Menguak Proyek Raksasa Asahan
Memoar Bisuk SiahaanSelasa, 08 Desember 2009 – 20:46 WIB
Semangat pantang menyerah inilah yang kemudian ditulis Bisuk Siahaan dalam memoarnya berjudul "Proyek Asahan menantang Badai Demi Hari Depan" yang diterbitkan Kempala Foundation sebagai kenangan beliau memasuki usia 74 tahun. Sebelumnya di tahun 1986, Bisuk menuliskan sejarah pembangunan proyek raksasa itu dalam buku “Kenangan Membangun Proyek Raksasa Asahan”, diterbitkan Pustaka Sinar Harapan.
Kisah yang tak kalah menarik ditulis dalam bab VIII, Bisuk dan keluarganya akhirnya membiayai sendiri seluruh ongkos perundingan RI-Jepang selama 3 tahun, 1972-1975. Padahal perundingan itu dilakukan di Jakarta dengan pihak Jepang dengan jumlah delegasi yang lumayan banyak. "Semua biaya itu seakan tak ada arti mengingat Jepang akhirnya setuju dan membiayai proyek ini menjadi Proyek Persahabatan Indonesia-Jepang dan resmi ditandatangani 7 Juli 1975 dalam rangkaian kunjungan Presiden Soeharto ke Jepang. Proyek ini akhirnya bisa rampung dalam kurun waktu 1978-1983.
Sementara PT Indonesia Asahan Alumnium (Inalum) yang dibangun dengan modal 411 miliar Yen atau sekitar 4,2 miliar dollar AS merupakan investasi asing terbesar ketika itu. Sesuai perjanjian, investor akan menyerahkan kepemilikan PT Inalum ke Pemerintah Indonesia pada 2013. Empat tahun lagi, Indonesia akan mendapat devisa sekitar 750 juta dollar AS pertahun. "Setelah menjadi milik Pemerintah Indonesia, PT Inalum diharapkan membawa dampak kemakmuran bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Sumatera Utara," harap Bisuk, Alumnus Tehnik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) 1960.