57 Persen Remaja Berhubungan Seks

Usul Pendidikan Seks Masuk Kurikulum Pendidikan

Sabtu, 07 September 2013 – 12:52 WIB

jpnn.com - BANDUNG -- Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Barat meminta agar pendidikan kesehatan reproduksi (Kepro) dimasukan kedalam kurikulum di setiap sekolah. Pasalnya, merujuk kepada data survei BKKBN 2008 lalu, 57 persen remaja Kota Bandung usia 15-24 tahun telah melakukan hubungan seks di luar nikah.

Dikatakan Ketua Pengurus Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Barat, Dr Chairul Amri, saat ini kesehatan reproduksi sangat tabu dibicarakan dari kalangan remaja hingga dewasa.

BACA JUGA: Isi Buku Kurikulum 2013 Bermasalah

Namun begitu berkaca pada fenomena saat ini, Chairul berpendapat alangkah baiknya pendidikan mengenai kesehatan reproduksi ini masuk dalam kurikulum di setiap sekolah. Minimal, lanjut dia, pendidikan tersebut diselipkan di pelajaran biologi.

"Mudah-mudahan dengan diselipkannya pelajaran tersebut bisa mengubah pemikiran anak remaja. Intinya, kita berusaha untuk menjaga. Contohnya, kita menyampaikan ke anak suruh jaga idung jangan sampai idung kamu itu rusak," kata Chairul yang ditemui usai Diskusi Media Peringatan Internasional Youth Day 2013 di Jalan Burangrang, kemarin (6/9).

BACA JUGA: Menag Disebut tak Serius Tuntaskan Anggaran Sertifikasi Guru

Adapun untuk merealisasikan program tersebut, pihaknya mendapat tanggapan positif dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengenai adanya sekolah sehat. Bahkan rencananya tahun ini program tersebut sudah bisa berjalan dan mendapatkan akreditasi.

"Baru tahun ini dan tidak hanya di Jawa Barat, tapi di seluruh Indonesia. Setiap sekolah dimasukin pendidikan kesehatan reproduksi," tegas dia.

BACA JUGA: Mahasiswa Indonesia Runner Up Kompetisi Supply

Mengenai tenaga pengajar, Chairul mengaku sudah menyiapkan tenaga pengajar untuk membimbing siswa serta guru untuk memberikan pengetahuan khusus tentang kesehatan reproduksi. Ia mengklaim, pihaknya sudah melatih guru di sekolah melalui guru-guru pembimbing.

"Tapi intinya, kebijakan tetap ada di Kepala Sekolah. Banyak kepala sekolah yang tidak mau disusupi pelajaran tersebut. Tapi kami mencoba menyampaikannya secara perlahan," ujarnya.

Untuk pendidikan reproduksi ini, Chairul mengaku masih banyak masyarakat yang tidak tahu.  Cara penyampaian pendidikan tersebut jelas berbeda antara penyampaian ke orang dewasa remaja serta anak-anak.

"Di sini kita punya modulnya. Bagi remaja sekolah pengajarannya pun berbeda dengan kampus," pungkasnya. (fan)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Siswi Diminta Ukuran Payudara, Sekolah Dianggap Keterlaluan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler