2,9 Juta Guru PNS dan Honorer Tak Berkualitas, Bikin Siswa Stres

Jumat, 01 Mei 2020 – 13:07 WIB
Pengamat dan Praktisi Pendidikan Indra Charismiadji. Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Instruksi pemerintah agar para siswa belajar dari rumah selama masa pandemi virus corona, mulai menunjukkan dampak negatif.

Banyak anak yang stres karena tidak nyaman belajar daring.

BACA JUGA: Mutasi Polri: Sejumlah Kapolda Diganti, Boy Rafli Naik Posisi, Ini Daftar Lengkapnya

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menyodorkan fakta ada ratusan pengaduan yang masuk baik dari orang tua maupun siswa.

Semuanya mengeluhkan metode pembelajaran yang bikin anak stres lantaran banyaknya tugas dari guru.

BACA JUGA: Guru Honorer Wajib Tahu Hasil Rakornas KPAI, Menag, Plt Dirjen Dikdasmen

Kondisi tersebut menurut Pengamat dan Praktisi Pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji bisa terjadi karena mayoritas guru di Indonesia tidak berkualitas.

Baik guru PNS maupun honorer, hanya terfokus pada capaian kurikulum. Tidak memikirkan siswa itu nyaman atau malah stres.

BACA JUGA: Indra: Enak Dosen dan Guru PNS, Tidur-tiduran Tetap Digaji

"Guru-guru kita itu kualitasnya rendah. Hanya 2,5 persen dari 3 juta guru yang berkualitas. Sisanya 2,9 jutaan tidak bisa mengajar dengan baik," kata Indra kepada JPNN.com, Jumat (1/5).

Indra Charismiadji menegaskan, rendahnya kualitas guru terlihat jelas saat ini.

Terbukti dengan banyaknya siswa yang tidak siap belajar daring. Siswa tidak enjoy belajar dan semakin jenuh.

Kondisi ini, kata Indra, harusnya tidak terjadi bila gurunya berkualitas.

Kualitas guru dilihat dari inovasi dan bagaimana cara dia siap mengajari siswa di segala situasi. Baik kondisi normal maupun abnormal.

"Di masa pandemi, sekarang terbuka semua kan ya, guru-guru kita kompetensinya rendah terutama dalam penguasaan teknologi. Hanya 2,5 persen yang tidak gagap teknologi. Selebihnya gaptek alias gagap teknologi," ucapnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah dana yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam meningkatkan kualitas gurunya.

Ditambah lagi dengan masuknya mata pelajaran Teknologi Informasi dalam kurikulum meski hanya sebagai pilihan.

"Gemes saya lihat kualitas guru kita. Sudah dikasih pelatihan, tunjangan sertifikasi guru, masih banyak yang gaptek. Ini loh datanya enggak bisa nipu, kelompok yang enggak gaptek itu hanya 2,5 persen. Yang gaptek 97,5 persen loh. Lantas anggaran miliaran hingga triliunan yang sudah dikasi untuk apa kalau gurunya masih gaptek juga," terang Indra.

Rendahnya penguasaan teknologi ini, lanjutnya, karena pelatihannya tidak berpola dan kualitas pelatihnya juga sangat dipertanyakan. Alhasil dana negara hanya terbuang percuma tanpa hasil yang sesuai diharapkan.

"Yang utama kan gurunya. Kalau gurunya hebat, dia dengan mudah bisa mentransfer ilmunya ke siswa,. Siswa juga tidak stes dan jenuh," tandas Indra. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler