64 Persen Pasien Jantung Koroner adalah Perokok

Minggu, 30 September 2018 – 05:57 WIB
Pasien pengguna BPJS Kesehatan sedang menjalani perawatan di Kelas III di salah satu Rumah Sakit Pemerintah di Kab Takalar beberapa waktu lalu. Foto: TAWAKKAL/FAJAR/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Berdasarkan Sample Registration System (SRS) Indonesia tahun 2014, Penyakit Jantung Koroner (PJK) masih menjadi pembunuh nomor 2 setelah stroke dengan prosentase 12,9 persen dari seluruh penyebab kematian tertinggi di indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali mengingatkan akan rIsiko PJK. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular Kemenkes Cut Putri Arianie mengungkapkan bahwa berdasar data dari BPJS Kesehatan, beban biaya PJK setiap tahunnya terus meningkat.

BACA JUGA: Sering Marah Bisa Picu Kolesterol Tinggi?

Ini terlihat dari tren tahun 2014 dimana ada total Rp 4,4 Triliun total jumlah biaya yang ditagihkan ke BPJS untuk kelompok penyakit PJK. Pada tahun 2016, jumlah ini meroket ke angka Rp 7,4 triliun. “Ada peningkatan biaya kesehatan untuk PJK sebesar 68,2 persen,” kata Putri di Kemenkes, Jumat (28/9).

Tren penderita PJK di indonesia mau tidak mau terus meningkat. Untuk mengatasi hal ini, kata Putri sebenarnya pemerintah sudah melakukan berbagai kampanye dengan instruksi presiden (inpres) nomor 1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

BACA JUGA: Kebiasaan Makan Ini Meningkatkan Risiko Stroke

Beberapa cara yang dilakukan oleh Kemenkes kata Putri adalah membentuk posko-posko pengecekan di kantor-kantor pemerintahan dan institusi-institusi yang memiliki banyak karyawan. “Di posko-posko itu bisa screening tingkat gula darah, kolesterol dan periksa kesehatan jantung,” kata Putri.

Selain itu, di beberapa Kementerian juga telah dilakukan kegiatan olahraga rutin setiap minggunya. Kebanyakan hari Jumat. Untuk di daerah, kata Putri, Kemenkes menyerahkan programnya ke masing-masing dinas kesehatan.

BACA JUGA: Dicoba ke Binatang, Obat Ini Bantu Otak Pulih Pascastroke

Ahli Jantung dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) Bambang Dwi Putra mengungkapkan di pusat kesehatan jantung, terdapat catatan bahwa dari 4.500 pasien jantung terbaru dalam beberapa tahun terakhir, mayoritas berusia 55 tahun. Usia yang masih relatif muda. “Ada 5,4 persen diantaranya berusia dibawah 40 tahun,” kata Bambang.

Mayoritas pasien jantung baru atau sekitar 80 persennya adalah laki-laki, 64 persennya adalah perokok. Bambang menyebut rokok masih menjadi salah satu penyebab utama semakin memburuknya kondisi jantung. “Apalagi Indonesia ini adalah populasi laki-laki perokok terbesar di Asia Tenggara,” sebutnya.

Bambang menyebut, tren penderita PJK semakin memburuk karena pola hidup, terutama warga sekitar Jabodetabek yang tidak memungkinkan olahraga rutin dan aktifitas fisik lainnya.

Padahal, aktivitas fisik sangat penting untuk menjaga kesehatan jantung. “Apalagi konsumsi gula dan asupan kolesterol yang terus menerus,” jelasnya.

Untuk terhindar dari PJK, kata Bambang, sesorang harus rutin mengecek kadar kolesterol dan gula darah. Kemudian rajin berolahraga serta pandai mengelola stress.

“Mengutip dari pakar jantung dari Amerika Serikat, penyakit jantung di bawah usia 80 tahun itu murni kesalahan kita, bukan takdir Tuhan,” jelasnya.(tau)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Spesialis Bedah Saraf RSCM soal Metode DSA Dokter Terawan


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler