422 Desa Siaga Bencana Kekeringan

Rabu, 25 April 2018 – 14:56 WIB
Ancaman kekeringan mulai menghantui masyarakat Gresik. FOTO : Jawa Pos

jpnn.com, SURABAYA - Pergantian musim dari hujan ke kemarau tidak membuat Jatim langsung lepas dari potensi bencana kekeringan.

Dalam beberapa bulan ke depan, diperkirakan ratusan desa kehabisan air bersih dan memerlukan penanganan terpadu.

BACA JUGA: Ancaman Kekeringan Diprediksi Datang Lebih Cepat

Terutama desa yang sama sekali tidak memiliki potensi sumber air tanah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim telah melakukan pemetaan awal kawasan yang potensial mengalami kekeringan.

BACA JUGA: Air dari Langit Bangkitkan Harapan Warga Cape Town

Jumlahnya 422 desa yang tersebar di 23 kabupaten. ''Kebanyakan di Pulau Madura,'' terang Kasubag Program dan Perencanaan BPBD Jatim Bambang Munarto saat ditemui di kantor BPBD Jatim di Sidoarjo.

Sekitar seperempat dari total desa yang potensial mengalami kekeringan tersebar di empat kabupaten di Madura. Mulai Bangkalan (25), Sampang (37), hingga Pamekasan (32).

BACA JUGA: Padang Dilanda Kekeringan, Petani Terancam Gagal Panen

Sementara itu, di Kabupaten Sumenep, diperkirakan ada 30 desa yang dilanda kekeringan. Termasuk kawasan kepulauan di timur Madura.

Kawasan lainnya yang bakal dilanda kekeringan adalah Tapal Kuda dan Mataraman.

Mulai Situbondo, Bondowoso, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, hingga Bojonegoro.

''Rata-rata, kawasan yang kekeringan di daerah itu adalah desa yang berada di perbukitan,'' lanjut Bambang. Kawasan perbukitan hampir tidak punya persediaan air tanah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Pulau Jawa terjadi pada Agustus dan September mendatang.

Sementara itu, mulai Mei, curah hujan di Jawa Timur bakal menurun. Bahkan, di Ngawi dan sekitarnya, curah hujan pada Juli mendatang sangat rendah, di bawah 20 mm.

Bambang menjelaskan, BPBD dan Pemprov Jatim telah menyiapkan sejumlah rencana aksi untuk mencegah maupun menanggulangi kekeringan.

Dari 422 desa, yang masih memiliki potensi air ada 223. ''Tahun ini 126 desa di antaranya bakal 'sembuh' karena dibuatkan sumur bor,'' urainya. Sementara itu, 97 desa sisanya baru dibuatkan sumur tahun depan.

Selebihnya, ada 199 desa yang sama sekali tidak memiliki potensi air tanah. ''Solusinya, kami akan dropping air menggunakan truk tangki,'' tutur Bambang.

Dropping air itu juga akan dilakukan di desa yang belum dibuatkan sumur bor.

Tidak hanya dropping air, desa-desa tersebut juga diberi tandon penampungan air bersih. Total anggaran yang disiapkan Rp 5 miliar selama 45 hari. Termasuk penyediaan tandon.

Cara itu akan dilakukan sampai pemerintah pusat turun tangan untuk membantu.

Sebab, Pemprov Jatim sudah menyatakan angkat tangan mengatasi krisis air di 199 desa tersebut.

''Kami akan minta bantuan Kementerian PUPR untuk menyedot air ke desa-desa yang sulit itu,'' ujar Gubernur Jatim Soekarwo.

Air akan diambilkan dari kecamatan atau kabupaten terdekat dari lokasi desa kekeringan.

Kendalanya, selama ini tidak sedikit daerah yang pelit untuk berbagi air.

''Boleh ambil air, tapi tidak boleh disambung pakai pipa. Harus manual pakai jeriken,'' keluh Bambang. (byu/c19/end/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Turun Hujan, 17 Wilayah Tetap Alami Kekeringan


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler