804 Warga Dievakuasi, 4 Meninggal saat Diisolasi KKB

Selasa, 21 November 2017 – 00:12 WIB
Personel Brimob mengawal evakuasi warga dari Tembagapura ke Timika, Senin (20/11) kemarin. Foto: IST HUMAS POLDA PAPUA FOR RADAR TIMIKA

jpnn.com, MIMIKA - Sebanyak 804 orang warga dari 4 kampung yang berada di daerah konflik di Distrik Tembagapura, dievakuasi ke Kota Timika, Kabupaten Mimika, Papua.

Evakuasi ini dilakukan untuk menghindari korban jiwa di daerah tersebut. Yakni Kampung Utikini, Kimbeli, Banti 1, dan Banti 2, yang sebelumnya dikuasai kelompok kriminal bersenjata (KKB).

BACA JUGA: KKB Berencana Deklarasi Perang Besar-besaran

Dari pantauan yang dilakukan oleh Radar Timika, sebanyak 11 bus digunakan untuk mengangkut sebanyak 804 warga asli Papua.

Mereka dikumpulkan dan didata di Pusat Posko Evakuasi Khusus Orang Asli Papua, yang berada di Gedung Eme Neme Yauware, Senin (20/11) kemarin.

BACA JUGA: TNI Sudah Tahu Strategi KKB Setelah Kocar-kacir, Begini

Dari data yang dihimpun oleh Radar Timika (Jawa Pos Group), terdapat 6 orang warga yang diangkut menggunakan Mobil Satgas ke Hospital International SOS Mile 68 Tembagapura, dikarenakan kondisi mereka yang sedang sakit.

Tiba di Gedung Eme Neme Yauware, para warga langsung diarahkan untuk masuk ke dalam gedung untuk kembali dilakukan pendataan ulang, sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran data.

BACA JUGA: Jenderal Gatot Pastikan Pasukan TNI-Polri Masih Memburu KKB

Dalam evakuasi ini sendiri, ada 2 orang warga yang dibawa ke RSUD Mimika karenakan sakit.

Kemudian ada beberapa warga yang dirawat di dalam tenda kesehatan oleh para tenaga medis, yang berasal dari beberapa instansi kesehatan.

Assisten 2 Setda Mimika, Drs Marthen Paiding mengatakan, pemerintah Daerah Kabupaten Mimika sudah menyiapkan seluruh keperluan dari para pengungsi ini.

Mulai dari dapur umum, untuk keperluan makan dan minum. Kemudian dari segi kesehatan, pihak Pemda juga sudah menyiapkan tenda khusus kesehatan terdapat tenaga kesehatan dari RSUD, Puskesmas, dan RSMM.

"Jadi kita proses pendataan dulu, kemungkinan sampai tengah malam. Kemudian untuk makanan kami dari Pemda sudah ada dapur umum, kemudian kesehatan kami juga sudah siapkan," ungkapnya.

Pemda Kabupaten Mimika juga menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan bagi anak-anak warga 4 kampung yang dievakuasi. Anak-anak untuk sementara dititpkan di sekolah-sekolah negeri yang ada di Kabupaten Mimika.

"Selain makanan, kami juga rencananya akan menyiapkan sarana pendidikan juga. Karena guru-guru mereka juga ikut turun, dan nanti kemungkinan akan kami titipkan juga di sekolah-sekolah negeri yang ada di Kota Timika," katanya.

Ditanya soal kemungkinan warga pengungsi ini akan bertahan, Marthen mengungkapkan, dirinya tidak bisa menjawab dan belum tahu sampai kapan mereka akan ditampung di Graha Eme Neme Yauware.

"Soal sampai kapannya belum tahu, tapi yang penting sarana dan prasarana siap," ujarnya.

Kapolda Papua, Irjen Pol Drs Boy Rafli Amar, dalam konferensi pers yang dilakukan di Rimba Papua Hotel, Senin (20/11), menjelaskan, evakuasi dilakukan karena masalah layanan kesehatan dan pendidikan di lokasi sangat buruk, juga bahan makanan.

"Jadi ada beberapa alasan yang kenapa kami mengevakuasi atau merelokasi para warga asli ini," ungkapnya.

Sementara itu, beberapa anak dan orang dewasa meninggal, karena kurangnya pelayanan kesehatan yang ada di Kampung Utikini, Kimbeli, Banti 1 dan Banti 2, yang termasuk dalam daerah konflik.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Suku, Amanial Waker, saat ditemui wartawan di Graha Eme Neme Yauware, Senin (20/11) kemarin.

Jumlah orang yang meninggal dunia ada sebanyak 4 orang, yang terdiri dari 2 orang anak-anak dan 2 orang dewasa.

Ia menambahkan, meninggalnya para warga tersebut menurutnya disebabkan oleh kelaparan, sakit, dan juga tekanan psikologis.

"Yang meninggal itu karena kelaparan, sakit, terus mereka kan juga pikiran-pikiran. Jadi semacam itulah akhirnya sakit dan meninggal," katanya.

Dia juga mengkhawatirkan jasad-jasad yang telah dikubur, karena hanya dikuburkan di belakang rumah, bukan di pemakaman yang layak.

"Kita kubur itu di belakang rumah, dan bisa juga babi angkat, karena bukan di pemakaman yang seharusnya," ujarnya.

Amanial menambahkan, selain ada yang meninggal dunia, menurutnya masih banyak orang yang tinggal di kampung-kampung. Hal ini dikarenakan mereka mengurusi ternak mereka yang berada di sana sehingga enggan untuk dievakuasi. (eye)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 5 Perwira TNI Tolak Kenaikan Pangkat, Jenderal Gatot Terharu


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler