Alexa Analytics
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Saran Psikolog untuk Orang Tua Agar Anak Tidak Anarkistis

Senin, 12 Oktober 2020 – 06:41 WIB
Saran Psikolog untuk Orang Tua Agar Anak Tidak Anarkistis - JPNN.COM
Ilustrasi tawuran. Foto: dok. JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Psikolog Oriza Sativa memberikan saran kepada orang tua untuk mencegah anak (remaja) agar tidak terjerumus ke hal-hal yang anarkis.

Menurutnya, orang tua harus memberikan nilai hidup yang lebih terhadap anak. Sebab, zaman makin maju, nilai hidup juga makin tinggi.

Alumnus Universitas Katolik Soegijapranata itu menekankan bahwa, bukan pola asuh yang perlu diprioritaskan terhadap remaja tetapi nilai hidup.

"Kalau zamannya makin edan, nilai hidupnya makin kencang. Jangan makin kendor. Bukan pola asuhnya yang makin keras tetapi nilai hidupnya," ungkap Oriza saat berbincang dengan jpnn.com, Minggu (11/10) sore.

Psikolog Klinik Primaya Hospital Bekasi Barat itu mengatakan, keterbukaan melalui obrolan kepada anak lebih penting.

Sebab, menurut dia, anak butuh kebanggaan. Namun, jika tidak dilampiaskan anak akan melampiaskan ambisinya ke jurang yang salah.

"Harus begini, harus keterbukaan kalau ada apa-apa kita ngobrol. Kamu butuh apa, aktualisasi diri ayo. Kamu ngutak-ngatik motor. Ayah ada uang Rp.200 ribu. Ayo kamu bisa bikin apa. Kamu bisa bikin ayah bangga," katanya.

"Anak-anak ini kan butuh kebanggaan. Cuman dia enggak ada pelampiasan. Anak-anak yang ikut demo ambisinya salah. Intinya, kalau zamannya makin keras nilai hidupnya semakin banyak," ujarnya.

Selain itu, jelas dia, orang tua tidak boleh menyerah dalam mendidik anak. Pasalnya, makin maju perkembangan zaman, kehidupan dan permasalahan makin kompleks.

"Mental kita (orang tua) mendidik anak harus makin kuat. Kita harus terima, zaman makin maju, kehidupan makin kompleks, permasalahan juga makin kompleks. Entah itu masalah kita sebagai orang tua, ataupun masalah anak itu sendiri," jelasnya.

Menurut Oriza, jangan pernah menganggap anak bodoh. Sebab, anak-anak itu rumit, penuh dengan tekanan seperti orang dewasa.

Kata dia, memang anak zaman sekarang susah dikendalikan karena terppaar dengan internet

"Kita sebagai orang tua harus mengetahui isi otak anak. Artinya strategi dalam mendidik anak diperhatikan lebih. Berusaha untuk berdialog dengan anak.Kalau mau anak nurut sama kita (orang tua) harus banyak dialog. Harus banyak cerita," katanya.

Namun, dia tak menampik banyak orang tua sekarang merasa sibuk dengan handphone sendiri.

"Akhirnya, kan banyak video di YouTube memperlihatkan anak-anak ketabrak sementara emaknya lagi main hp," katanya.

Dia menyarankan agar orang tua memperkuat nilai hidup anak. Kemudian, selalu diajak komunikasi apa keinginan anak sebenarnya.

Oriza menyakini, anak akan menuruti semua perkataan orang tua bila diajak komunikasi yang intens.

"Saran saya perkuat nilai hidup atau living of value. Diajak ngomong, menurut kamu demo apaan sih.. penting nggak. Diajak dialog dari hati ke hati sehingga mereka merasa dekat dengan kita. Sehingga apapun yang kita sampaikan dituruti," pungkas lulusan Universitas Katolik Soegijapranata itu. (mcr3/jpnn)

loading...