9 Fakta Oknum Brimob Kelapa Dua Jual Senjata ke KKB, Siapa Bosnya?

Selasa, 03 November 2020 – 07:44 WIB
Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw didampingi Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab saat beri keterangan pers terkait jual beli senpi ke KKB di Jayapura, Senin (2/11). Foto: ANTARA/Evarukdijati

jpnn.com, JAYAPURA - Polda Papua sudah menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus jual beli senjata api.

Berikut sejumlah fakta terkait kasus tersebut, berdasar keterangan Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw.

BACA JUGA: Oknum Brimob Kelapa Dua 7 Kali Jual Senjata ke Papua, Siapa Saja Terlibat? Mengejutkan

Pertama, melibatkan oknum anggota Brimob dari Kelapa Dua, Depok.

Jual beli senjata api melibatkan oknum anggota Brimob Kelapa Dua Bripka MJH (35), DC (39) yang merupakan ASN yang juga anggota Perbakin Nabire, dan FHS (39) mantan anggota TNI-AD.

BACA JUGA: Konon Anggota KKB di Papua Kejam dan Bertabiat Buruk, Famili Sendiri pun Dimusuhi

Para tersangka ditahan di Mapolda Papua, Jayapura.

Kedua, jenis senjata api.

BACA JUGA: Sidang Pinangki, Majelis Hakim: Kok Jadi Becanda, Terus Terang, Saya Tersinggung

Dari laporan penyidik terungkap kasus jual beli senjata api berbagai jenis dilakukan sejak 2017.

Penyidik menyita barang bukti tiga pucuk senpi yang diamankan yakni jenis M16, M4, dan Glock.

Ketiga, senpi yang dibawa dari Jakarta berdokumen lengkap.

Senpi tersebut dibawa melalui rute Jakarta-Makassar-Timika-Nabire dan setibanya di Nabire langsung diserahkan ke DC yang selanjutnya menyerahkannya ke pemesan.

"Senjata api yang dibawa Bripka MJH itu dilengkapi dokumen, sehingga tidak ada masalah saat diangkut dengan pesawat dari Jakarta hingga ke Nabire," kata Irjen Pol Waterpauw.

Keempat, harga senjata api yang dijual.

Senjata api itu dijual kepada pemesan melalui DC dengan harga berkisar Rp300 juta hingga Rp350 juta tergantung jenis.

Kelima, pemesan inisial SK.

Irjen Paulus Waterpauw menyebut pemesan senjata api yakni SK.

"Hingga kini SK belum ditemukan, sehingga penyidik belum bisa meminta keterangan dari yang bersangkutan," kata Waterpauw.

Keenam, besaran upah yang diterima oknum anggota Brimob.

Irjen Pol Waterpauw menjelaskan, dari hasil pemeriksaan juga terungkap anggota Polri yang bertugas di Brimob Kelapa Dua sudah tujuh kali membawa senjata api ke Nabire dengan upah berkisar dari Rp10 juta hingga Rp30 juta tergantung jenis senjata api yang dibawa.

Ketujuh, ada dugaan senjata dipakai Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB.

Senjata api yang dijual berkisar Rp 300 juta hingga Rp 350 juta itu diduga digunakan KKB untuk menembak warga sipil serta aparat keamanan.

Kapolda Papua mengakui, anggota di lapangan sudah lama memonitor adanya kasus jual beli senjata api ke KKB, mengingat saat ini aksi kelompok bersenjata khususnya di wilayah Intan Jaya makin meningkat hingga menimbulkan korban jiwa baik warga sipil maupun aparat keamanan .

Terungkap kasus tersebut setelah ada informasi masuknya dua pucuk senjata api jenis MI16 dan M4 yang masuk melalui Timika ke Nabire, sehingga dilakukan pendalamanan dan akhirnya terbongkar dengan diamankannya Bripka MJH dari sesaat setibanya di Nabire via Timika dan Makassar.

Kedelapan, siapa aktor intelektual penjualan senjata api ke Papua?

Kapolda Irjen Paulus Waterpauw menegaskan masih terus melakukan penyelidikan agar kasus tersebut makin terungkap.

"Kami akan terus berupaya untuk membongkar jaringan jual beli senpi dan berharap masyarakat membantu dengan memberikan informasi,” harap Waterpauw.

Kesembilan, tiga tersangka dijerat dengan Pasal 1 ayat 1 UU Darurat No 12 Tahun 1951. (antara/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler