4 Jenis Sayuran yang Ramah untuk Penderita Diabetes, Bikin Gula Darah Stabil

Jumat, 28 Oktober 2022 – 14:45 WIB
Ilustrasi brokoli. Foto: Laman Cheat Sheet

jpnn.com, JAKARTA - SAAT ini, diabetes merupakan salah satu penyakit yang bisa menyerang siapa saja, bahkan anak-anak.

Penderita diabetes harus selalu menjaga kadar gula darah mereka selalu stabil.

BACA JUGA: 5 Sayuran Ini Musuh Besar Penderita Diabetes, Bikin Gula Darah Naik Drastis

Hal ini karena diabetes terjadi akibat meningkatnya kadar gula darah dalam tubuh.

Gula darah yang meningkat drastis ini jika tidak segera diturunkan bisa mengakibatkan beberapa komplikasi.

BACA JUGA: 6 Buah Sehat dan Lezat yang Ampuh Turunkan Gula Darah dengan Cepat

Penderita diabetes memang tidak bisa lagi mengonsumsi beberapa makanan begitu saja akibat kandungan gulanya yang tinggi.

Namun, ada beberapa sayuran yang ramah untuk penderita diabetes.

BACA JUGA: 7 Efek Samping Minum Air Kelapa Berlebihan, Bikin Penderita Diabetes Resah

Berikut ini penjelasannya, seperti dilansir laman Genpi.co.

1. Brokoli

Sayuran ini ini mengandung sulforaphane, yakni jenis isothiocyanate yang memiliki sifat penurun gula darah.

Sulforaphane dihasilkan ketika brokoli dicincang atau dikunyah karena reaksi antara senyawa glukosinolat yang disebut glukoraphanin dan enzim myrosinase.

Keduanya terkonsentrasi di brokoli. Penelitian atas hewan dan manusia menunjukkan, ekstrak brokoli kaya sulforaphane memiliki efek antidiabetes yang kuat.

Ini bisa membantu meningkatkan sensitivitas insulin, dan mengurangi gula darah dan penanda stres oksidatif.

Sementara kecambah brokoli adalah sumber glukosinolat terkonsentrasi.

Ini terbukti membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi kadar gula darah pada orang dengan diabetes tipe 2.

Cara terbaik untuk meningkatkan ketersediaan sulforaphane adalah dengan menikmati brokoli dan kecambah brokoli mentah atau dikukus ringan.

2. Kale

Kale sering digambarkan sebagai makanan super, dikemas dengan senyawa yang bisa membantu menurunkan kadar gula darah, termasuk serat dan antioksidan flavonoid.

Sebuah penelitian yang melibatkan 42 orang dewasa Jepang menunjukkan, mengonsumsi 7 atau 14 gram makanan yang mengandung kale dengan makanan berkarbohidrat tinggi secara signifikan menurunkan kadar gula darah.

Penelitian juga memperlihatkan, antioksidan flavonoid yang ditemukan dalam kale, termasuk quercetin dan kaempferol, memiliki efek penurun gula darah dan sensitivitas insulin yang kuat.

3. Labu dan biji labu

Berwarna cerah dan dikemas dengan serat dan antioksidan, labu adalah pilihan tepat untuk pengaturan gula darah.

Faktanya, labu digunakan sebagai obat diabetes tradisional di banyak negara, seperti Meksiko dan Iran.

Labu kaya akan karbohidrat yang disebut polisakarida, yang telah dipelajari potensinya dalam mengatur gula darah.

Perawatan dengan ekstrak dan bubuk labu telah terbukti secara signifikan menurunkan kadar gula darah pada penelitian pada manusia dan hewan.

Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan bagaimana labu utuh, seperti saat dipanggang atau dikukus, bisa bermanfaat untuk menurunkan gula darah.

Sementara biji labu dikemas dengan lemak dan protein sehat, menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk mengontrol gula darah juga.

Sebuah studi pada 2018 terhadap 40 orang menemukan, mengonsumsi 2 ons atau 65 gram biji labu mengurangi gula darah pasca makan hingga 35 persendibandingkan dengan kelompok kontrol.

4. Okra

Okra adalah adalah sumber yang kaya akan senyawa penurun gula darah, seperti polisakarida dan antioksidan flavonoid.

Di Turki, biji okra telah lama digunakan sebagai obat alami untuk mengobati diabetes karena sifat penurun gula darahnya yang kuat.

Rhamnogalakturonan, polisakarida utama dalam okra, telah diidentifikasi sebagai senyawa antidiabetes yang kuat.

Plus, okra mengandung isoquercitrin flavonoid dan quercetin 3-O-gentiobioside, yang membantu mengurangi gula darah dengan menghambat enzim tertentu.

Meskipun penelitian pada hewan menunjukkan okra memiliki sifat antidiabetes yang kuat, penelitian pada manusia diperlukan.(genpi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fany Elisa

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler