50 Persen Obat Tradisional yang Dijual Online Adalah Palsu

Senin, 14 Desember 2015 – 02:53 WIB
Ilustrasi. FOTO: dok/jpnn.com

jpnn.com - SURABAYA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus memelototi penjualan obat tradisonal terutama melaui sistem online. Pasalnya, BPOM menemukan 50 persen obat dan kosmetik yang dijual secara  online adalah palsu.

“Saat ini kami sedang mengarah kepada cyber crime,” ujar Kepala BPOM Pusat Roy Sparringa.

BACA JUGA: Parah, Ternyata Mayoritas Temuan Jamu Dicampur Bahan Kimia

Roy menambahkan, memang pengawasan terhadap peredaran obat tradisional sedang digiatkan. Bahkan operasi khusus sedang menjadi perhatiannya. Angka pelanggaran yang terjadi terus meningkat dari tahun ke tahun. 

“Kami akan lakukan lebih terhadap pengetatan pengawasan obat tradisional secara online ini,” jelasnya.

BACA JUGA: Empat Hari Hilang, Manajer Operasional Tewas di Tabung BBM

Pihak BPOM pusat telah menutup ratusan situs yang menjual obat dan kosmetik palsu. Palsu artinya, selain menjiplak nama dagang obat yang telah ada, juga obat dan kosmetik yang tidak memiliki izin produksi dan izin edarnya. Tak hanya itu, kandungan bahannya juga membahayakan. Lantaran, campuran bahan kimia yang tidak sesuai takaran dapat menimbulkan banyak penyakit.

Sedangkan di BBPOM Surabaya juga sedang melakukan peningkatan pengawasan peredaran kosmetik dan obat yang dijual secara online. Temuannya di lapangan, 50 persen kosmetik adalah palsu. Sedangkan untuk obat, presentasenya lebih rendah. 

BACA JUGA: Kisah Istri Bos Pusat Perbelanjaan, Awalnya Bergelimang Harta, Lama-lama Bak Pembantu

“Angkanya sekitar 20 persen obat palsu yang beredar di internet,” ujar Kepala Seksi Penyidikan Siti Amanah ketika dihubungi kemarin (13/12).

Berbagai usaha telah dilakukan oleh pihak penyidik BBPOM. Salah satunya dengan menutup situs penjualan obat dan kosmetik palsu. Bahkan, penggerebakan juga dilakukan terhadap toko atau rumah yang diduga menjual obat palsu. 

“Hasil penyelidikan, kemudian kami tindak lanjuti dengan menggerebek tempat tersebut,” paparnya.

Amanah melanjutkan, untuk menemukan tempat distributor penjual obat dan kosmetik palsu diakuinya tidak gampang. Selama ini temuan di lapangan, penjualnya didominasi oleh toko pinggir jalan. Seperti toko jamu kuat atau toko kelontong kecil-kecil. 

“Kesulitan yang kami hadapi. Biasanya sampai di lokasi yang dicurigai, barangnya tidak ada,” urainya.

Sebenarnya tidak hanya berupa toko. Setelah dilakukan penyidikan, mereka menggunakan perkumpulan untuk menutupi jualan obat dan kosmetik palsu tersebut. “Perkumpulan pengajian tersebut digunakan sebagai kedok saja,” jelasnya.

Selain itu, Amanah mendapat informasi mengenai keberadaan obat palsu. Kali ini tidak mendapatkan secara online, dia langsung terjun ke lapangan untuk mengecek secara langsung di sebuah klinik di Surabaya. “Namun lagi-lagi hasilnya sama. Barang tersebut didatangkan dari Jakarta,” bebernya.

Setelah didalami, ternyata kebanyakan obat palsu yang dijual secara online tersebut kiriman dari luar kota. Amanah, menceritakan seperti penyelidikan yang dilakukan di Malang. Setelah menemukan obat tersebut, penyidik pegawai negeri sipil langsung menuju ke lokasi yang dimaksud. “Ketika sampai di sana, ternyata hanya perantara,” terangnya.

Amanah mengungkapkan, para penjual obat palsu mengaku mendapatkan barang langsung dari Jakarta dan sekitarnya. Mereka tidak mendapatkan melalui distributor. Mereka order setelah ada pemesan yang membeli produknya. “Pembayarannya, ya ke penjual ini,” paparnya.

Amanah menjelaskan, obat palsu biasanya kemasan tidak sama dengan isinya. Dia mencotohkan, sebuah obat sakit kepala dengan merk dagang tertentu. Setelah dibuka, kapsul yang ada di dalamnya ternyata tidak sama. Dalam artian, produsennya berbeda dengan kemasannya. “Ada juga yang ketika dibuka sulit. Padahal obat aslinya itu lebih mudah saat akan mengeluarkan pil,” tuturnya. (*/no)

BACA ARTIKEL LAINNYA... DPP PPP Ternyata tak Pernah Rekomendasi Ujang-Jawawi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler