60 Persen Pelaku UKM Mengalami Pencurian Informasi, Solusinya Bagaimana?

Minggu, 24 Oktober 2021 – 12:31 WIB
Ilustrasi kejahatan siber. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Hasil studi terbaru dari Cisco memperlihatkan banyak pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia mengalami pencurian informasi pelanggan.

Persentasenya bahkan mencapai hingga 60 persen.

BACA JUGA: Gempa Bumi Lagi, Terbaru di Bengkulu, Sebelumnya Sejumlah Wilayah di Jateng

Studi tersebut juga menyebut 33 persen UKM di Indonesia mengalami insiden siber dalam setahun terakhir.

"Ketika UKM menjadi lebih digital, maka mereka menjadi target yang lebih menarik bagi pelaku kejahatan, karena bisnis digital menyebabkan terbukanya banyak informasi yang bisa menjadi sasaran empuk bagi peretas," ujar Direktur Cisco Indonesia Marina Kacaribu, Minggu (24/10).

BACA JUGA: Kopi Dari 3 Daerah ini Paling Top, Juara di Ajang KKSI 2021

Menurut Marina, UKM yang sudah mengadopsi teknologi digital menghasilkan lebih banyak data, di mana data-data tersebut sangat berharga bagi pelaku kejahatan.

"Hal-hal ini yang mendorong UKM berinvestasi pada solusi dan kemampuan untuk memastikan mereka dapat menjaga bisnis mereka di bidang keamanan siber," imbuhnya.

BACA JUGA: Menteri ini Sebut Afganistan Sedang Menuju Keruntuhan

Hampir 29 persen UKM Indonesia yang mengalami serangan siber melihat bahwa alasan utama karena solusi keamanan siber yang dianggap tidak memadai untuk mendeteksi atau mencegah serangan.

Sementara itu, 21 persen menyebut alasan utama terjadinya serangan adalah tidak adanya solusi keamanan siber.

Selain kehilangan data pelanggan, UKM di Indonesia yang mengalami insiden siber juga kehilangan data karyawan (63 persen), email internal (62 persen), informasi bisnis yang sensitif (60 persen), informasi keuangan (54 persen), dan kekayaan intelektual (54 persen).

Hanya 17 persen responden di Indonesia yang mengatakan mereka dapat mendeteksi insiden siber dalam waktu satu jam.

Jumlah responden yang mampu memulihkan insiden siber dalam waktu satu jam, bahkan lebih sedikit yaitu 12 persen.

"UKM harus bisa mendeteksi, menyelidiki, dan memblokir atau memulihkan sendiri insiden siber yang terjadi, dalam waktu sesingkat mungkin," ujar Director Cybersecurity, Cisco ASEAN, Juan Huat Koo.

"Untuk dapat melakukan itu, mereka membutuhkan solusi yang mudah diterapkan dan digunakan, terintegrasi dengan baik satu sama lain, dan dapat membantu mereka mengotomatisasi kemampuan seperti deteksi, pemblokiran, dan perbaikan insiden siber," imbuhnya.

Koo menambahkan, mereka juga membutuhkan visibilitas yang jelas di seluruh basis pengguna dan infrastruktur IT mereka, termasuk cloud dan penerapan ‘as a service', dan mengambil pendekatan platform untuk keamanan siber.

Studi Cisco menemukan, meski UKM di Indonesia khawatir tentang risiko dan tantangan itu, mereka juga mengambil pendekatan terencana untuk memahami dan meningkatkan kekuatan keamanan siber melalui inisiatif strategis.

Menurut studi tersebut, 84 persen UKM Indonesia dalam 12 bulan terakhir telah melakukan perencanaan skenario atau simulasi untuk mewaspadai insiden keamanan siber.

UKM juga makin mengerti dari mana datangnya ancaman siber terbesar.

Penelitian menunjukkan bahwa phishing (44 persen) dipandang sebagai ancaman utama oleh UKM di Indonesia.

Ancaman teratas lainnya terhadap keamanan keseluruhan termasuk serangan yang ditargetkan oleh pelaku kejahatan (23 persen) dan laptop yang tidak aman (15 persen).

Kabar baiknya, UKM saat ini telah memiliki tingkat investasi yang kuat dalam keamanan siber.

Studi menunjukkan 74 persen UKM Indonesia telah meningkatkan investasi mereka dalam solusi keamanan siber sejak awal pandemi, dengan 38 persen di antaranya menunjukkan peningkatan lebih dari 5 persen.(Antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler