Ada Antek ISIS Susupi #2019GantiPresiden untuk Bikin Chaos

Senin, 10 September 2018 – 23:03 WIB
Bendera kelompok Negara Islam Irak Suriah (ISIS). Foto: dokumen Jawa Pos

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) Adhe Bakti menduga pendukung khilafah dan simpatisan Negara Islam Irak Suriah (ISIS) menjadi pegiat di gerakan #2019GantiPresiden. Pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah itu mengatakan, pendukung khilafah dan simpatisan ISIS menunggangi #2019GantiPresiden bukan untuk pesta demokrasi namun demi kepentingan politik mereka.

Menurut Adhe, penumpang gelap #2019GantiPresiden memanfaatkan mekanisme demokrasi demi mengganti sistem menjadi khilafah. "Jadi bukan peduli pada esensi demokrasinya, tapi betul-betul take advantage pada momentum itu," ujarnya, Senin (10/9)

BACA JUGA: Sepertinya Pendukung Khilafah Menjiplak Pola di Suriah

Lebih lanjut Adhe menyodorkan contoh untuk memperkuat argumennya. Ada Abu Nusaibah yang dikenal sebagai pimpinan kelompok pro-ISIS di Bekasi yang ikut Aksi 411 pada 4 November 2016 untuk mendesak Basuki T Purnama alias Ahok diadili jelang Pilkada DKI 2017.

Namun, Adhe menduga Nusaibah tak peduli pada Pilkada DKI ataupun tuduhan Ahok menista agama. Sebab, tujuannya adalah membuat rusuh untuk menciptakan chaos menuju revolusi.

BACA JUGA: Indikasi HTI Tunggangi #2019GantiPresiden Sulit Dipungkiri

“Sebab jika terjadi revolusi, pergantian kekuasaan atau kerusuhan untuk itu hanya bisa dilakukan ketika mereka sudah bisa menguasai persenjataan. Inilah yang akan berbahaya jika gerakan ini dimanfaatkan oleh kelompok pro ISIS," beber Adhe.

Menurut Adhe, ISIS merupakan kelompok teroris berkedok agama. Dia menyebut penebar teror yang bermarkas di Irak dan Suriah itu membajak Islam untuk syahwat kekuasaanya.

BACA JUGA: Ada Elemen Membahayakan Negara di Gerakan #2019GantiPresiden

Akibatnya, wajah Islam menjadi buruk di mata dunia karena aksi-aksi ISIS yang dikenal brutal dan sadis. Ternyata ISIS melebarkan jaringannya, termasuk ke Indonesia sejak 2014.

Akhirnya di Indonesia ada Jemaah Ansharud Daulah (JAD) yang berbaiat ke ISIS. Para anggotanya pun terlibat serangkaian aksi kekerasan dan terorisme sejak 2014 seperti penembakan terhadap polisi, masyarakat umum, hingga pengeboman tempat ibadah melalui aksi bunuh diri. Dari mulai membunuh anggota polisi, masyarakat umum, tempat ibadah dan yang lainnya dengan cara aksi bom bunuh diri.

Bahkan, simpatisan ISIS pada Mei 2018 membuat kerusuhan di Rutan Mako Brimob dan menggorok salah satu anggota Polri dengan pecahan kaca. “Selepas itu, mereka melakukan penyerangan pada anggota polisi dengan cara aksi bom bunuh diri seperti terjadi di Surabaya," bebernya.

Karena itu Adhe menegaskan, ISIS adalah kelompok antidemokrasi. Karena antidemokrasi, maka anggota dan pendukung ISIS tak akan masuk bilik suara saat pemilu untuk mencoblos.

Adhe pun menilai maraknya aksi #2019GantiPresiden telah dimanfaatkan oleh kelompok itu demi mendapatkan momentum. "Bukan demi demokrasi itu sendiri, tapi untuk mencapai tujuan akhir mereka mengganti sistem yang ada di Indonesia saat ini," tegasnya.(jpg/ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Konon Cinta NKRI, PKS Merasa Dirugikan Spanduk Khilafah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler