dikeluarkan dari Balai Kota. Mereka sudah dipulangkan masing-masing, kami lepaskan. Orang tidak berbuat apa-apa kok, gak ada yang ribut," kata Tahan saat dihubungi, Selasa (14/1).

"Itu dari kelompok mereka yang dicurigai sebagai provokator, ternyata grup mereka juga jadi tadi perintah ustadnya dinaikkan ke mobil dibawa dari situ," ucap Tahan.

Saat ditanyakan apakah 17 orang tersebut adalah kelompok pendukung Anies yang berniat menyatroni massa yang menuntut pertanggungjawaban Anies soal banjir Jakarta, Tahan membenarkannya.

"Iya, mereka bagian yang dihalau itu. Kami imbau agar jangan dipukulin saat diamankan ormas. Mereka diamankan agar tidak ada hal yang tidak diinginkan. Akhirnya dibawa keluar dari Balai Kota untuk menjauh," ucapnya.

Aksi massa yang terjadi Selasa ini, diketahui disebabkan kejadian banjir Jakarta yang terjadi pada 1 Januari 2020. Satu massa meminta pertanggungjawaban Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (di Patung Arjuna Wijaya), sementara satu massa aksi lainnya mendukung Anies (di Balai Kota). (ant/dil/jpnn)

Abu Janda: Warga Jakarta Butuh Penyelesaian Bukan Pencitraan

loading...