19 Negara Ikuti Kongres Konghucu ke-3 di Jakarta  

Kamis, 19 Oktober 2017 – 00:10 WIB
Para peserta kongres Konghucu sedunia di Jakarta. Foto: ist

jpnn.com, JAKARTA - Kongres Konghucu sedunia kembali digelar. Kali ini, Jakarta menjadi tuan rumah perhelatan akbar itu.

Setidaknya ada 19 negara yang mengirimkan ahli agama Konghucu untuk mengikuti kongres yang diselenggarakan selama dua hari, 17-18 Oktober 2017 di kawasan Bandengan, Jakarta Utara.

BACA JUGA: Diskusi Lintas Agama Diperlukan untuk Menghindari Konflik

Beberapa negara yang yang ikut andil dalam Kongres Konghucu ke-3 diantaranya Amerika Serikat, Costarika, Australia, Inggris, Italia, Jerman, Mesir, Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Malaysia serta Brunei Darussalam.

Menurut Uung Sendana, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), memanasnya pemikiran ekstrem tengah melanda di berbagai belahan dunia.

BACA JUGA: Bertemu Jokowi di Istana, Matakin Dukung Penguatan Pancasila

”Sekarang ini pemikiran dunia yang ekstrem sedang sangat berkembang. Lihat saja di negeri ini banyak orang yang saling mencerca, mencela. Dan ini dibahas tuntas oleh kami. Yang ingin membawa perdamaian di seluruh negeri,”ujar Uung Sendana, Rabu (18/10).

”Sebelumnya kami mengadakan dialog dengan agama Islam dan Konghucu. Tentunya dengan tema kesejahteraan dan perdamaian.Hari ini kami konsentrasi untuk menyumbangkan pikiran untuk dunia menuju perdamaian,”sambung Uung.

Sementara itu, Alim sugiantoro peserta perwakilan dari Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, merasa bangga ikut ambil bagian dalam kegiatan khonghucu yang baru di Indonesia bisa dipercaya oleh penganut agama konghucu sedunia.

“Negara indonesia yang telah dipercaya dunia patut dibanggakan. karena kemajemukan dan bisa bersatu padu. Maka negara lain ikut merumuskan Kedamaian dunia lewat ajaran konghucu . Dan yg terpenting semua menuju saling menghormati dan menghargai tentang perbedaan agama untuk menuju keadilan kemakmuran negara dan rakyatnya,” jelasnya.

Alim menambahkan, dialog lintas agama memang perlu dilakukan untuk menjaga perdamaian. ”Karena dengan seringnya berdiskusi dan bertemu, mungkin masalah bisa kecil. Sepertu kasus patung dewa di Tuban, itu sebenarnya tidak ada masalah apa-apa tapi jadi ramai,” tandasnya.(mg7/jpnn)


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler